Beda Aktivi(ta)s, Beda Prioritas - Araaita.net

Breaking News

Friday, 29 March 2019

Beda Aktivi(ta)s, Beda Prioritas

Ilustrasi Afis/Ara Aita

Oleh: Muhammad Afis 

Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membuat kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia. – Pramoedya Ananta Toer

Berbicara mahasiswa aktivis, barangkali sekarang adalah hal yang tabu bagi kita. Bagaimana tidak, atmosfer kampus sebagai (pabrik) lahirnya mahasiswa kritis kini sudah mulai kurang terlihat. Tentunya menjadi sensitif bila kita mengulik kekritisan seseorang yang acap kali di anggap relatif dan butuh proses.

Agak miris bila kita melihat pendemo  di kampus kita akhir-akhir ini yang hanya berjumlah belasan orang, sedangkan ada beribu-ribu mahasiswa yang masih hidup dan masih berpikir. Agak konyol memang, dari ribuan hanya terlihat belasan. Ya kalo berbicara seharusnya paling tidak puluhan kek, atau kalau bisa ratusan. Atau barangkali benar dugaan saya, bahwa yang mendemo tadi itu berati-ratusan. Yang terlihat memang belasan, dan sisanya makhluk astral. Ah makin ngaco. 

Belum lagi, beberapa orang anti dengan aktivis. Mereka terkadang menganggap aksi demo dan bawa spanduk ramai-ramai di jalanan atau tempat umum adalah cerminan perilaku kaum rasis dan tak bermoral. Coba kita lihat aksi demo yang dilakukan sejumlah mahasiswa Makassar yang menolak penayangan film ‘Dilan 1991’. Kericuhan yang terjadi di XXI Mall Panakkukang, terjadi atas dasar kekhawatiran meningkatnya kekerasan di dunia pendidikan. Ya, kita yang sudah menonton ‘Dilan 1990’ juga diwarnai adegan si Dilan yang menjadi panglima gengnya dan suka ikut andil dalam medan tempur antar sekolah. Meski saya belum menonton  sekuel yang kedua, hampir sependapat dengan aksi penolakan mahasiswa Makassar tadi. Pastinya (sekedar asumsi) di sekuel kedua akan diwarnai si Dilan yang tawuran lagi.

Tapi bagi saya juga kurang relevan bila kita mempermasalahkan hal itu. Maaf sebelumnya, maksud saya bukankah dengan menolak penayangan film itu juga menunjukkan kelemahan iman kita di dunia pendidikan dan perfilman? Bagaimana bisa, manusia yang (sudah) mampu membedakan mana yang baik (kedamaian) dan buruk (kekerasan) bisa ternodai dengan film yang bergenre romance? Kan gak nyambung.

Seharusnya akan lebih menarik jika memprotes adegan mesra yang tak kenal batas itu. Masak iya berpelukan saat berboncengan. Ditambah pipi ketemu pipi lagi. Kan gak etis. Dan akan menarik ketika demo saat itu dihiasi sepanduk “Tolak adegan mesra, kasihani kaum jomblo” atau “hargai perasaan kaum mandiri, jangan tayangkan adegan mesra kepada kami”. Sekiranya itu lebih jelas, bahwa mesra-mesraan di depan publik (yang banyaknya penonton adalah bocah yang masih sekolah itu tidak baik dan tidak etis, apalagi di depan kaum mandiri, yang cuma bisa mencintai dirinya sendiri. Hehehe

Belum lagi aksi tersebut telah mendapat label sebagai tindakan yang tak bermoral, dari sejumlah netijen yang pro di film si Dilan. Belum lagi juga, mereka mengolok-olok para aktivis muda itu di media sosial. Mereka dianggap telah merusak citra kampusnya bahkan sampai dicap mahasiswa ‘alay’. Miris, ironis, tapi kepada siapa?

Benarkah demo itu tidak ada gunanya? Demo itu bentuk lain dari berdialog. Mereka (aktivis) mendialogkan apa yang telah menjadi problem dalam lingkungan sekitar. Ya secara historis kita bisa menengok para aktivis hebat seperti Tan Malaka yang berdemo lewat buku-bukunya terhadap penindasan di masa revolusi. Atau kita lihat Widji Thukul dan Munir yang membangkang terhadap pemerintahan orde baru, hingga menyebabkan keduanya lenyap dari muka bumi. Atau lihat Marsinah, aktivis perempuan pembela hak-hak buruh dan menyebabkan mayatnya terasingkan di hutan dusun Jegong. Orang-orang hebat diatas berani mengambil resiko – meski harus nyawa taruhannya – dengan berdialog atas dasar kepentingan dan hak orang lain. Atas kepentingan orang lain – catet.

Cobalah resapi sabda Gus Dur wahai netijen yang budiman, bahwa “ada yang lebih penting dari politik, yakni kemanusiaan” dan ada yang lebih penting dari kekuasaan dan kepentingan yakni kesadaran. Kesadaran untuk melihat ketidakadilan.

Sebagai mahasiswa yang ber-in-telek-tual, alangkah baiknya kita turut berpartisipasi. Jika tidak bisa, biarkan orang-orang berdemo itu. Jika kita tidak suka berdemo, jangan cemooh mereka. Jangan larang mereka.  Kita harus bantu dengan doa, agar nama mereka juga tidak turut dihapus dari dunia, seperti para aktivis sebelumnya.

No comments:

Post a comment