Maafkan Anakmu (Last chapter) - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 15 December 2019

Maafkan Anakmu (Last chapter)

Penulis: Merlynda A. S.
Editor: Nurul Izza Utomo

Sumber: Ceritaku.my.id


“Brakk..”

Suara truk yang telah menabrak Emily, ia terpental. Samar-samar ia hanya bisa memandangi tas yang berisi laptopnya, berhamburan, penglihatan Emily terasa perih, Redup, dan semakin redup.

Bersamaan dengan kejadian ini teman Emily, Natalie. ia  yang mengejar Emily  mengetahui hal itu dan ia berteriak, tersedu-sedu dan berlari menghampiri Emily yang terkapar di jalanan itu.

“Emilyy!! Ya Ampun darah, astaghfirullah,”

Dengan begitu, Natalie kemudian berteriak meminta pertolongan, lalu warga yang ada segera membantunya, membopong dan memanggil ambulans, tak lama ambulans datang Emily dilarikan ke rumah sakit.

Hujan semakin deras, udara dingin menusuk tulang, membuat suasana hati ibu Emily kian campur aduk.

“Yah, astaghfirullah, perasaan ibu tidak enak, kenapa ini? Emily yah,” ucap ibu Emily dengan rasa takut dan khawatir, dengan cepat ayah Emily memeluk istrinya.

Suara ambulans kian menusuk indra pendengaran ibu Emily dan ayah Emily lantaran suara itu terdengar jelas di sekitaran rumah.

“Yah, ya allah ada suara ambulans dekat sini, ibu khawatir, ibu mau ke rumah Natalie sekarang pokoknya,” dengan sigap karena kekhawatirannya ibu Emily melepas dekapan suaminya dan bergegas ke rumah Natalie. Ia berlari, menerjang derasnya hujan dan menuju ke rumah Natalie.

Sesampainya di rumah Natalie, ia mengetuk pintu, memanggil namanya, namun nihil tidak ada jawaban, perasaannya kian memburuk, ia semakin menangis tak karuan, khawatir bercampur takut. Tak lama, suaminya menyusul, kini mereka menunggu di depan rumah Natalie.

Mereka bermaksud mencari kabar dengan menghubungi ponsel Natalie, namun tidak ada jawaban juga.

“Bu kita kembali ke rumah dulu yuk, hujannya deras ga sehat kalau lama-lama kena angin,” ujar ayah Emily merayu istrinya. Ibu Emily hanya menggeleng, dan menunduk lemas.

“Nanti kita cari lagi, ya? Kita ke rumah dulu aja,”

Keadaan di rumah sakit membuat Natalie yang menunggu di koridor depan kamar Emily menjadi tampak kebingungan, ia mondar-mandir bingung harus berbuat apa dan harus menghubungi siapa, air mata Natalie tak bisa berbohong bahwa dia sangat sedih dan tertekan dengan kejadian yang menimpa sahabatnya itu, ia khawatir sangat khawatir.

Rasa bimbang menyelimuti hatinya yang kian rapuh, haruskah dia menghubungi orang tua Emily? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Tak mau ambil pusing dan resiko yang akan semakin memperkeruh suasana juga tak peduli pada apa yang dikatakan orangtua Emily nantinya, ia langsung menghubunginya, menghubungi orang tua Emily dengan rasa takut menyelimuti perasaan Natalie, ia menekan beberapa nomor cantik di ponselnya, mencoba menghubungi orangtua Emily.

“ha-halo assalamualaikum,”

“wa’alaikumussalam, nak Natalie, kamu dimana, ini saya di depan rumah kamu kok kosong nggak ada orang? Kamu sama Emily kan nak? Halo?” jawab ayah Emily sedikit berteriak karena suara bising dari hujan.

“ya pak, sa-saya sama Emily,” suara Natalie diselingi isakannya.

“kamu kenapa? Emily dimana sekarang? Ini ibunya khawatir,” tanya ayah Emily yang juga ikut khawatir.

“maaf pak sebelumnya, sa-saya sekarang di Rumah sakit tadi Emily itu pak,” ujar Natalie dengan terbata-bata.

“Emily kenapa? Kamu bicara yang jelas!” sahut ayah Emily.

“itu tadi, Emily.. kecelakaan pak, sekarang mohon bapak kesini dulu nanti saya jelaskan, mohon maaf pak, huhu,” jawab Natalie dengan rasa gelisah.

“apa?! Astaghfirullah nak, Ya saya kesana sekarang.”

“yah, Emily kenapa?” sontak ibu Emily kaget dan semakin khawatir.

“sekarang kita ke rumah sakit dulu ya bu?”
“apa? astaghfirullah Emily kenapa yah?”

Orang tua Emily bergegas menuju rumah sakit dimana Emily dirawat, hujan kian reda, namun rintik-rintik gerimis dan awan gelap masih menyelimuti suasana siang ini. Sesampainya di rumah sakit, mereka bertemu dengan Natalie yang sedang duduk di pojokkan kursi koridor depan ruang Emily.

“apa yang terjadi Natalie? Kenapa Emily sampai kecelakaan?”

“maaf pak, ini mungkin salah saya pak, sa-saya tidak bisa menjaga Emily, maafkan saya,” jawab Natalie yang hanya tertunduk sambil terisak-isak.

Haru, pilu, kekhawatiran menyelimuti ruangan ini, mereka yang dirundung duka, kini hanya bisa berdoa dan menunggu kabar dari dokter. Lalu tak lama, dokterpun keluar dari ruangan tempat Emily di tangani.

“permisi siapa disini keluarga dari pasien?” tanya pak dokter itu.

Bergegas ayah Emily maju menemui dokter itu. “ya dok, saya ayahnya, bagaimana keadaan putri saya dok?”

“sebelumnya saya minta maaf, pak. Kami pihak medis telah melakukan semampu kami. Namun apa yang kami harapkan tidak sesuai harapan kami,” ucap dokter yang menangani Emily.

“maksudnya apa dok? Kenapa Emily?!” tanya ayah Emily gusar.

“begini pak, kemungkinan besar Emily tertabrak dengan keras. Hingga membuatnya mengenai beberapa serpihan kaca dan beberapa ranting yang ada di lokasi. Itulah yang membuat kornea Emily terluka cukup parah. Kami khawatir jika mengambil langkah lebih jauh akan semakin memperburuk keadaan. Kami mohon maaf. Sisanya, Emily luka di bagian tangan dan kakinya,” jelas pria berbaju khas rumah sakit itu.

“astaghfirullah nak,” ucap ibu Emily dengan air mata yang kian deras.

Bagaikan tersambar petir lagi dan lagi. Ibu Emily benar-benar tak mengerti karma apa yang menghampiri anak atau keluarganya sekarang.

“jika kalian mau melihat keadaan Emily, silahkan. Kami akan datang kembali untuk membawanya ke ruang ICU untuk menjahit luka yang sobek di bagian mata juga mengambil serpihan kecil dari kaca itu,” pamit dokter itu.

Orang tua Emily serta Natalie memasuki ruangan dimana Emily berbaring lemas disana. Ada yang berbeda dengan penampilannya. Tentu saja. Matanya yang di tutup dengan kassa dan itu masih meninggalkan bercak merah darah disana. Ibu Emily sakit melihat anaknya seperti ini. Ayahnya terutama juga sangat terpukul. Natalie merasa bersalah karena tak mengantar Emily pulang malah mengajaknya kerumahnya. Serasa atsmosfer kala itu berbeda, sangat sunyi, dan juga sakit.

Setelah operasi di lakukan, Emily tak kunjung sadar hingga berhari-hari. Hingga akhirnya, sekitar satu minggu lebih orangtua Emily menunggu putri kecilnya itu sadar, dan tiba saatnya kini Emily tersadar. Dan juga, luka di matanya sudah membaik juga kassa menyebalkan itu akhirnya boleh di lepaskan.

“Emily, buka matamu perlahan, walau itu sakit. Pelan-pelan saja,” ujar dokter.

Ibu Emily sudah tak kuasa menatap anaknya yang seperti itu. Ia terus memeluk lengan suaminya dan menahan tangisannya.

 “dok, apa ruangan ini tak ada lampu? Kenapa gelap sekali?” Tanya Emily dengan suara seraknya. Ibu dan ayah Emily menangis dalam diam. Ibu Emily memeluk suaminya dan menangis disana.

Dokter yang menangani Emily pun ikut meneteskan air mata karena merasa iba dengan Emily. Perawat yang ada pun demikian.

 “dokter, ayah dan ibuku dimana? Kenapa disini gelap sekali. Dimana  saklar nya? Tolong nyalakan. Saya tak bisa melihat apapun,” ucap Emily lagi.

Semakin Emily berkata-kata semakin tersayat hati ibunya. Karena merasa tak kuasa melihat putrinya demikian. Sang ibu datang memeluk anaknya dengan erat.

“siapa? Siapa ini?” Tanya Emily ketakutan.

“ini.. hiks.. ibumu nak,” ucap ibunya sembari menangis.

Emily terkejut mengapa ibunya menangis dan entah mengapa ia ikut menangis.

“ibu kenapa menangis? Ibu tolong nyalakan lampunya. Disini gelap sekali. Tolong bu,” oceh Emily lagi.

Ibunya menggeleng pelan walau sebenarnya itu tak Nampak di mata Emily.

“tak bisa nak. Lampu mu mati untuk selamanya hiks.. hiks..” ucap ibunya lagi dan kali ini pelukannya semakin erat.

Karena ayahnya melihat ekspresi Emily yang tak mengerti maksud ibunya, ayahnya menghampiri Emily dan juga memeluknya sama seperti yang di lakukan istrinya.

“maafkan ayah dan ibu nak. Kamu buta. Untuk selamanya. Karena kecelakaan yang kamu alami, nak. Maafkan ayah,” ucap ayahnya kini menangis di pelukannya.

Emily terdiam sesaat dan menangis meluapkan rasa menyesal, marah, kesalnya pada dirinya sendiri. Detik itu juga Emily teringat akan suatu hal. Tangannya seperti meraba-raba sesuatu namun tak bisa ia gapai.

“ayah.. ayah.. hiks..” karena merasa di panggil.

Ayahnya mendekatkan dirinya dengan putrinya. Merasa ayahnya berada di dekatnya, Emily akhirnya mengutarakan perasaanya.

“a-ayah.. maafkan anakmu ini. Tak seharusnya Emily membentak ayah dan membenci ayah karena talenta yang ku miliki. Maafkan aku, yah,” Ucap Emily dengan air mata bercucuran.


No comments:

Post a comment