Transformasi Dakwah Menuju FDK Berkarakter - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 17 August 2019

Transformasi Dakwah Menuju FDK Berkarakter

Dok. Araaita/Luluk
Abdul Halim saat diwawancarai crew Araaita.net

Araaita.net - Memasuki hari ketiga, penanganan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) mahasiswa baru dialihkan kepada koordinator masing-masing fakultas. Setiap fakultas mengusung tema masing-masing dalam PBAK hari ke tiga dan empat. Tak terkecuali Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) yang bertema, “Membumikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Berlandaskan Keislaman dan Keindonesiaan”. 

Halim sebagai dekan FDK menjelaskan bahwa konsep konsep ini merujuk pada visi FDK itu sendiri, yakni menjadi pusat pengembangan dakwah transformatif berbasis riset dan teknologi informasi.

“Kata kuncinya adalah dakwah transformatif,” jelas Abdul Halim selaku dekan FDK.

Yang pertama ialah transformation of value, yakni mentransformasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Kedua transformation of knolwedge, pengetahuan harus kuat, bagus, dan luas. Kemudian transformation of skill yang harus diasah, dikembangkan dan dimaksimalkan. Dan yang terakhir ialah transformation of eksperience, pengalaman-pengalaman di luar kampus dan fakultas harus dikembangkan dan dimaksimalkan.

“Pengalaman akan memperluas wawasan dan akan memperkuat karakter seseorang,” tambah lelaki bersorban hijau itu.

Halim juga menginterpretasikan antara karakter FDK dengan filosofi Twin Tower atau gedung kembar yang merupakan ikon Universitas Islan Negeri Sunan Ampel (UINSA). Gedung A adalah tower keislaman yang menggambarkan santri dan gedung B merupakan tower keindonesiaan yang menggambarkan akademisi. 

“Oleh karena itu, karakter FDK saya terjemahkan sekaligus sebagai interpretasi dari Twin Tower,” terangnya.

Selain itu Halim menjelaskan beberapa karakter santri yang tercantum dalam kitab ta’lim muta’alim juga harus diterapkan dalam pelaksanaan PBAK. yakni cerdas yang meliputi cerdas intelektual, emosional, dan cerdas spiritual. Kemudian juga seorang santri harus menghormati guru.

 ”Karakter santri saya ambil dari kitab Ta’lim Muta’alim,” ungkap Halim.

Halim menuturkan bahwa kombinasi antara karakter santri yang akademisi atau karakter akademisi yang santri itulah, maka ditarik sebuah tema yakni keIslaman dan keIndonesiaan.  Karena menurutnya Islam dan Indonesia tidak terpisah.

“Oleh karena itu semboyan kami tadi NKRI HARGA MATI,” pungkasnya.
(Yosi/Luluk)

No comments:

Post a comment