Manipulasi Tauhid dalam Salam - Araaita.net

Breaking News

Friday, 15 November 2019

Manipulasi Tauhid dalam Salam



Araaita.net - Belakangan ini intensitas identitas kembali ramai, pasalnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam surat edaran bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang diteken Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum Ainul Yaqin menyatakan bahwa mengucapkan salam semua agama merupakan bid'ah, mengandung nilai syubhat, dan patut dihindari umat Islam. Tentu fatwa ini menimbulkan polemik antar umat beragama karena dianggap mengandung nilai-nilai intolerensi.

Sebenarnya apa hakikat salam sendiri, apakah hanya sebagai sapaan formal sesama umat muslim. Atau dalam salam sendiri mengandung doa keselamatan, bahkan mungkin sebagai mantra penjaga umat muslim yang disakralkan sehingga harus ada pemisah antar salam umat muslim, Hindu, Buddha, dan Kristen.

Salam merupakan penghormatan yang dimiliki semua budaya dan agama. Baik di masa kini, maupun di masa kuno. Di Arab pra Islam (Jahiliyyah) sendiri, ada beberapa ungkapan salam yang berlaku. Di antaranya: abayta al-lan (secara harfiah: engkau tak mau dilaknat) atau isy alfa am (hiduplah seribu tahun lagi). Salam tersebut biasa diucapkan oleh Kerajaan Ghassan yang beragama Nasrani.

Sebagai agama rahmah yang menebarkan pesan kasih sayang, Islam tidak membatasi varian salam selagi masih dalam rangka menjaga ukhuwah basyariyah antar umat manusia.

Secara makna harfiahnya, varian salam berbagai agama sama-sama untuk mendoakan. Umat Hindu biasa mengucapkan salam Om Swastyastu yang berarti “Semoga anda dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widhi".

Sedangkan dalam Buddha biasa dengan Namo Buddhaya, artinya “Terpujilah Buddha (yang telah merealisasi pencerahan agung)”. Ungkapan tersebut sebenarnya bukan salam, tapi ungkapan penghormatan seseorang kepada Buddha. Di Kristen sendiri, biasa dengan Salam Sejahtera. Semua itu menunjukkan bahwa Nusantara tidak hanya untuk satu golongan umat saja.

Menentukan membaca salam dengan ucapan Assalamu'alaikum kemudian di tambah dengan bacaan salamnya non muslim bisa dikategorikan ibadah atau tidak perlu diketahui dari niatnya. Jika nitanya untuk menghormati, dan empati atau untuk melakukan seremonial forum maka tidak bisa dikategorikan  bid'ah apa lagi syubhat, karena tidak bisa dikatakan bagian dari ibadah.

Konsekuensinya apa yang dikatakan tidak memperoleh pahala dari Allah, hanya memperoleh imbalan sesuai yang diniatkan sejak awal.

Dapat dikatakan amalan bisa menjadi ibadah atau tidak sangat tergantung niatnya, jika niatnya tulus dan baik bisa menjadi ibadah, jika niatnya tidak baik maka tidak bisa dikategorikan ibadah.

Kalau mengucapkan salam menjadi tolak ukur keimanan seseorang, bisa saja letak iman itu bukan di hati tapi di mulut. Hal ini tentu bertolak belakang dengan nash-nash al Quran dan hadist. Dalam kacamata pancasilaisme, pelarangan mengucapkan salam semua agama telah menodai nilai-nilai toleransi sosial, dimana menjaga keharmonisan sosial lebih penting. (ik)

No comments:

Post a comment