Maafkan Anakmu (Chapter 1) - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 23 November 2019

Maafkan Anakmu (Chapter 1)

Penulis: Nurul Izza Utomo
Editor : Merlynda A.S

Sumber: Ceritaku.my.id

Mendung menyelimuti langit pagi hari ini, diramalkan akan turun hujan sebagai teman di pagi hari. 

Gadis cantik si pemilik pipi gembul itu sudah bangun sejak tadi dengan kacamata menggantung di antara kedua telinganya, juga suara mesin ketik modern itu meramaikan ruangan. 

Dengan di temani secangkir kopi favoritnya Coffee Latte, ia mengerjakan sesuatu dengan serius disana.

Di ruangan tertutup itu gadis gembul yang tergila-gila menjadi penulis ini sedang berkutat dengan pikirannya dan tak menghiraukan teriakan yang berasal dari luar ruangan ia berada. Karena dalam pikirannya hanya menulis, menulis dan menulis. 

Hingga datanglah seorang pria dengan mimik wajah yang tak mengenakkan sembari mengetuk pintu ruangan gadis yang kerab dipanggil Emily itu.

 “Ya Allah, Emily! Ayah panggil kamu untuk bantuin ibu, malah main aja disini! Ayo keluar!” teriak pria yang di panggil ayah oleh Emily. 

Karena terkejut, Emily spontan berteriak dan marah. Ayah Emily yang sudah naik darah semakin naik pitam karena mendapat perlakuan kasar dari anaknya sendiri. 

Alhasil, Emily di tarik paksa oleh sang Ayah untuk membantu ibunya, dan disitu Emily hanya bisa mengucap sumpah serapah untuk ayahnya. 

Sampai di dapur, Ayah Emily duduk dan minum air serta berusaha menormalkan sistem napasnya yang terus naik turun menahan amarah pada anak semata wayangnya itu. 

“Ibu, ayah di kasih tau dong! Emily ini penulis. Emily lagi ada deadline. Ayah juga apa-apaan sih yah?” protes Emily pada kedua orang tuanya. 

Ayah Emily sudah mengepalkan tangan dengan kuat di atas meja makan dan hal itu dilihat oleh Ibu Emily. Sang bidadari tak bersayap itu menenangkan suaminya dengan elusan lembut dipunggungnya, dan berusaha tersenyum walau sebenarnya hatinya sakit melihat perlakuan anak gadisnya itu.

“Emily, sayang. Ayah sangat paham kok sebenernya kalau Emily penulis. Tapi ini kan masih pagi, kita juga belum sarapan. Ibu butuh Emily untuk masak telur, Ibu lupa gimana ya bikin telur yang enak?” ucap Ibu Emily dengan sedikit candanya. 

Emily hanya bisa mendengus dan berlalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya, ia juga tak menggubris suara teriakan ayahnya untuk menyuruh ia kembali.

Emily kembali ke kamarnya dan duduk di kursi meja belajarnya. Dia mengutuk kedua orang t uanya karena ia jadi lupa alur dan skenario ceritanya. Emily marah dan memukul meja belajarnya berulang kali. 

“Argh!! Coba aja Ayah dan Ibu nggak ada! Aku bisa bebas ngetik!” teriaknya dengan lantang dan penuh amarah. 

Alhasil, Emily membanting dirinya ke kasur empuk berwarna putih yang telah tertata rapih.
Kemudian ia membuka Smartphonenya, dan ada sesuatu bertengger disana, yaitu satu notifikasi yang membuatnya sedikit senang karena teman sekolahnya mengajaknya pergi bermain. 

Bagi Emily itu kesempatan besar untuk keluar dari rumah yang seperti penjara baginya. “Oke. Aku bakalan main. Sekalian bawa laptop, buat lanjutin ngetik,” ucap Emily girang. 

Belum selesai untuk mempersiapkan dirinya, Emily mendengar suara teriakan seseorang. 

“Jangan pedulikan dia, Emily. Fokus!” respon Emily terhadap teriakan yang menurut ia membuat moodnya rusak itu. 

“Brakkk!! Jangan pernah keluar rumah tanpa alasan yang jelas, Emily!” pintu cantik Emily berhasil didobrak oleh sang Ayah, dan itu semakin membuat Emily benci pada Ayahnya. 

Emily menatap sinis pada Ayahnya, dan ia tetap fokus menata barangnya untuk dimasukkan dalam tasnya. Karena sang Ayah geram, Ayah Emily langsung merebut tas milik Emily. 

“AYAH!!”

No comments:

Post a comment