Meski Non-Muslim, Jose Tetap Diharuskan Mengikuti Mata Kuliah KeIslaman - Araaita.net

Breaking News

Friday, 16 August 2019

Meski Non-Muslim, Jose Tetap Diharuskan Mengikuti Mata Kuliah KeIslaman

Dok. Araata/Afis
Jose saat bercerita akan tetap belajar di UINSA meski ia menganut ajaran katolik

Araaita.net – Jose Fangelino, mahasiswa baru program studi (prodi) Sastra Indonesia menjadi mahasiswa pertama dan satu-satunya non-muslim yang terdaftar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Hal ini mejadi menarik karena UINSA yang merupakan kampus berbasis agama Islam menerima mahasiswa yang beragama katolik. Baca di sini.

Menurut Wahidah selaku Warek I Bidang Akademik menyatakan hal ini lumrah saja terjadi sebagai konsekuensi setelah menyandang gelar Universitas, dimana UINSA kini telah membuka bermacam prodi baru bidang umum. Berbeda dengan saat masih Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang hanya fokus pada studi keislaman saja.

“kampus ini membuka variasi bidang ilmu, tidak hanya ilmu agama. Otomatis harus terbuka, apalagi kita ini kampus negeri,” jelasnya.

Namun demikian, menurut Wahidah sebagai Universitas Islam, UINSA tetap mewajibkan semua mahasiswanya untuk menuntaskan mata kuliah keislaman yang ada pada kurikulum pendidikan UINSA. Hal ini berlaku pula pada Jose. Akan tetapi pengecualian bagi mahasiswa asal Brazil tersebut tidak perlu mengikuti ma’had.

“setiap mahasiswa kan harus mengikuti mata kuliah wajib. Tapi kalau untuk ma’had karena itu tidak masuk dalam jatah Satuan Kredit Semester (SKS) maka dia nggak ikut disitu,” ungkap warek I.

Sejalan dengan warek I, Asep, kaprodi sastra Indonesia menegaskan bahwa Jose harus mengikuti matakuliah keislaman untuk memenuhi jatah SKS yang harus diselesaikannya sebagai syarat kelulusan.

“Kalau yang mata kuliah jelas harus ya, karena dia harus penuh 144 SKS,” tegasnya.

Asep juga mengatakan bahwa pihaknya akan menerima apabila ada complain maupun penolakan dari Jose. Menurutnya, complain maupun penolakan tersebut bisa dijadikan masukan untuk membuat kebijakan baru terkait mahasiswa non-muslim di UINSA. Selain itu, dirinya juga akan lebih berhati-hati mengingat agama merupakan hal yang sangat sensitif. 

“Nanti dosen yang ngajar itu harus saya bilangin, dan khusus mahasiswa satu ini kalau ada apa-apa saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri, harus ke warek,” jelasnya.

Sebagai kaprodi, Asep berpendapat bahwa Jose bisa beradaptasi dengan baik di kampus Islam ini. Pendapat tersebut didasari atas persetujuan dari Jose ketika diminta untuk memakai peci saat pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK). Selanjutnya, Asep berharap Jose bisa menerima semua ketentuan dan peraturan yang ada di UINSA.

“Hari pertama PBAK dia nggak pakai peci, terus saya suruh pakai peci, dia mau. Bisa dianalogikan itu juga berlaku untuk (ketentuan) yang lainnya,” harap laki-laki asal bandung tersebut. 
(Arum)

No comments:

Post a comment