Maafkan Anakmu (Chapter 3) - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 30 November 2019

Maafkan Anakmu (Chapter 3)

Penulis : Merlynda A.S
Editor : Nurul Izzah Utomo

Sumber: Ceritaku.my.id

Kekacauan yang  menimpa Emily membuat dirinya semakin sulit dekat dengan kedua orangtua nya, hanya karena kesukaannya pada menulis, Emily menjadi anak yang keras kepala, dia hanya mau melakukan apa yang ia suka tanpa memerdulikan saran dari orangtua nya. Isakan tangis ibu Emily masih terdengar di sudut kamar, dengan menggenggam ponselnya, Ibu Emily mencoba menekan-nekan nomor teman Emily yang dapat dihubungi.

Setelah beberapa jam ibu Emily memandangi ponsel, tak satupun berhasil menghubungi teman Emily, sampai akhirnya langit gelap kini meneteskan keluhnya, hujan. Hujan disertai angin membuat hati Ibu Emily menjadi kian khawatir. Emily memang anak semata wayangnya namun, seharusnya perlakuan Emily pada ayahnya tidak boleh seperti itu.

Jderr… suara Guntur disertai angin. Rembesan air mata ibu Emily kian deras. “astaghfirullah Emily kemana kamu, nak? hiks,” ujar sepatah kalimat ibu Emily.

Sementara itu, ayah Emily sedang membuatkan air minum hangat untuk istrinya, lalu diberikan padanya, “Bu, ini minum dulu, jangan sampai gara-gara memikirkan Emily ibu jadi sakit.”

“Iya yah, terima kasih, maaf ibu memang sangat khawatir pada Emily,” ujar ibu Emily menerima gelas dari suaminya dan meminum air hangat itu.

“Nanti kita cari bersama-sama, mungkin Emily main ke rumah temannya,” kata ayah sambil berusaha menenangkan istrinya.

Setelah itu, ayah Emily mencoba menghubungi teman dekat Emily kembali, yaitu Natalie untuk menanyakan kabar Emily.

“tutt.. Halo?” “iya halo?, Maaf pak tadi hp saya silent. Ada apa ya pak?” sahut Natalie.

“Begini Natalie, apa Emily sekarang berada di tempatmu?” Tanya ayah Emily.

“I-iya pak, di-dia.. em, sekarang di rumah saya,” jawab Natalie dengan sedikit takut karena Natalie tau jika sahabat karibnya itu tak menginginkan orang tua nya tau tentang keberadaannya.

“Alhamdulillah pak, dia di rumah Natalie kan pak?” sahut Ibu Emily dengan senang.

Di waktu yang sama, di rumah Natalie, Emily keluar dari kamar mandi, lalu ia mendengar Natalie menelepon orang tuanya, mood Emily yang tadinya kian membaik, kini terasa memuncak kembali, apa yang ia lakukan ini sebenarnya ingin bebas dari orang tuanya, namun temannya ini seakan-akan menghalangi kebebasannya, pikir Emily.

“Natalie! Kamu kenapa telpon ayahku?! Kan tadi aku udah bilang jangan lapor ke mereka!” Emily beranjak mengambil tasnya kembali lalu keluar dari kamar Natalie. Kini ia merasa tak aman di rumah Natalie.

“Sebentar Emily! Aku bukannya melapor, mereka khawatir padamu, kamu memang ingin bebas aku tau. Tapi, tidak begini juga Emily!” kejar Natalie sambil menarik tangannya.

“Sudah lah! Kamu sama aja seperti ayah!” Emily menarik paksa tangannya yang dipegang Natalie.

“di luar masih hujan. Bahaya Emily!” teriak Natalie dengan lantang.

Tak ada sahutan apapun dari Emily, ia bergegas keluar dari rumah. Natalie mengejarnya, namun nihil ia sudah berlari ke jalanan meskipun hujan angin menerpanya. Di tengah perjalanan, Emily menggerutu karena saking kesalnya pada semua orang, teman yang dipercayainya malah membuat ia tidak bebas, ia berjalan, melamun di tengah hujan angin, sekujur tubuhnya basah kuyup. Ia tak tahu akan kemana lagi, ia ingin mencari tempat yang bebas, tempat yang sunyi sehingga membuatnya tenang dan merasa damai.

Namun, Qadarullah, di tengah derasnya hujan, ada truk yang melintas, truk yang hilang kendali karena kaca depan tertutupi air hujan, klakson sudah dibunyikan, tanda untuk mengalihkan apapun dari lintas jalannya.

“tiin.. tiin.. tiin!” suara klakson truk sudah terdengar tetapi, Karena berjalan sambil melamun Emily melintas ke jalanan itu, sontak ia kaget karena tiba-tiba ada truk didepannya.

“Brakk..” Emily terpental dari jalanan itu ke trotoar, samar-samar ia hanya bisa memandangi tas yang berisi laptopnya itu berhamburan. Redup.. semakin redup..

“jderrrr blarr.. pyarr..” suara guntur disertai suara pigura yang terpajang di rumah Emily jatuh dan pecah, sontak ibu dan ayah Emily kaget.

“yah, astaghfirullah, perasaan ibu tidak enak yah, kenapa ini. Emily,” ucap ibu Emily dengan ketakutan dengan cepat ayah Emily menghampiri dan memeluk istrinya.

No comments:

Post a comment