Polrestabes Malang Tangkap 3 Pelaku Vandal, LBH: Penangkapan Tak Sesuai Prosedur - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 22 April 2020

Polrestabes Malang Tangkap 3 Pelaku Vandal, LBH: Penangkapan Tak Sesuai Prosedur

Reporter: Yoga
Editor: Khilda

Ilustrasi coretan vandalisme di dinding tembok

Araaita.net-   Polrestabes Malang Kota menangkap dan menahan tiga pemuda yang dituduh sebagai pelaku penghasutan dengan aksi vandalisme di 33 titik wilayah Malang Kota, Jawa Timur.

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata mengungkapkan ketiganya masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota Malang. 

Ketiga pemuda tersebut yaitu Ahmad Fitron Fernanda, M. Alfian Aris Subakti, dan Saka Ridho. Ketiganya ditangkap di rumah masing-masing, yakni daerah Sidoarjo, Lawang, dan Singosari.

Leo juga menjelaskan modus operasi mereka dengan berboncengan menuju lokasi yang dituju dengan berbekal cat phylox. 

"Kemudian masing-masing berperan sebagai yang mencoret dan satu lagi kemungkinan menjadi pengawas," jelasnya dilansir dari radarmalang.id, Selasa (21/4).

Ia juga menambahkan bahwa coretan-coretan tersebut bernada makar dan terdapat logo “A” dimana hal tersebut mengarah pada kelompok “Anarko” yang hari ini ramai diperbincangkan.

Menurut keterangan dari keluarga terduga, yang di lansir dari siaran pers YLBHI, LBH Surabaya dan LBH Pos Malang, pada tanggal 19, sekitar pukul 20.20 WIB lima orang polisi mendatangi kediaman Fitron di Sidoarjo. Menurut keterangan ayahnya, tiga polisi bertugas di Malang dan dua orang yang lain merupakan polisi Sidoarjo. 

Saat dimintai surat penjemputan, polisi menunjukan surat yang tidak ada nama Fitron, sehingga ia sempat menolak untuk menuruti permintaan polisi tersebut. Namun, akhirnya Fitron terpaksa mengikuti polisi dan dibawa ke Polres Malang.

Tidak hanya itu, polisi juga menggeledah kediaman nenek Fitron di Tumpang (tempat Fitron tinggal selama kuliah di salah satu universitas di daerah Malang) untuk mencari barang-barang yang dianggap berkenaan dengan gerakan anarko.

Kedua pemuda lainnya, yakni Alfian dan Saka ditangkap di rumahnya pada tanggal 20 April 2020. Alfian dibawa polisi dari rumahnya di daerah Pakis, Malang sekitar pukul empat pagi. Sedangkan Saka dijemput di rumahnya di Singosari pada pukul 05.00 WIB oleh lima personel kepolisian yang tidak berseragam.

Jauhari selaku pendamping hukum dari LBH Surabaya mengungkapkan tindakan tersebut tidak mencerminkan profesionalitas seorang penegak hukum. Karena polisi tidak menunjukan surat penahanan dan alasan penangkapan yang jelas.

“Sudah jelas apa yang menimpa ketiga pemuda tersebut merupakan tindakan tidak demokratis, tidak menghargai hak warga negara serta cacat prosedur hukum,” tegas Jauhar saat diwawancarai via whatsapp.

Jauhar juga menilai proses hukum yang dilakukan seolah tergesa-gesa sehingga acap kali tidak memperhatikan tahapan-tahapan hukum yang ada. Tentunya hal ini jauh dari azas keadilan yang menjadi tujuan dari hukum itu sendiri.

Oleh karena itu dalam pers realis yang dikeluarkan YLBHI, LBH Surabaya, LBH Pos Malang serta sejumlah organisasi dan individu masyarakat sipil yang turut bersolidaritas untuk ketiga korban menuntut pihak kepolisian Polresta Malang untuk:

1. Membebaskan ketiga pemuda yang ditahan, karena telah menyalahi prosedur dan merupakan tindakan berlebihan, sangat bertolak belakang dengan hak asasi manusia;

2. Batalkan status tersangka, karena bertentangan dengan asas keadilan, tidak hanya pasal yang disangkakan,tapi pasal-pasal lainnya yang akan disangkakakan, sebab tidak ada bukti jelas. Penentapan tersebut sifatnya dugaan spekulatif;

3. Hentikan hal serupa kepada siapapun, karena ini adalah mata rantai, sebab akan menyasar warga negara yang lain. Hal tersebut bertentangan dengan Hak Asasi Manusia yang seharusnya dipenuhi dan dilindungi oleh negara, bagian dari kriminalisasi lebih jauh SLAPP.

No comments:

Post a comment