Ketika Media Menjadi ‘Hantu’ Musiman - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 17 August 2019

Ketika Media Menjadi ‘Hantu’ Musiman

Dok. Araaita/Arfan
Restoratif: motif pembangkit kekuatan pers mahasiswa

Araaita.net - Resah di dalam negara sendiri merupakan bentuk yang dikhawatirkan sebenarnya. Kenyamanan warga atau masyarakat seharusnya dijamin penuh oleh negara. Namun, masyarakat hanya dibuat resah dan resah dengan segala permasalahan, sehingga di Indonesia disesaki keresahan yang membuat kenyamanan masyarakat tidak sepenuhnya dirasakan. Iya, benar. Saya sedang resah dengan kondisi kegiatan pewartaan berita yang dilakukan seorang jurnalis. Tidak sedikit para jurnalis yang diintimidasi dalam peliputan suatu peristiwa. Mungkin ada belasan atau bahkan puluhan media yang memberitakan terintimidasinya seorang jurnalis. Mulai dari jurnalis yang dipukul oleh pihak oknum, penghapusan hasil liputan (rekaman, foto, video, dll), sampai intimidasi yang bergaya retorika. 

Berangkat dari permasalahan 4 Jurnalis yang diintimidasi polisi saat liput demo buruh di depan DPR, kondisi keamanan jurnalis ketika peliputan mulai terabaikan. Motif intimidasi tersebut seperti apa yang saya sebutkan sebelumnya. Kasus permasalahan jurnalis itu diunggah di akun twitter tirto.id pada tanggal 16 Agustus 2019. Hal itu menggugah saya untuk membaca realita kegiatan pers di kampus. Kegiatan pers di kampus tidak jauh berbeda dengan perlakuan dilingkup kerja profesional jurnalis. Ada beberapa hal yang sama, salah satunya intimidasi. 

Dampak dari apa yang terjadi di negara, berpengaruh ke dalam miniatur negara. Mirisnya, di dalam kampus atau yang memiliki sebutan sebagai miniatur negara itu, seharusnya dipersiapkan menjadi generasi penerus bangsa. Diluar ekspektasi, percaya atau tidak, praktek di dalamnya digoreng oleh pihak-pihak tertentu. Praktek kegiatan peliputan warta berita di kampus biasa dilakukan oleh Pers Mahasiswa (Persma). Sebagai sarana pembelajaran untuk dicetak menjadi wartawan yang taat akan kode etik pers, tidak beda perlakuannya seperti jurnalis profesional. Tidak menutup kemungkinan, persma juga pernah mendapatkan intimidasi dari pihak tertentu dalam praktek kegiatan peliputan. Meskipun terdapat perlawanan fisik, tapi tidak seperti apa yang dialami jurnalis profesional. Akan tetapi, pelarangan liputan, intimidasi yang bergaya retorika, atau memerintahkan untuk menghapus hasil liputan, itu tidak diperbolehkan dalam kegiatan pers. 

Misalnya saja, di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, salah satu media kampus, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Edukasi mengalami permasalahan berupa pelarangan kegiatan liputan terkait Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan di gedung Auditorium. Dimana tepat pada lokasi tersebut ditempati oleh mahasiswa baru dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Informasi mengenai pelarangan peliputan yang dialami LPM Edukasi, dapat diliat di website resmi LPM Edukasi.

Kegiatan sehari-harinya persma tentu melakukan liputan terhadap sesuatu yang layak dijadikan berita. Praktek kegiatannya tidak jauh dari memberikan informasi kepada para masyarakat kampus terhadap perkembangan isu-isu terhangat. Simpelnya, persma jarang mendapatkan perlakuan intimidasi kalau sedang meliput kegiatan sehari-hari. Berbeda ketika ada kegiatan tahunan yang penting, ada saja beberapa pihak yang mulai melakukan sesuatu lelucon. Seperti pelarangan liputan, menyulitkan regulasi perizinan liputan, dll. Apakah media seseram itu? Sehingga harus melakukan perihal semacam itu? Entahlah, kalian punya jawaban versi masing-masing. Permasalahan semacam itu seakan menjadikan media seperti momok bagi kepentingan mereka. Ditakuti ketika agenda tahunan yang mereka anggap penting dan dianggap biasa ketika hanya peliputan di hari normal. Mari kita buka pikiran bersama-sama dan sadarilah, bahwa praktek pembelajaran pers yang dilakukan oleh mahasiswa memiliki ruang gerak yang  dilindungi undang-undang pers dan kode etik.
(Arfan)

No comments:

Post a comment