Gus Nadir; Keislaman Seseorang Dilihat Dari Apa yang Ia Posting dan Share - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 26 September 2019

Gus Nadir; Keislaman Seseorang Dilihat Dari Apa yang Ia Posting dan Share

Nadir: saat menjelaskan tantangan berdakwah di media sosial

Araita.net - Hari kedua International Conference Da'wa and Communication (ICON-DAC) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Iniversitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya menghadirkan tiga narasumber salah satunya Nadirsyah Hosen (Rabu, 25/9).

Ia memaparkan dua pokok pembahasan besar, yaitu "Media Sosial sebagai Penanda Keislaman dan Media Sosial sebagai Pressure (penekan) Keislaman".

Media sosial menurutnya sebagai penanda keislaman ketika seseorang mem-posting, like, atau dishare konten-konten dakwah, itulah yang menjadi tolak seseorang menilai keislaman kita.

"Apa yang kita posting, share, dan kita like itu dianggap sebagai jati diri keislaman kita," ujar pria yang kerap disapa Gus Nadir.

Selanjutnya, media sosial yang mereka posting, ataupun share, akan menjadi penanda bahwa golongan mana yang ia ikuti.

"Asumsi kedua, ini bukan hanya sebagai penanda, tapi medsos sudah menjadi plessure versi islam mana yang ditampakkan," jelas salah satu dosen di Monash University, Australia.

Ia menjelaskan, jika tidak semua kutipan hadits ataupun al-qur'an dalam bentuk apapun termasuk terjemahan tidak boleh dipercaya begitu saja tanpa mengetahui dasar-dasarnya.

"Padahal, tidak semua hadist shahih bisa diterapkan bjisa saja hadist shahih itu di mansukh sama hadits shahih yang lain, ini yang tidak dipahami oleh netizen," papar pria berambut gondrong dengan memakai kopiah hitam.

Selain itu, ia menambahkan jika media sosial memiliki beberapa tantangan, pasalnya durasi di instagram maupun twitter tidak mencukupi untuk mengkaji seluruh isu.

Olehnya itu, dibutuhkan dua metode sekaligus menjadi tantangan untuk berdakwah di sosial media, yaitu simplifikasi dan jastifikasi. Simplifikasi untuk meringkas pokok-pokok pembahasan yang akan dibahas dan justifikasi ialah mampu membuat keputusan atas hasil kajian.

"Jadi dibutuhkan tim kreatif yang mampu membuat narasi dan itu semua butuh pelatihan," usulnya. (Anca/Lutfa)

No comments:

Post a comment