Apa Kabar Pemimpin? Masihkah Kalian Tidak Bercermin pada Kisah Isra’ Mi’raj? - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 3 April 2019

Apa Kabar Pemimpin? Masihkah Kalian Tidak Bercermin pada Kisah Isra’ Mi’raj?

Ilustrasi Han/Ara Aita
Oleh: Nur Farida

Berdasarkan kalender Islam Hijriyah, sekarang kita telah memasuki bulan Rajab, salah satu bulan yang sangat mulia. Dalam bulan Rajab, ada satu hari yang penting dan bersejarah sepanjang zaman dunia Islam, yakni tanggal 27 Rajab 1440H. Peristiwa penting itu diabadikan oleh yang Maha Agung Allah SWT melalui QS. Al-Isro’: 1 yakni peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW melalui firman-Nya yang berbunyi:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang mulia dan penuh kekhidmatan, yaitu Allah SWT memberikan keistimewaan kepada Nabi Muhammad untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram (Makkah) menuju Masjidil Aqsha.

Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap pada Tuhan semesta alam, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hikmah penting perjalanan tersebut adalah kewajiban kita untuk mendirikan sholat sehari semalam 5 kali. Pada awalnya adalah perintah untuk mendirikan sholat 50 waktu sehari semalam, tetapi atas saran Nabi Musa, Nabi diutus untuk kembali kepada Allah untuk meringankan perintah tersebut, sehingga menjadi 5 waktu sehari semalam.

Keesokan harinya, Nabi bercerita mengenai peristiwa perjalanan panjangnya (Isra’ Mi’raj) kepada kaum Quraisy. Seketika itu banyak orang yang tidak percaya, bahkan kaum muslim pun banyak yang keluar dari agama Islam. Mendengar hal itu kaum-kaum yang tidak percaya menganggap bahwa Nabi berkata bohong.

Lain halnya dengan salah satu orang yang membenarkan Nabi, yakni Abu Bakar As-Shiddiq. Abu Bakar beralasan bahwa apa-apa yang dikatakan Nabi itu pasti benar, beliau tidak pernah berbohong, dan nilai kredibilitas Nabi itu tinggi. Apapun yang diutarakan Nabi selalu benar, dan dilakukan.

Beda dengan peristiwa yang ada sekarang. Bahkan pemimpin biasa yang masih berasaskan Islam pun ada yang melakukan korupsi. Sehingga membuat kita berfikir, sehina itukah sifat para pemimpin yang ada sekarang?

Mereka rela menggadaikan harga dirinya dengan miliaran, ribuan, bahkan ratusan lembar uang. Sehingga mereka lupa apa amanah yang harus mereka tunaikan selama kepemimpinannya.

Salah satunya saat fenomena yang terjadi baru-baru ini, 15 Maret 2019. Menunjukkan kepada kita semua bahwa masih banyak pejabat negara yang memiliki kredibilitas rendah sehingga rela memperjualbelikan jabatan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan sikap tauladan Nabi yang dikenal dapat dipercaya.

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita semua agar senantiasa memlihara kejujuran dan melaksanakan amanah. Dengan menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Sehimgga salah satu nilai kredibilitas adalah nilai sebuah kejujuran.

Oleh karena itu, Nabi disebut dengan Al-Amin yakni dapat dipercaya. Kejujuran adalah tolak ukur kualitas seseorang dalam bertindak dan berbicara di depan umum berdasar pada keadilan.

Dengan begitu, perintah sholat pada perjalanan panjang Nabi Muhammad SAW diatas mengajarkan kita untuk memelihara kejujuran. Dimanapun kita berada, sholat sendirian maupun di tempat kerumunan orang. Sholat mengajarkan kita agar memiliki kredibilitas yang tinggi. (Dia/Dim)

1 comment: