Teknologi Augmented Reality (AR) Dan Virtual Reality (VR); Langkah Antisipasi VUCA - Araaita.net

Breaking News

Friday, 24 January 2020

Teknologi Augmented Reality (AR) Dan Virtual Reality (VR); Langkah Antisipasi VUCA

Penulis: Arfan Eka Wijaya

Sumber: springthink.id

Dunia telah melewati peradaban panjang pada sejarah perkembangan manusia. Pada zamannya, manusia akan berkembang sesuai kapasitasnya masing-masing. Termasuk pada era millenial saat ini, dimana hampir rata-rata aktivitas manusia bergantung dengan operasi sistem atau internet. Hal itu berkat kemajuan teknologi yang sangat berkembang pesat. Perkembangan tersebut membuktikan kalau pada era millenial memiliki signifikansi perubahan zaman. Perubahan itu membawa perbedaan dalam menjawab tantangan zaman. Pada era millenial, sebuah inovasi atau gagasan segar dan kreatif lebih dibutuhkan dibandingkan dengan mengikuti sistem operasi yang kuno. Namun, kondisi dunia menghantarkan pada sebuah keadaan bernama Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA). Situasi tersebut mempersulit untuk menangkap urgensi permasalahan dari sebuah masalah.

Perubahan pesat pada teknologi  menyeret pada lembaga atau instansi yang harus selalu berinovasi menyesuaikan tren. Tingkat kompetisi untuk saling berkembang memiliki ruang yang ketat dan kompetitif.  Misalnya saja teknologi pembayaran di pusat perbelanjaan, belum lama ini barcode  terlihat canggih. Kecanggihan tersebut membuat kasir tak perlu lagi memasukkan kode barang untuk bisa masuk ke database hingga pembayaran, mereka cukup memindai barcode pada setiap produk. Teknologi bergerak semakin tak menentu. Selang beberapa waktu, muncul istilah Radio Frequency Identification (RIFD). Bahkan RIFD kalah canggih dengan Near Field Communication (NFC). Teknologi NFC ini memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi apapun dengan internet hanya lewat smartphone mereka. Pergerakan cepat dua teknologi itu menggeser kecanggihan barcode. Barcode yang dulu canggih, sudah saatnya dibilang kuno.

Bagian pertama VUCA adalah Volatility. Dimana sebuah perubahan dinamika yang sangat cepat dalam berbagai hal seperti ekonomi, sosial, khususnya teknologi. Siapapun orangnya harus siap dengan teknologi yang berubah-ubah dengan cepat. Terlebih pada era Internet of Things (IoT). Bisa jadi, suatu saat akan ada mesin cuci berbasis IoT yang mampu mendeteksi pakaian kotor yang sudah waktunya untuk dicuci, kapan waktu yang efektif untuk mencuci hingga mengingatkan pengguna ketersediaan sabun cuci, lahan untuk menjemur, dan kondisi mesin.

Selanjutnya Uncertainty, memiliki makna sulitnya memprediksi isu dan peristiwa yang saat ini sedang terjadi. Dalam hal ini, Uncertainty berhubungan langsung dengan kompetitor. Dahulu bisa saja Blue Bird menghadapi persaingan dengan sesama perusahaan taksi. Namun saat ini, Blue Bird harus menghadapi pemain anyar berbasis online yang langsung mendisrupsi pasarnya. Berdasarkan rekam jejak apik Blue Bird, perusahaan jasa transportasi taksi itu boleh bangga, karena pernah menjadi perusahaan taksi nomor satu di Indonesia. Akan tetapi, sekarang Blue Bird yang besarnya demikian pun harus bertekuk lutuk kepada Go-Jek dengan melakukan kolaborasi.

Bagian berikutnya adalah Complexity. Sependek pengetahuan saya, bagian ini memiliki makna gangguan kompleks yang mengelilingi setiap perusahaan atau instansi. Generasi millenial merupakan customer dari segala produk yang diproduksi oleh perusahaan. Customer millenial sudah jarang menghampiri gerai ritel offline, mereka bergeser pada smartphone yang semakin tren. Konsumen bisa semakin leluasa memilih dan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan hanya lewat sentuhan jari. Tentunya dalam hal ini perusahaan bukan hanya harus siap, tetapi juga bertransformasi.

Mengenai Ambiguity, bagian ini merupakan sebuah keadaan yang masih terasa ngambang. Dalam kondisi apapun kita harus berhati-hati dalam mengambil keputusan dan tidak asal-asalan menentukan tujuan. Bahwa inovasi tidak selalu menjadi solusi untuk melayani konsumen terhadap perubahan.

Teknologi akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Membangun teknologi perlu Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dan berkualitas. SDM menjadi titik penting untuk mengantisipasi VUCA. Pengembangan SDM harus digalakkan guna meningkatkan intuisi terhadap perubahan zaman. Peningkatan kualitas SDM dapat dilakukan melalui pendidikan berbasis teknologi. Salah satunya dengan augmented reality (AR) dan virtual reality (VR). Kedua alat ini dapat meningkatkan kualitas proses berlajar mengajar. VR dilaksanakan secara virtual dengan rangsangan terbatas dari dunia nyata. Sedangkan AR dilaksanakan secara langsung, tetapi dilengkapi oleh elemen-elemen digital.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kita harus menghadapi VUCA dengan VUCA. Hal itu tertera dalam buku karya Bob Johansen, Leaders Make The Future: Ten New Leadership Skills for Uncertain World (San Fransisco, 2009) mengingatkan bahwa gejolak VUCA perlu diantisipasi dengan VUCA. Mengapa demikian? VUCA yang kedua ini kependekan dari Vision (sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan, yang hendak kita wujudkan di masa depan), Understanding (pemahaman terhadap perubahan-perubahan dan hal-hal yang perlu diantisipasi dan menghadapinya perlu dipahami dengan baik dan benar), Clarity (kemampuan seseorang melihat masa depan, mewujudkan visinya sangat luwes dan flexibel) dan Agility (kelincahan menghadapi perubahan, menghadapi tuntutan terhadap perkembangan baru yang tiba-tiba muncul wajib menyatu pada diri seorang pemimpin sekarang).

No comments:

Post a comment