Maafkan Anakmu (Chapter 2) - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 24 November 2019

Maafkan Anakmu (Chapter 2)

Penulis : Nurul Izza Utomo
Editor : Merlynda A.S

Sumber: Ceritaku.my.id

“AYAH!!”  teriakan Emily melengking meramaikan seisi ruangan. 

Ia segera mengambil tasnya dan melihat keadaan barang-barangnya. Sesuai dengan apa yang di takutkan oleh Emily, barang berharganya hancur karena ulah sang Ayah. 

Disitu rasa benci Emily semakin bertambah. Emily mengeluarkan laptop itu dan menatapnya dengan perasaan yang hancur. Karena ia ingat bahwa betapa susahnya ia membeli benda itu, kala itu sang Ayah tak mau membelikannya karena menurutnya hal itu tak penting. 

“Lihat!!! Ini gara-gara Ayah!!. Kalau Ayah benci sama Emily bunuh saja Emily!!” teriak Emily dengan keras di depan wajah Ayahnya. Ibu Emily yang melihat itu merasa teriris hatinya.

Ayah Emily hanya bisa diam. Karena ia tau laptop itu kesayangan Emily. Emily membelinya dengan uangnya sendir, Ia menabung demi membeli benda persegi panjang itu. 

“Emily, dengarkan ayah…,” belum selesai bicara Emily sudah memotong ucapan Ayah nya. “AKU BENCI AYAH!!!” teriaknya lagi dan Emily keluar dari kamar dengan merampas tas denim yang berisikan sisa-sisa barangnya. 

Beberapa kali nama Emily disebut ia tak kunjung kembali atau pun menoleh kebelakang. Amarah Emily sudah di puncak. Emily kelewat marah terhadap Ayahnya. 

Emily menggendong tasnya dan terus berjalan tanpa tujuan. Mengenakan masker hitam dan baseball cap hitam favoritnya menempel rapi di kepalanya. Ia menangis sepanjang perjalanan. 
Emily kesal, kecewa, sedih, marah, dan semakin benci ia terhadap Ayahnya. 

“Apa sih maunya mereka? Aku hanya nulis.. hiks.. hanya nulis. Aku nggak minta uang! Aku cuman minta kebebasan hiks.. hiks.” Gerutunya sambil terisak. 

Tangannya menghapus satu demi satu air yang mengalir dari matanya. Disela ia menghapus air matanya, seseorang menghampirinya. 

“Emily? Akhirnya ketemu disini. Kamu kemana aja sih? Ibumu menghubungi aku untuk…” belum selesai orang itu bicara Emily dengan cepat memeluknya. 

Sangat erat dan menagis sejadi-jadinya. “ok, ok. Ayo kerumah ku. Ceritakan semuanya,” ucap gadis tirus berparas cantik itu, sedikit tinggi dari Emily postur tubuhnya bak model muda di kalangan usianya. 

Dia Natalie, sahabat yang seperti saudara bagi Emily. Mereka menjadi dekat karena keluarga Emily pindah di kompleks perumahan dimana Natalie tinggal. 

Sesampainya di rumah Natalie, lebih tepatnya di kamar bernuansa putih dengan sentuhan biru tosca sebagai hiasan di langit-langit memberikan kesan sejuk utuk di pandang. 

Emily duduk melamun disisi ranjang milik Natalie. 

Natalie yang melihat sahabatnya murung itu merasa iba. Ia mendekatinya dan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja. 

Sekitar dua jam lebih mereka berdua berbincang-bincang, Natalie berhasil mengembalikan mood Emily yang tadi sempat hancur karena sikap Ayahnya. 

“Jadi, kamu beneran nggak mau pulang?” tanya Natalie saat mendengar keputusan sahabat karibnya itu. 

Bukan Natalie mau menolak, namun ia tau betapa khawatirnya kedua orang tau Emily. Belum lagi dengan masalah yang menimpa mereka itu akan sedikit rumit, pikir Natalie. 

Tapi ia bisa apa selain membantu dengan memberikan tumpangan untuk menginap semalam? Jika itu membantu Emily maka akan ia lakukan. 

Disisi lain diwaktu yang sama dengan tempat yang berbeda, Ibu Emily terus saja menangis dan berdoa agar anaknya kembali. Sedangkan Ayah Emily ia masih marah kepada Emily karena sikapnya yang begitu kasar. 

“hiks.. Ayah tak harusnya kasar begitu pada Emily. Hiks.. biar ibu yang bicara padanya nanti,” ucap Ibu Emily dengan isakan tangis, dan itu semakin membuat hati suaminya sakit. 

Ibu Emily meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya untuk kembali menghubungi teman-teman Emily. Berharap si putri semata wayangnya itu kembali. 

No comments:

Post a comment