Aksi Jilid II Front Mahasiswa UINSA, Rektor Penuhi Tuntutan Mahasiswa - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 4 May 2019

Aksi Jilid II Front Mahasiswa UINSA, Rektor Penuhi Tuntutan Mahasiswa

LEDAKAN: Sempat beberapa kali terdengar suara petasan dari kerumunan massa aksi di depan gedung rektorat. (Dok. Yosi/Ara Aita)

Araaita.net - Aksi lanjutan penurunan UKT dari Front Mahasiswa UINSA mulai pukul 11.00 WIB, Sabtu (4/5). Berbeda dengan sebelumnya, aksi kali ini dilaksanakan di depan gedung rektorat.

Mahasiswa yang berdemonstrasi melakukan orasi sepanjang perjalanan dari depan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) menuju depan Twin Tower hingga menyita perhatian para mahasiswa dan para orang tua wali yang mendampingi anaknya wisuda pada hari ini. 


MEMBAKAR: Orator terus mengumandangkan aspirasinya mulai dari depan Fakultas Dakwah dan Komunikasi sampai Gedung Rektorat. (Dok. Dede/Ara Aita)

Sesampainya di depan gedung Twin Tower mahasiswa terus berorasi menyuarakan aspirasi mereka dan menuntut bertemu dengan Rektor UINSA, Masdar Hilmy. Beberapa kali terdengar suara petasan yang dinyalakan mahasiswa. Demonstrasi kali ini juga disertai dengan drama teatrikal yang diperagakan oleh empat orang mahasiswa yang diikat dengan tali tambang besar dan satu orang mahasiswa sebagai penariknya.

Para mahasiswa menuntut bertemu dengan Rektor sebagaimana dengan janji yang diberikan pada demonstrasi yang dilakukan pada Kamis (2/4) kemarin, bahwasanya Rektor akan menemui mahasiswa yang melakukan aksi pada Sabtu (4/5) pukul 11.00 WIB. Bahkan, mahasiswa mencoba memasuki lobi lantai 1 gedung Twin Tower secara paksa karena Rektor tak kunjung menemui mereka. Selain itu mahasiswa juga mengancam akan bertindak anarkis apabila Rektor tidak segera menemui mereka. 


ALIBI: Mahasiswa terus menolak apapun yang dikatakan Rektor karena menganggap hanya omong kosong. (Dok. Dede/Ara Aita)

Pada pukul 11.58 WIB, akhirnya Rektor UINSA menemui mahasiswa dan menanggapi aspirasi yang disampaikan mahasiswa dalam aksi demonstrasi. Rektor mengatakan memahami apa yang dirasakan mahasiswa dan mempersilahkan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya di hadapan beliau.


PERJUANGAN: Empat mahasiswa tanpa busana dengan tubuh terikat tali tambang memohon keadilan pada rektor. (Dok. Dede/Ara Aita)

Sebelum itu Rektor UINSA meminta waktu untuk melakukan tindak lanjut terkait aspirasi yang disampaikan mahasiswa dalam demonstrasi. Mendengar perkataan  Rektor tersebut, mahasiswa langsung Menolak. Para mahasiswa yang berdemonstrasi mengatakan bahwa mereka tidak memerlukan janji.

Mendengar aspirasi dari para mahasiswa, Rektor UINSA kemudian memutuskan, bahwa akan ada peninjauan kembali secara rinci terkait UKT mahasiswa angkatan 2018. Rektor juga meminta bantuan para mahasiswa untuk membuat list nama-nama mahasiswa yang keberatan terkait jumlah UKT yang mereka terima.

Rektor juga menanggapi tentang aspirasi mahasiswa terkait verifikasi UKT secara online. Beliau mengatakan, bahwa sistem verifikasi UKT angkatan 2019 tidak hanya secara online saja, melainkan juga secara offline, yaitu dengan konfirmasi secara manual. Terkait jangaka waktu banding UKT yang semula hanya tiga hari juga akan diperpanjang menjadi dua minggu.

Setelah Rektor memberikan tanggapan tersebut, ada aspirasi lagi dari pihak mahasiswa yang ikut dalam aksi tersebut terkait apa yang dialaminya. Ubaidillah, mahasiswa HTN angkatan 2018 yang UKTnya lebih dari tujuh juta rupiah, sedangkan ayahnya hanya seorang sopir yang gajinya tidak sampai tiga juta sebulan dan hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Selain Ubaidillah, ada mahasiswa yang bernama Yoga. Yoga mengatakan bahwa adiknya yang diterima masuk jurusan PAI di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UINSA mendapat UKT sebesar sembilan juta. Selain itu ia juga menanyakan tentang banding UKT pada angkatan 2019 baru bisa dilakukan setelah satu tahun menjalani studi di UINSA, hal tersebut dianggap memberatkan mahasiswa.


DAMAI: Terlihat aparat kepolisian berjaga di dalam Gedung Twin Tower, karena meski sempat ada aksi dorong-mendorong tetapi masih bisa dikendalikan oleh mahasiswa lain. (Dok. Dede/Ara Aita)

Yoga merupakan mahasiswa FDK, ia menyampaikan aspirasinya yang berkaitan dengan fasilitas kampus, dimana ia pernah duduk dilantai saat mata kuliah berlangsung dikarenakan fasilitas kursi dalam kelas tidak memadai. Hal inilah yang dinilai sangat tidak sesuainya antara jumlah UKT yang dibayarkan dengan fasilitas yang didapatkan. Terkait hal tersebut, mahasiswa juga menuntut transparansi UKT.

Setelah mengutarakan aspirasinya kepada Rektor, mahasiswa kemudian meminta Rektor untuk menandatangani MOU sebagai bukti tertulis bahwa Rektor akan menindaklanjuti apa yang dikeluhkan mahasiswa. 


NYATA: Kertas putih berisi tuntutan yang telah ditandatangani oleh Masdar Hilmy, Rektor UINSA dan Wildan, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi. (Dok. Istimewa)

Tepat pada pukul 12.38 rektor UINSA menandatangani MOU yang dibuat oleh mahasiswa. MOU ditandatangi oleh Masdar Hilmy sebagai Rektor UINSA dan Wildan selaku korlap aksi sekaligus perwakilan mahasiswa. Seusai penandatanganan MOU tepatnya pada pukul 12.41 aksi demonstrasi mahasiswa usai.

MOU tersebut berisi empat tuntutan, diantaranya UKT Turun, Sistem verifikasi UKT kembalikan ke yang dulu (manual), lengkapi sarana dan prasarana, dan terakhir waktu banding UKT 1 bulan sebelum pembayaran. (Yosi/Dede/Mahen/Arfan)

No comments:

Post a comment