Ku Temukanmu Di Semester Genapku - Araaita.net

Breaking News

Friday, 8 November 2019

Ku Temukanmu Di Semester Genapku


Oleh: Merlynda Aulya Swardhani


"Menurutku cinta pertama bukan pasal seseorang yang Kita cintai pertama kali, kalau seseorang itu ibu, berarti cinta pertama ku hanya Si Umi?"
***
Silau senja menyeruak di retina mataku, hembusan angin sepoi-sepoi meraba kulitku, dan hijaunya dedaunan di taman membuat suasana sore ini semakin indah tuk dipandang. Kini aku sendiri, duduk di bawah pohon rindang dengan bersandar dan menatap sunset yang disajikan Tuhan untukku.

"hoam… Masya Allah Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?" ujarku dengan menghembuskan nafas sambil mendekap lembaran kertas di tanganku. "sudah sore mau maghrib nih, pulang ah."

Kemudian dengan langkah gontai kakiku menuju ke singgasana, yah rumahku adalah istanaku bukan? Azan maghrib pun berkumandang, aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan mengenakan mukenahku lalu pergi ke langgar dekat rumah. 

Oh ya, perkenalkan namaku Arlinda, Aku sekarang tinggal di kota besar di Jawa Timur, yak Surabaya!. Di ibukota inilah aku mengenyam pendidikan dari Taman Kanak-Kanak(TK) hingga saat ini di Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Awalnya hidup di daerah lingkungan rumah serta bersekolah dekat rumah selalu baik-baik saja, tanpa masalah, tanpa perpaduan, bahkan pertengkaran antar teman. Sejak aku keluar dari zona nyaman, tepatnya bersekolah ke SMA kawasan yang jaraknya 3 kilometer dari rumah, akupun mulai tahu apa itu kehidupan memasuki masa remaja ke dewasa. 

Di sekolah ini aku mendapat teman baru, pelajaran baru, buku baru, bahkan suasana baru. Tentunya, aku senang bahkan bangga dan bersyukur bisa masuk sekolah kawasan, yang belum tentu semua murid bisa masuk sekolah ini dengan jalur tes tulis.

Di SMA ini aku harus bertahan selama enam semester ke depan, entah apa yang akan aku hadapi kedepannya, aku sih selalu berdoa untuk dilancarkan dalam setiap langkah dan kegiatan. Untuk semester pertama kegiatanku baik-baik saja, aku juga bergaul dengan teman-lain, dan aku punya teman baru sebut saja Fifi, Iza, Sasa, Ani, dan Wati. Aku dan Wati sudah saling kenal sejak SMP, tapi aku dan dia beda kelas. 

Sedangkan dengan mereka berempat aku baru kenal saat masuk SMA, walau aku dan Fifi sudah pernah berbincang sebelumnya saat masa orientasi. “Arlin ayo kantin bareng!” ajak Fifi dan saat itu juga aku berkenalan dengan Iza dan teman bangkunya, Devi. 

Kehidupan masa SMA mungkin bisa ku katakan ‘labil’ bagaimana tidak, kita yang awalnya berteman baik-baik saja, tiba-tiba ada kontroversi. 

Waktu berjalan dengan cepat, kini kita memasuki semester genap dan sekarang waktunya belajar dengan sungguh-sungguh, mempertahankan nilai, menyelesaikan kegiatan di luar pelajaran, serta pastinya menyeimbangkan waktu untuk kegiatan apapun. Aku dengan Fifi dan mereka bertiga yang awalnya baik-baik saja, kini mulai renggang. Entah karena salah paham, atau aku yang emang bersalah. Mungkin permasalahannya tidak begitu rumit bahkan lucu jika diingat.

Aku seorang yang introvert, yang tidak bisa bercerita dengan gamblangnya ke teman-temanku, aku hanya bisa bercerita jika face to face, tatap muka ke satu orang. Aku hanya bisa bercerita ke Iza, walaupun dulunya kami ber-lima teman akrab yang kalau ada tugas kelompok harus bersama, entah suatu saat hubungan kita merenggang.

Memang lucu jika dibahas, tiba masanya aku merasa dihakimi, aku dipojokkan saat pulang sekolah untuk meluruskan masalah itu. “Aku mau ngomong sama kamu!” seru Fifi sebelum pulang sekolah. Sebelumnya aku dengan mereka tidak pernah berkomunikasi, karena renggangnya hubungan kami, tapi aku masih berkomunikasi dengan Iza walaupun berdua.
 “oke,” jawabku. 

Setelah bel pulang, mereka menungguku di kelas hingga keadaan sepi, aku yang dari musholla lalu kembali ke kelas, waktu itu aku nangis di depan kakak kelas, karena aku tidak tahu, eh! Belum tahu apa yang harus dijelaskan nanti, aku down aku hilang kendali menjadi sosok yang tidak ramah ke teman-temanku. “mbak, aku nggak tahu apa yang mereka permasalahkan. Bahkan aku merasa baik-baik saja ke mereka, aku juga nggak pernah memandang kesalahan mereka ke aku,” kataku sambil menahan sesenggukan tangisan ini. 

Akupun kembali ke kelas, dan hari sudah semakin petang, angin terasa dingin menusuk, suasana mencekam seperti di film genre horor. Aku pasrah pada pengakuan teman-temanku jika memang yang terbaik untukku kedepannya. 

“Coba jelaskan, kenapa kok kamu menghindar, dan bahkan kamu nggak pernah cerita ke aku? ceritamu hanya setengah-setengah, rancu! Kenapa?” Tanya Fifi dengan sedikit gertakan, di suasana seperti ini aku hanya diam. 

Kita yang baik-baik saja awalnya, hanya karena aku introvert menjadi masalah seperti ini, aku yang kini kehilangan kepercayaan temanku, kehilangan teman kelas tentunya. Untuk saat ini, kelas menjadi sebuah momok yang membuatku enggan masuk sekolah. 

“Hmm.. jika memang salahku, kenapa harus aku jelaskan? Bukankah kau sudah tahu apa salahku? Lalu kenapa kau minta aku menjelaskan ulang dimana kesalahanku? Kamu cukup cerdas, Fi! tapi tidak untuk memahami,” jelasku pada mereka di ruangan ini, beberapa jam berlalu, kemudian mereka melangkah meninggalkanku sendiri di kelas sepi ini hingga petang, aku duduk lemas dan air mataku menetes. Bagaimana mungkin kita yang dulu baik-baik saja kini menjadi kurang baik-baik saja. Sejak saat ini, esok, semester depan bahkan sebelum kelulusan SMA aku sudah menemukan cinta pertamaku, yaitu sebuah masalah. 

Masalah yang sedikit rumit dan lucu untuk di ceritakan, dari masalah ini mereka mengajarkanku apa arti perubahan menjadi lebih baik, aku yang dulu seorang anak yang bisa dibilang remaja aneh, kini aku belajar mencari kebenaran dari keanehan. 

Komunikasi dengan teman itu sangat perlu, bahkan untuk berkomunikasi, dan interaksi pada mereka memiliki bermacam-macam cara, ada yang simpati, empati, bahkan ada yang nggak ingin mengerti. 


No comments:

Post a comment