Radikalisme dan Terorisme Bukan Monopoli Salah Satu Agama - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 21 November 2019

Radikalisme dan Terorisme Bukan Monopoli Salah Satu Agama

Reporter : Uma Ageng Pathu Prayoga


Santai: Ahmad Nurwahid saat menjelaskan Radikalisme dan Terorisme, di Gedung Twin Tower, lantai 9, Rabu (20/11) (Doc: Yoga/Arta)

Araaita.net-  Ahmad Nurwahid mengungkapkan bahwa radikalisasi dan terorisme dalam konteks pemahaman, sikap, dan tindakan politik yang  bernuansa agama  bukan monopoli  salah satu agama.

Kepala Bagian Bantuan Operasional (Kabagbanops) Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror (AT) Polri tersebut juga mejelaskan bahwa radikalisme dan terorisme berpotensi ada di seluruh agama bahkan di seluruh sekte atau kelompok.

"Radikalisme dan terorisme sangat berpotensial di setiap individu manusia," ujarnya saat mengisi acara seminar nasional Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pemikiran Politik Islam (PPI), di Gedung Twin Tower Lantai 9, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Rabu, (20/11).

Ia  memberikan contoh pada kasus masyarakat muslim di Rohingya dimana ada Biksu yang memprovokasi atau mengompori masyarakat setempat sehingga terjadi sebuah pengusiran dan pembakaran rumah-rumah penduduk Rohingya.

Selain di Rohingya, ia juga mencontohkan beberapa kasus lainnya, seperti pembakaran Masjid di Papua. Di Srilangka ada kelompok pemerkosaan dan perampokan, di Amerika ada kelompok bertopeng putih sekte Kluklukan yang suka meneror, melukai, dan membunuh masyarakat.

Dengan berbagai contoh tindakan radikalisme dan terorisme tersebut, ia menyimpulkan bahwa radikalisme dan terorisme bukan monopoli salah satu agama.

Selain itu, menurut Ahmad  adanya radikalisme dan terorisme yang mendominasi dan  mengatasnamakan islam hakikatnya adalah fitnah bagi islam.

"Radikal dan terorisme dengan nama Islam justru membuat pecah belah islam," ungkap Komisaris Besar Polisi tersebut.

Pejabat utama Densus 88 AT tersebut menambahkan bahwasannya, makna radikalisme menurut KBBI lebih cenderung keranah pemahaman, pemikiran, sikap, dan tindakan.

"Kita akan menindak jika  melanggar UU IT, UU KUHP, selain itu ditolerir," tambahnya

Selain itu, ia menegaskan bahwasannya suatu paham radikal, ketika melakukan aksi teror yang melanggar UU anti teror No.5 2018 maka disebut terorisme.

"Radikal belum tentu teroris, sebaliknya teroris pasti radikal," ungkapnya.

Selain mengundang Ahmad Nurwahid, seminar nasional yang bertajuk "Urgensi Pemikiran Politik Islam Dalam Narasi Kontraterorisme" ini juga mengundang Ainur Rofik, pakar radikalisme.

Dalam pemaparannya ia menyampaikan bahwa salah satu tips menangkal radikalisme yaitu harus sering bercanda.

"Kalian jangan kenceng terus maka  akan mudah dimasuki setan-setan radikalisme," ujar laki-laki berbaju batik tersebut

Selain itu, Ainur Rofik juga menjelaskan radikalisme dibawa dengan keindahan nama - nama agama namun dikemas dengan sangat berbeda.

"Jadi radikalisme seperti bunga api," ungkapnya.

Ia juga memaparkan bahwa tampilan yang islami bukan barometer bahwa ia benar dalam beragama.

"Tampilan agama secara fisikal jangan mudah di kagumi dan jangan sampai takluk tunduk 100%  kalo memangnya islamnya radikal," pungkasnya.

Editor : Fika Khoirotun Nisak

No comments:

Post a comment