Logika Mati, De Javu Sukmawati - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 20 November 2019

Logika Mati, De Javu Sukmawati

Penulis : Arfan Eka Wijaya (Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UINSA)

Sumber: tagar.co

Diah Mutiara Sukmawati seperti kehabisan bahan diskusi. Saat menghadiri  sebuah diskusi bertajuk 'Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’, ia membandingkan Nabi Muhammad SAW  dengan Soekarno. Hal tersebut mengundang berbagai respons dari kalangan masyarakat. 

Terlahir sebagai muslimah, ia pasti tidak asing dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam melaksanakan ibadah pun Sukmawati sudah pasti mengumandangkan shalawat Nabi. Terlebih Islam merupakan agama yang diperjuangkan Nabi Muhammad SAW dengan mewariskan al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman. Berbicara Islam acapkali membicarakan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang menjadi tauladan umat.

Berdasarkan apa yang ia lakukan belakangan ini membuktikan pengetahuan dirinya tentang Nabi Muhammad SAW masih dangkal. Dirinya menyampaikan kalau bapaknya lebih mulia daripada Nabi Muhammad SAW karena telah memperjuangkan kemerdekaan. Justru hal itu berbanding terbalik dengan apa yang pernah disampaikan Soekarno dalam pidatonya. Dalam sejarah, Soekarno pernah mengatakan bahwa pemimpin yang paling mulia adalah Nabi Muhammad SAW, bukan dirinya. Sikap dan tindakan Sukmawati tak seharusnya membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Soekarno. Sebab, banyak pandangan mengenai ulah Sukmawati mengarah pada penistaan agama.

Dalam undang-undang di Indonesia terdapat pasal yang mengatur penodaan agama. Melihat fakta di lapangan, kasus Sukmawati dinilai menodai agama. Jika ditelaah secara hukum, penodaan terhadap agama tertuang pada pasal 156-a KUHP yang berbunyi: “ Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan : a. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.” 

Sedangkan menurut Islam, penistaan agama sama saja melakukan penodaan agama. Melakukan penodaan agama pasti bertolak belakang dengan Islam. Dalam surat Al-Ahzab ayat 57-58 yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” 

Kejadian tersebut seperti de javu bagi adik dari Megawati Soekarnoputri itu. Sebelumnya, pada tahun 2018 ia pernah dilaporkan karena puisi bertajuk 'Ibu Indonesia' yang dibacakannya dalam acara '29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018'. Dalam puisi itu, Sukmawati membandingkan azan dengan kidung dan cadar dengan konde. (www.tempo.com, akses 17/11/2019). 

Pendek kata, manusia memiliki kapasitas kemampuan berpikir yang tidak sama. Pada kasus di atas, Sukmawati mengalami kesalahan dalam berpikir (logical fallacy). Ia tidak menggunakan logikanya dengan tepat. Hal tersebut mencerminkan alasan penyebab mengapa alur berpikir Sukmawati demikian.

2 comments:

  1. Saya takut, penulis juga terkena imbas dari post-truth ... padahal seharusnya obyektifitas dan rasionalitas harus tetap kuat.

    ReplyDelete
  2. Kalau dari sudut cara berpikir nya sukmawati bagaimana min ? Disini terlihat sukmawati sebagai seorang yang salah

    ReplyDelete