Tujuh Tips melawan Dis-Misinformasi Ala Jurnalis AJI - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 21 September 2019

Tujuh Tips melawan Dis-Misinformasi Ala Jurnalis AJI


Fokus: Narasumber saat menjelaskna Dis-Misinformasi (Dok. Arta/Rafika)

Artaaita.net - Sabtu (21/8), Trainer dari Google Sekaligus perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Manado, Yinthze Sofline Lingkan Gunde, dalam workshop Hoax Busting And Digital HygieneI menjelaskan perang melawan Disinformasi dan Misinformasi.

Menurutnya, Disinformasi sendiri merupakan berita dengan informasi hoax yang disampaikan oleh orang yang sebenarnya orang itu tau akan berita yang disebarkannya itu bohong, sedangkan untuk Misinformasi yaitu informasi hoax yang disebarkan oleh seseorang tanpa orang tersebut mengetahui kebenarannya. Ia juga menjelaskan tujuh hal yang harus dilakukan untuk melawan Dis-Misinformasi, yakni:

Pertama, cek alamat situs dari media yang mengeluarkan berita dan bandingkan berita tersebut dengan media lainnya untuk melihat kesamaan dari data yang dipaparkan.

Kedua, lihat detail visual seperti platform dari media tersebut untuk melihat apakah media tersebut asli ataukah meniru dari media besar seperti NBC yang padahal media tersebut tidak memiliki cabang di Indonesia.

Ketiga, iklan yang muncul ketika sedang membaca berita, maksudnya jika blog dari berita tersebut banyak iklan maka kemungkinan media tersebut menulis berita yang menarik pembaca sehingga banyak dikunjungi yang kemudian mendapat reward dari Google dengan menaruh iklan di blog tersebut dan mendapat keuntungan dari Google Adsense, yang berarti tersebut kemungkinan benar dan dapat dipercaya.

Keempat, perhatikan pakem media dengan cara memperhatikan berita-beritanya, narasumbernya dan mempunyai kredibilitas, apakah media tersebut menyertakan identitas dari medianya atau tidak seperti susunan redaksi, biodata lengkap, dan sebagainya.

Kelima, cek About Us, apakah media tersebut memuat Undang-undang Pers, Kode Etik Pers, Badan Hukum Pers, dan sebagainya.

Keenam, sensasional, dengan penulisan judul-judul yang diminati orang akan membuat suatu ketertarikan tersendiri.

Terakhir, cek situs mainstream, apakah situs media yang kita buka merupakan situs pada umumnya ataukah ada keganjilan dalam domain situs media tersebut seperti halnya kasus pada domain detiknewsmanado.com dengan detiknews.com padahal keduanya tidak berafiliasi. Dan dapat dikatakan bahwa detiknewsmanado.com tidak benar.

“Tujuan mengenal Dis-Misinformasi ini agar bagaimana cara kita dapat menyikapinya, khususnya dunia digital dan yang paling penting mampu melakukan klarifikasi mandiri atas informasi yang kita dapat,” pungkasnya, wanita berambut pirang tersebut, saat menjelaskan materi di ruang sidang rektorat lama, Fakultas Pesikologi dan Kesehatan (FPK), Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA). (uma/rwm)

No comments:

Post a comment