Pengembaraan Khalif Sebagai Pancer Ing Penjuru - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 15 December 2019

Pengembaraan Khalif Sebagai Pancer Ing Penjuru

Reporter: Rafika Wahyuni Melina
Editor: Khildah Fil Jannah

Adegan ketika Aklan, Khalif, dan Ruhan terjebak di bola pada pementasan Pancer Ing Penjuru Teater Eska di Auditorium Uinsa (14/12) Doc. Shifani/Arta

Gelapnya ruangan menyambut penonton ketika memasuki gedung Auditorium Uin Sunan Ampel Surabaya (Uinsa). Dengan dituntun panitia menggunakan flashlight, penonton diarahkan untuk menempati tempat duduk yang disediakan.

Suasana gelap di ruangan itu tiba-tiba pecah ketika datang petasan dari tribun belakang Auditorium Uinsa, mengundang tepuk tangan dari penonton.

Enam perempuan berbaju abu-abu, biru, merah dengan hiasan kepala warna biru muncul dengan menyanyikan lagu mengikuti alunan musik.

Salah satu diantara enam perempuan yang disebut Malakut (malaikat) bergerak tidak tentu arah dengan tertawa dan menyanyi “La La La La”, dengan besi berbentuk infinity yang tergantung di tengah tengah atap perlahan naik.

Sorot lampu biru menerangi keenam perempuan tersebut dan terus begitu, hingga dua orang laki-laki muncul.

Dua orang laki-laki itu terlibat percakapan yang cukup serius. Salah seorangnya yang berpakaian hitam, coklat dengan benjolan di punggung Ruhan namanya berkata.

“Kita sudah sampai di tempat yang tepat, suara senandung itu jadi penandanya”

“Itu hanya perasaanmu saja, aku tak mendengar apapun” ucap pria satunya bernama Aklan yang berpakaian coklat muda dengan rompi warna senada.

“Tidak tidak, aku jelas mendengarnya. Kita sudah sampai” pria bungkuk itu terus meyakinkan.

“Tidak kau salah” ucap Aklan.

Dengan sorot lampu warna kuning oranye, mereka terus terlibat perdebatan siapa yang benar, seperti pada umumnya, perasaan dan akal terkadang memang tak sinkron. Tapi mereka sama-sama merindukan seseorang yang mereka cari.

“Aku merindukannya, dan kaupun juga merindukannya” ucap Ruhan dengan menatap penonton.

“Ya, aku merindukannya” balas Aklan dengan memutar-mutar kedua tangannya sebagai ciri khas.

Kedua orang pria itu pergi meninggalkan panggung pentas, sepeninggalnya mereka, lampu berganti merah menyoroti bola besar yang dikelilingi tongkat kayu di tengah panggung. Keluar orang dari tumpukan kain warna merah hati dan biru tua di tengah kain itu.

Malakut memasuki panggung dengan diiringi musik dan bernyanyi seakan-akan memanggil laki-laki di dalam bola itu.

“Kenapa kalian selalu memanggilku, tidakkah kalian tahu bahwa aku lelah, aku tak tahu arah” ungkap laki-laki yang sebagai seorang pancer bernama Khalif.

“Dunia membutuhkanmu, bangunlah” teriak Malakut

Musik berdentang lebih keras dengan Malakut yang menarik bola si Khalif untuk menuruni panggung. Khalif mengkuti arah bola itu dan tetap terjebak di dalamnya.

“Wahai Engkau dengan segala luka, sesungguhnya aku tidak sanggup sendirian” teriak Khalif.

Musik terdengar kembali, sorot lampu yang tadi biru menjadi kuning oranye, muncullah Ruhan dan Aklan.

“Akhirnya kami menemukanmu” ucap si Ruhan dengan senyum merekah

Mereka bertiga, Aklan, Ruhan, dan Khalif terlibat percakapan di dalam bola setelah sekian lama tidak bersua. Hingga Malakut menyergap ketiganya menyuruh untuk pergi

“PERGI! PERGI!”

Mereka enggan pergi dan Malakut memberi kesempatan mereka dengan memberikan sebuah pertanyaan.

“Apa yang berhembus di atas ubun-ubun? Dan apa yang merayap di antara kaki sampai ke ulu hati?”

“Aku tahu, pasti udara” ucap Aklan

“Tidak, itu pasti kegelisahan” ucap Ruhan

Mereka terlibat dalam perdebatan sengit, siapa yang benar, dengan dentingan alat musik yang bersahutan ditambah suara dari Malakut yang ikut mengompori keduanya. Hingga Khalif menjawab.

“Jawabannya adalah AKU”

“Aku suka jawaban itu” ucap Malakut

Malakut meletakkan tongkat yang sebelumnya mereka bawa untuk menyergap ketiganya. Lampu yang ada di tongkat itu hidup berwarna putih. Malakut menarik bola yang berisi ketiganya untuk naik ke atas panggung yang sudah ada tongkat di kedua sisinya.

Tiba-tiba suasana menjadi mencekam. Malakut baris di depan penonton seraya berkata “Dingin, Dingin”. Ketiga orang di dalam bola bingung dengan keadaan itu. Khalif berkata kepada malakut, menanyakan siapa dirinya dan apa yang harus dilakukannya.

Suasana menjadi lebih dingin, Ruhan dan Aklan meninggalkan panggung pentas. Tinggallah Khalif yang bernomolog.

Kemudian dari arah selatan muncul seorang kakek dengan lampu di bajunya, dan menaiki tangga yang disiapkan oleh malakut, dan terlibat percakapan dengan Khalif.

“Hatimu Tuli, Telingamu Buta. Sudah berpuluh tahun aku berbicara denganmu” ucap si Baya (menifestasi orang suci) sambil berputar putar.

“Aku tidak pernah mendengarmu” balas Khalif dengab tubuh yang perlahan merunduk terlentang.

“Kau hanya mendengar dirimu sendiri, kau tidak mendengar apa-apa” kata Baya menatap Khalif tajam.

“Kau ingin sempurna, Kau tak sanggup, Kau sudah terlalu dalam mengikuti hasratmu” Lanjut Baya.

“Lantas apa yang harus aku lakukan?” tanya Khalif terdengar pasrah.

“Dengan menjadi tidak sempurna, ketahuilah yang harus dilakukan dengan penerimaan terhadap kita sendri”

Baya turun dari tangga besi itu kembali ke tempat awal ia masuk, dan meninggalkan Khalif yang masih mempunyai banyak pertanyaan.

Sorot lampu menjadi biru merah. Muncul dua orang sebagai naga yang dikiaskan sebagai kekacauan yang terjadi di dunia.

Malakut takut apa yang akan terjadi setelah muncunya kekacauan-kekacauan itu.

“Tenang, kita bisa menghadapinya” ucap Khalif yang sudah menempati tempat Baya sebelumnya

“Tidak, kami sudah terlalu lelah dengan semua ini” ujar Malakut

“Aku akan terus berjalan” putus Khalif menatap serius penonton

Suara nyanyian "La La La La" diiringi alunan musik terdengar kembali, sorot lampu biru kuning menyoroti Khalif yang berdiri di tengah panggung sambil merentangkan tangan, dengan suara riuh tepuk tangan penonton tanda pementasan selesai.

No comments:

Post a comment