Koor JIAD Jatim; Humanisme Gus Dur Ajarkan Welas Asih - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 2 November 2019

Koor JIAD Jatim; Humanisme Gus Dur Ajarkan Welas Asih


Duduk: Kedua pemateri sedang duduk saat sesi tanya jawab (Kiri) Aan, di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jumat (1/11) (Doc: Arta/Fika)

Araita.net – Koordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), Aan Anshori menjelaskan mengenai humanisme Gus Dur yang welas asih dan memaafkan orang lain, dalam acara Diskusi Hari Santri Nasional yang mengangkat tema Ngaji Humanisme Islam (Gus Dur), di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Jumat (1/11)

Pria yang kerap disapa Aan atau Anshori ini, menjelaskan mengenai humanisme yang dilakukan oleh Gus Dur. Menurutnya humanisme seorang Gus Dur, cara pandang seseorang yang didasarkan pada dua pilar penting. Pilar pertama, meyakini bahwa setiap orang itu baik. Pilar kedua, jika ada persoalan, penyelesaiannya dengan akal sehat.

“Jadi humanisme nya Gus Dur menurut saya, ia berpijak satu kaki bahwa setiap orang pada dasarnya baik dan problem penyelesaiannya dengan pendekatan secara akal bukan  secara agama," ujar Aan.

Selain itu, ia juga menjelaskan asal dari humanisme. Humanisme berasal dari dua nama lain Allah yang terdapat dalam kalimat Bismillahirrahmanirrahim, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ia melacak makna dari dua nama tersebut dengan bahasa inggris. Dan mengetahui makna dari Ar-Rahman compasionate (pengasih), dan Ar-Rahim merciful (penyayang).

Compasionate sendiri, a very polite way to respect others, maksudnya kita harus selalu berlaku sopan kepada siapapun, tidak memandang baik buruknya seseorang untuk menghormati orang lain.

“Ketika menyebut bismillahhirrohmanirrohim ia menyebut dengan nama Allah yang Maha Pengasih, jadi untuk menghormati orang lain dengan cara yang sopan,” ungkap Koordinator JIAD.

Sedangkan merciful, kind or forgiving treatment of someone who could be treated harshly. Maksudnya kita harus lebih memilih untuk memanfaatkan seseorang walaupun kita mampu untuk membalas perbuatannya dengan lebih kasar.

Kedua nama Allah tersebut menurut Aan adalah humanisme yang diterapkan oleh Gus Dur. Ia bercerita ketika pada pada jaman Soeharto, dimana Soeharto tidak menghargai dan cenderung meremehkan Gus Dur, dan ketika Gus Dur menjadi Presiden, orang pertama yang didatangi Gus Dur ialah Soeharto. Hal tersebut salah satu sikap humanisme yang dilakukan oleh Gus Dur.

“Humanisme Gus Dur mengatakan bahwa setiap orang itu baik, jadi Gus Dur lebih memilih memaafkan timbang membalas. Jadi humanisme Gus Dur mengajarkan kita welas asih,” pungkasnya. (fkn/rwm)


No comments:

Post a comment