Cinta dan Rindu dalam Pandangan Sastrawan Sufi - Araaita.net

Breaking News

Tuesday, 26 November 2019

Cinta dan Rindu dalam Pandangan Sastrawan Sufi

Penulis : Uma Ageng PP
Editor : Aida


Senang: (Kiri) Ketua Himaprodi BKI, (Kanan) Gus Candra saat menerima cenderamata sebagai pemateri seminar, Selasa (26/11). (Doc. Arta/Yoga).


Araaita.net - Jomblo itu bukan tidak punya cinta, jomblo itu punya banyak cinta tapi semuanya di tolak, itulah ungkapan Gus Candra Malik dalam acara seminar yang bertajuk "Self Healing With Love" yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) Bimbingan Konseling Islam (BKI), di Gedung Auditorium, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa (26/11).

Dalam mengawali dialognya, laki-laki yang kerap disapa Gus Candra ini menjelaskan makna cinta kepada peserta seminar dengan menggunakan bahasa puitis layaknya seorang pujangga

"Mencintai itu bukan kata kerja, dicintai bukan kata sifat, tapi cinta juga bukan kata benda, cinta itu kata hati," ucap lelaki bergamis putih tersebut.

Sambil diiringi tepukan para peserta, lelaki kelahiran Surakarta, Jawa Tengah ini menjelaskan tentang cinta yang disangkal dengan syair-syair yang dirangkainya.

"Semakin cinta disangkal semakin rindu kekal," ucap penyanyi religi sekaligus pengasuh pondok pesantren Asy-Syahadah itu.

Dengan puitisnya, ia meneruskan dengan penjelasan bahwasannya setengah dari cinta adalah curiga selebihnya percaya.

"Setengah dari rindu adalah ragu, selebihnya cemburu, cinta itu luka rindu itu perihnya," papar lelaki berambut gondrong tersebut.

Penulis buku Ma'rifat Cinta ini juga menambahkan bahwa cinta itu gila.

"Bahwa belum bisa kita dikatakan cinta kalau kita belum gila," tambahnya.

Dengan teriakan bersama tepukan tangan penonton yang bergemuruh, sastrawan sufi tersebut menjelaskan persepsi orang tenang definisi cinta sebagai sesuatu yang tak tertebak.

"Padahal cinta itu bukan pertanyaan, dan rindu itu bukan jawaban, cinta tak pernah salah karna rindu tak pernah benar, semakin cinta di sanggah semakin hati kita merasa bergetar," ujar pencipta single Kidung Hidayat Jati tersebut.

Di samping itu, lelaki berpeci hitam ini menyarankan lebih baik menerima dan membiarkan seorang diri menderita karena dengan demikian, diri tersebut akan menikmati kesejatiannya.

Lelaki yang dulunya pernah berprofesi sebagai wartawan ini juga menjelaskan tentang analogi cinta dan rindu.

"Rindu itu seperti dedaunan yang bergerak tumbuh ke arah cahaya, kekuatan yang menggerakkan dedaunan itu ialah yang namanya cinta, sedangkan keinginan untuk bertemu cahaya itulah yang disebut rindu," pungkasnya.

1 comment: