Menengok Olahan Pisang Khas Lumajang - Araaita.net

Breaking News

Friday, 2 August 2019

Menengok Olahan Pisang Khas Lumajang

LUMAJANG: Toyibaturrochmah bersama KKN 76 UINSA saat mencoba packaging bungkus olahan pisang. (Dok. Istimewa)

Araaita.net -  Jika biasanya buah pisang lebih banyak diolah menjadi keripik atau gorengan, kini di tangan Toyibaturrochmah olahan buah tersebut semakin bervariasi. Wanita asal Desa Kalibendo, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang ini dapat mengolah lebih dari lima jenis olahan pisang.

Diantaranya, tape pisang, sale pisang, madumongso, stik pisang dengan rasa durian dan jeruk nipis. Yang terbaru, adalah kerupuk kulit pisang.

Mantan guru Matematika ini mengaku, sebelum menciptakan berbagai jenis olahan pisang itu, ia sempat membuat eksperimen terhadap olahan telor asin. Idenya pun cukup ekstrem. Membuat telur asin dengan aroma buah-buahan. Dari stroberi hingga melon.

Tujuannya hanya satu, membuat yang tak suka telur asin menjadi suka.

“Bidikannya saya ambil anak-anak. Akhirnya dikasih aroma strawberry dan melon,” katanya.

Eksperimen itu pun cukup berhasil. Namun lantaran bahan membuat telur asin itu semakin mahal, Toyibah kemudian mencoba eksperimen yang lain. Salah satunya tape pisang. Ia menuturkan, awalnya, ide pembuatan tape pisang merupakan ide sang kakak yang memintanya untuk membuat olahan tak biasa itu.

Wah. Saya kaget tapi disuruh nyobak. Ya sudah akhirnya saya eksperimen, eh jadi ternyata,” ujarnya sembari tertawa kecil.

Toyibah bercerita, awalnya ia mencoba menjual telor asin dan tape pisang saat festival layang-layang. Tak disangka, jualannya tersebut laris manis.

“Sampai sana banyak pengunjung yang penasaran akhirnya dibeli dan difoto segala,” ungkap Toyibah di kediamannya, Minggu (20/7).

Bahkan, produk olahan pisang itu sudah sampai di hadapan bupati Lumajang, Thoriqul Haq. Tak disangka, olahan pisang itu pun membuat tertarik dan penasaran alumnus Universitas Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tersebut. Bupati yang belum genap satu tahun menjabat itu pun heran dengan ide kreatif itu.

“Saya tidak mau kalah sama yang di kota, walaupun di desa harus ada inovasi baru, biar keren,” tuturnya semangat.

Usaha tape pisang itu bermula pada Desember 2016. Toyibah mengaku, tak banyak modal yang ia siapkan. Ia hanya bermodal Rp. 200.000 untuk memulai usaha itu. Tiga bulan berjalan, usaha kreatif Toyibah itu sudah dilirik banyak stasiun televisi dan media yang lain.

“11 Desember 2016  saat ada festival layang-layang, terus April 2017 sudah masuk TV serta 2018 September masuk TV lagi,” tambahnya.

Kini, selain tape pisang, Toyibah juga memproduksi olahan pisang lainnya, seperti stik pisang, carang mas, sale pisang dan madu mongso. Yang terbaru, krupuk kulit pisang. Wanita gigih ini berpesan agar masyarakat yang hendak memulai usaha tak boleh malu, harus memiliki niat yang kuat serta berinovasi.

“Oh. Ternyata hal yang unik, orang itu minat,” ucapnya.

Berbagai olahan pisang itu kini dia jual melalui dua cara. Offline dan online. Untuk online bisa melalui instagram '@toyibaturrochmah' dan facebook 'Toyibatur Rochmah'. (Run/Far)

No comments:

Post a comment