Menilik Rumah Kos Sang Proklamator di Surabaya - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 13 February 2020

Menilik Rumah Kos Sang Proklamator di Surabaya

Reporter: Arum Putriani

Doc: pribadi

Tidak heran jika Surabaya terkenal sebagai Kota Pahlawan, karena kota ini telah menjadi saksi sejarah perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan Indonesia.

Ada banyak sekali tempat-tempat bersejarah di Surabaya yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik.

Misalnya saja rumah milik Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang lebih dikenal dengan HOS Tjokroaminoto, rumah sederhana yang dulu menjadi tempat kos Soekarno selama menempuh pendidikan di Hogere Burger School (HBS) ini terletak di Jalan Peneleh, gang VII, no. 29-31, Surabaya.

Bangunan rumah bergaya jawa kuno tersebut sejak tahun 2017 telah disulap menjadi museum oleh Pemkot Surabaya.

Rumah sederhana dengan nuansa cat hijau tua dan putih ini memiliki pagar yang terbuat dari kayu dengan tinggi sekitar satu meter. Di kanan-kiri pintu masuk terdapat jendela dua pintu.

Memasuki rumah, di sebelah kanan terdapat empat kursi dari kayu jati yang tertata rapi mengelilingi meja.

Di sebelah kiri, dipajang foto-foto HOS Tjokroaminoto dari tahun ke tahun yang disertai dengan penjelasan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sehingga sangat memudahkan bagi pengunjung lokal maupun pengunjung asing.

Selain itu, juga terdapat sketsa denah rumah pahlawan nasional tersebut sebelum mengalami beberapa renovasi karena perubahan pemilik.

“Dulu bentuk rumahnya seperti ini (menunjuk sketsa), tapi sekarang beberapa ada yang berubah, misalnya disini dulu kamar tapi sekarang dibongkar jadi los sampai belakang,” jelas Eko, salah satu petugas museum.

Berjalan ke belakang, masih berjejer foto-foto perjalanan karir dan tulisan-tulisan HOS Tjokroaminoto yang pernah dimuat dalam surat kabar pada jaman itu. Di bagian ini terdapat pula etalase yang berisi buku-buku kegemaran pahlawan asal Ponorogo tersebut.

“Mbah Tjokro itu suka membaca, ini beberapa buku yang pernah beliau baca,” tutur laki-laki berbaju batik tersebut.

Di sisi yang lain adalah kamar yang ditempati oleh HOS Tjokroaminoto bersama istri, kamar tersebut masih lengkap dengan ranjang besi khas jaman dulu, meja rias yang diatasnya terlipat rapi sarung putih bergaris-garis hitam, dengan bordiran nama HOS Tjokroaminoto berwarna kuning, di sebelahnya tergantung kopiah dengan bordir yang sama dengan sarung sebelumnya.

Menurut penjelasan Eko, sarung dan kopiah tersebut hanya sebagai properti pelengkap untuk menggambarkan bahwa ketua organisasi politik pertama Indonesia tersebut adalah pribadi yang sangat religius.

“Ini (sarung dan kopiah) untuk menggambarkan bahwa beliau ini orang yang sangat taat beribadah,” jelasnya pada sabtu (08/02) lalu.

Di bagian belakang terdapat tangga besi menuju loteng. Di loteng berlantai kayu inilah Soekarno dulu belajar dan tidur beralaskan tikar pandan.

Selain untuk rumah pribadi, dulu istri HOS Tjokroaminoto juga membuka usaha kos, yang kemudian menjadi tempat kos tokoh-tokoh terkenal Indonesia. Selain Soekarno, tokoh-tokoh yang pernah kos di rumah ini adalah Kartosoewirjo, Musso, dan Alimin.

Museum HOS Tjokroaminoto ini buka pada hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00-17.00 WIB. Untuk berkeliling dan menikmati suasana museum ini tidak diperlukan tiket masuk alias gratis, para pengunjung hanya dipersilakan untuk mengisi buku tamu saja.

No comments:

Post a comment