3 Kesalahan Fatal Warganet dalam Berbahasa - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 23 November 2019

3 Kesalahan Fatal Warganet dalam Berbahasa

Penulis: Hidayat Mansur
Editor: Rafika Wahyuni Melina


Tweet akun @ivanlanin

Sadar atau tidak, masyarakat Indonesia belum tahu persis bahkan belum memahami beberapa penggunaan kata, apalagi penulisan.  Ya mungkin karena lahir dan besar di Indonesia, sehingga hal tersebut diacuhkan oleh sebagian masyarakat +62 ini.

Dikutip dari tweet Ivan Lanin, seorang Wikipediawan, di akun twitternya @ivanlanin, ia merangkum bahwa ada empat kesalahan berbahasa yang paling banyak dikemukakan warganet, namun penulis hanya mengambil tiga diantaranya. Berikut ulasannya:

1. "di" vs "di-"


Contoh penulisan imbuhan "di-" yang keliru oleh masyarakat Indonesia (sumber: internet)

Tak heran lagi kalau penggunaan imbuhan "di" ini menjadi kesalahan umum di Indonesia. Pasalnya, memang ada dua pola dalam kalimat. Ada yang dipisah dan ada yang tidak dipisah. 

Lalu bagaimana perbedaan keduanya? Bagi yang belum tahu, berikut penjelasan singkatnya.

Pertama, kalimat "di" yang menunjukkan benda dan dan nama tempat, harus dituliskan terpisah. Contoh: di kasur, di laci, di Surabaya, di mana, di antara. 

Sedangkan kalimat "di" yang merupakan awalan kata kerja pasif, maka penulisannya harus digabung dari kata yang diawalinya. Contoh: dimakan, dipukul, dibunuh, dibuka.

Gampangkan membedakannya?

2. "merubah" vs "mengubah"


Salah: Tulisan "quotes" menggunakan kata "merubah" (sumber: internet)

Penggunaan imbuhan "me-" juga sangat kerap sekali kita jumpai mengalami banyak perdebatan, salah satunya "merubah" vs "mengubah". 

Lantas mana yang benar?
Kata "mengubah" ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sedang "merubah" tidak. 

kata "mengubah" dalam KBBI berasal dari kata dasar "ubah". Proses pembentukannya yaitu dengan afiks (imbuhan) "meng-" + "ubah". Kata ini bermakna; menjadikan lain dari semula, menukar bentuk, dan menukar kembali. Contoh: Raru' ingin mengubah pola tidurnya.

Terus kata dasarnya "merubah" apa dong?
Meskipun tidak terdapat dalam KBBI, sekalipun dipaksakan, bisa saja kata "merubah" dibuat. Tapi, asal katanya "rubah" bukan "ubah". Mnggunakan imbuhan "me-" + "rubah", yang bermakna menyerupai rubah- karnivora sejenis anjing, bermoncong panjang, dan bernama ilmiah Canis vulpes'. 

Masih mau nih, menggunakan kata "merubah"? Haha. Kalau masih ragu, gunakan saja kata mengganti yang memiliki makna yang mirip, misalnya kita perlu mengganti merubah menjadi mengubah.

3. "kita" vs "kami"


Skema cakupan penggunaan kata "kami" dan "kita" (sumber: internet)

Bahasa Indonesia mempunyai suatu kekhasan yang mungkin tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa besar dunia lainnya, yaitu adanya kata ganti orang pertama jamak “kita” dan “kami”. 

Di dalam bahasa besar dunia lainnya, hanya dikenal satu bentuk kata ganti orang pertama jamak, seperti we (bahasa Inggris), wij (bahasa Belanda), wir (bahasa Jerman), nous (bahasa Perancis) dsb. 

Bagaimana perbedaan penggunaan antara kata “kita” dan “kami”? 
“Kita” digunakan apabila orang yang diajak bicara termasuk di dalamnya, sedangkan “kami” digunakan apabila orang yang diajak bicara tidak termasuk di dalamnya.

Kata kami sendiri mempunyai makna “aku dengan yang lain”. Contoh: Kami telah melaporkan perbuatannya itu ke kantor polisi, Kami berterima kasih atas bantuan Anda selama ini.

Sementara itu, kata kita mempunyai makna “aku, kamu, dan juga yang lain." Contoh: Kita pasti akan menjadi juara, Mari kita sambut bintang tamu kita, Najwa Shihab!

Dalam ranah ilmu bahasa, perbedaan makna pada kata kami dan kita lazim disebut dengan klusivitas. Istilah klusivitas sendiri merupakan istilah untuk kata yang seolah bermakna sama, namun ternyata berbeda, laiknya kami dan kita.

Jadi masih mau salah dalam berbahasa? Semoga bisa sedikit membantu. Terima kasih.

Sumber: Ivan Lanin, kompasiana.com, dosenbahasa.com

No comments:

Post a comment