Tak Beradab Berakhir Ciloko - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 2 November 2019

Tak Beradab Berakhir Ciloko


(Doc: Arta/Sachi)
Scene: Salah satu adegan pentas yang dimainkan oleh lakon

Suara teriakan orang terdengar ketika lampu tiba-tiba padam, disusul dengan suara tahlil memecah keheningan di ruangan gelap. Dua orang laki-laki berpakaian hitam masuk dengan mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah, membuat penonton seketika menjerit dan bertepuk tangan. Dua orang tersebut mendekati salah seorang penonton dengan membuat percikan api. Hingga kemudian dua orang itu pergi dengan masih melantunkan kalimat Laa Ilaha Illallah.

Tak lama, muncul tiga orang penari dari barisan penonton sambil meliukkan badannya mengikuti irama kidung jawa. Tiba-tiba datang seorang kakek dengan membawa kendi yang berisikan bunga dan dupa, kemudian melempari ketiga penari itu. Satu per satu penari jatuh, hingga tersisa seorang penari yang melawan sang kakek tua itu, namun akhirnya jatuh jua.

Sampai akhirnya lampu kembali padam dan muncullah enam mahasiswa dan kepala desa Pak Prabu yang melanjutkan pementasan pada Senin 28 oktober di Gedung Auditorium Uin Sunan Ampel Surabaya (Uinsa) oleh Teater Sua Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).

Di bawah sorot lampu Pak Prabu, Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu, dan Anton mulai berjalan di atas daun-daun kering yang menimbulkan suara “srekk... srekk” saat melangkah. Perlahan, pak Prabu bercerita setiap adegan tentang desa yang ia kepalai. Sampai pada satu tempat, pak Prabu mengarahkan telunjuknya ke sesuatu hal di belakang penonton seraya berkata.

“Kalian lihat tempat itu, ini area pemakaman dengan batu nisan yang dililit kain hitam”. Ujarnya.

Salah seorang dari enam mahasiswa, Wahyu namanya berucap “siapapun juga tahu itu kuburan bukan lapangan sepak bola”.

Pak Prabu melirik Wahyu dan berujar “Kamu tahu apa yang kamu ucapkan”, kemudian melanjutkan berjalan ke sisi kiri dan berkata “ini sungai” sambil menunjuk lantai kosong depannya.

Ganti adegan, pak Prabu mengajak enam mahasiswa ke ujung kiri panggung dan menunjuk tempat keluar masuknya pemain seraya bercuap “ini tapak tilas, jalan mau ke hutan. Jangan kesini nanti tersesat” cuapnya.

Adegan demi adegan ditampilkan oleh pemain, hingga pada satu adegan dimana Ayu dan Bima berdiri saling membelakangi dengan menggumamkan keinginannya. “Aku ingin Widya”, ujar Bima. “Aku ingin Bima” ujar Ayu. Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari balik layar sisi timur “Wahai pengikutku, akan aku kabulkan permintaanmu” teriaknya diakhiri tawa.

Usai teriakan itu, lampu kembali padam dan dalam beberapa detik hidup kembali dengan Bima membawa sebuah kalung mutiara yang disebut kawaturih dan Ayu membawa selendang merah.

Lanjut ke adegan lain, Nur pergi ke sisi kiri panggung dekat dengan tempat keluar masuk yang disebut “tapak tilas”, terdengar suara dua orang mendesah bersahutan, dan tiba-tiba muncul Ayu dan Bima dari “tapak tilas” dengan ikat pinggang Bima yang belum terpasang dengan benar. Nur berkata dengan suara lantang “apa yang kalian berdua lakukan di gubuk itu, jangan bilang kalian...”, keduanya lantas mengangguk.

Nur memukul Bima dan berujar “sudah berapa kali kamu melakukannya Bim?”, Ayu mendekat dan memegang lengan Nur tapi ditepis Nur dengan mendorong Ayu menjauh. “Dua kali Nur, maaf aku khilaf. Jangan bilang ke teman yang lain” sesal Bima.

Sampai pada adegan Ayu terbaring di depan rumah buatan dan disusul Bima yang digotong Anton dan Wahyu dengan kondisi tubuh yang kejang. Kemudian keduanya dibaringkan berdampingan di depan Nur, Anton, dan Wahyu. Dan tak lama, pak Prabu muncul dan menyuruh untuk menutup keduanya Bima dan Ayu dengan jarik, berselang detik seorang kakek tua atau mbah Buyut datang seraya berkata “doakan saja kedua temanmu itu”.

Lampu kembali padam, dan hidup lagi dengan menyoroti Bima, Ayu, dan seorang wanita penari yang dipanggil Badarawuhi, terikat selendang dengan Badarawuhi di tengah antara Bima dan Ayu. Suara musik terdengar berdentang keras mengikuti gerak ketiganya, dengan Badarawuhi menarik selendang Bima dan Ayu dengan keras dan bekata sambil melotokan mata kepada penonton “CI LO KO”.

(Rafika) 

No comments:

Post a comment