Pendidikan Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 2 May 2019

Pendidikan Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Dok. Google
Oleh : Ayu Kamalia Khoirunnisa

Wajar saja jika disebuah penelitian Harvard menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia jauh tertinggal 128 tahun dari negara maju. Kemana saja Indonesia selama 128 tahun? Pendidikan tiap beberapa tahun berubah kurikulum, mulai dari KTSP hingga kurikulum 2013 tapi tak ada kemajuan. 

Mencontek masih jadi budaya pendidikan  Indonesia,  gelar masih jadi hal yang paling dikejar dari pada ilmu, selembar kertaspun paling diperlukan daripada pengalaman.

Salah satu bukti bahwa pendidikan Indonesia sedang tidak baik-baik saja adalah adanya praktik jual beli ijazah. Dewasa ini, praktik jual beli ijazah sudah seperti permainan, selembar ijazah palsu rela dibeli untuk kenaikan jabatan, fakultas bisa memilih sendiri, IPK bisa nentuin sendiri bahkan tahun kelulusan terserah.  Hal itu terpapar dalam dokumentasiasli.com situs jual beli ijazah online.

Tak hanya satu dua bahkan banyak situs yang menjajahkan jual beli ijazah palsu demi sebuah pekerjaan. Pengalaman tak lagi diperlukan karena ijazah saja bisa dibeli hanya dengan menunggu 15 hari kerja. Miris.

Tak berhenti sampai ijazah, bahkan wisuda hingga kampus abal-abal pun muncul, dengan bayaran murah semuanya bisa diatur, orang licik yang memulai usaha seperti itu sungguh semakin merendahkan kualitas pendidikan Indonesia.

Seharusnya, pendidikan adalah tonggak terdepan dalam sebuah kemajuan bangsa, pendidikanlah yang melahirkan orang-orang besar dan intelektual yang tinggi, dengan pendidikan seharusnya mereka bisa mengubah sistem pendidikan Indonesia sendiri yang masih amburadul oleh pendidikan abal-abal yang bertujuan hanya untuk mencari selembar ijazah.

Indonesia sendiri belum bisa menyaingi negara-negara lain dalam hal pendidikan, karena kualitasnya masih sangat jauh, tak hanya itu ranah politik pun masuk ke dalam dunia pendidikan abal-abal untuk mendukung dan mensukseskan project ijazah palsu.  Demi selembar uang semuanya diraih dan dilakoni.

Dilansir dari Tirto, beberapa kampus abal-abal tersebut lebih banyak mencetak ijazah dibanding jumlah lulusan, bayangkan saja ada 873 ijazah sedangkan lulusannya hanya 145 mahasiswa.  Tak hanya itu banyak ditemukan skripsi jiplakan dan tesis tanpa tanggal. Naasnya kampus-kampus tesebut yang awalnya hanya sekolah tinggi meningkat jadi universitas, maka semakin merajalela lembaran ijazah palsu dan merosotnya sumber daya manusia Indonesia dari segi kependidikan.

Dengan demikian, seharusnya para siswa-siswi sejak kecil sudah diajarkan dengan sistem yang berbeda yaitu praktek, praktek dan praktek. Dengan sistem 40:60 yaitu 40 persen di dalam kelas 60 persen di luar kelas.

Mengapa anak SD tak dibawa ke bank untuk mengetahui langsung bagaimana proses finansial, dibawa ke pabrik tahu/tempe agar mereka tahu bagaiman proses dari makanan yang masuk dalam makanan sehari-hari, hal tersebut akan menambah daya peka mereka, dan rasa ingin tahu yang besar. Sejak TK-SMA diajarkan kebersihan dan wirausaha dengan mengelola kantin sendiri, hingga membersihkannya seperti sistem pendidikan taman kanak-kanak di Jepang yang patut menjadi contoh.

Justru dengan hal seperti itu, belajar tak terkesan monoton yang hanya teori saja, seperti pendidikan Indonesia saat ini. Sejak SD-SMA, banyak teori yang disampaikan namun sedikit praktik yang dilaksanakan, hal monoton tersebut yang sudah diajarkan sejak kecil mengakibatkan seorang tumbuh dengan monoton juga, itu penyebab kenapa banyak mahasiswa sudah duduk di perguruan tinggi namun tetap saja apatis, tak  peduli lingkungan sekitar, tak peduli Negaranya karena dia hanya kuliah pulang saja. 

Sistem pendidikan yang salah mengakibatkan lahirnya SDM yang tak berkemampuan apa-apa. Maka sudah seharusnya Indonesia mulai berbenah mulai dari sistem pendidikan yang memperbanyak praktik dan pengalaman daripada teori saja, dengan itu akan lahir calon penemu-penemu hebat yang sangat besar rasa ingin tahunya terhadap ilmu, dan tak lagi mengedepankan ijazah sebagai syarat masuk pekerjaan atau naiknya gelar, namun softskils dan hardskils yang menjadi patokan dalam segala aspek, agar pelaku jual beli ijazah palsu tak lagi berkeliaran.

No comments:

Post a comment