Kembalinya Hagia Sophia menjadi Masjid - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 12 July 2020

Kembalinya Hagia Sophia menjadi Masjid

Reporter: Arfan Eka Wijaya
Editor: Dede Rizqi Ramdani
Tampak depan Hagia Sophia yang kini telah kembali menjadi Masjid (Dok. Bengkulu.antaranews.com)
Araaita.net - Jum’at (10/7), pemerintahan Turki di bawah kekuasaan presiden Recep Tayyip Erdogan memutuskan untuk mengalihfungsikan kembali salah satu ikon Turki, Hagia Sophia menjadi masjid. Sebelumnya, bangunan yang didirikan pada abad ke-6 hingga abad ke-15 itu berfungsi menjadi museum sejak tahun 1934.

“Insya Allah kita akan salat Jum’at bersama pada 24 Juli sekaligus membuka Hagia Sophia untuk melaksanakan ibadah,” kata Erdogan, dikutip Agence France-Presse.

Disisi lain, Erdogan akan tetap memperbolehkan masjid itu  terbuka bagi pengunjung Muslim maupun Non-muslim.

Recep Tayyip Erdogan saat mengumumkan Hagia Sophia kembali menjadi Masjid (Dok. Tribunnewswiki.com)

Hagia Sophia merupakan salah satu situs warisan dunia yang diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO).

Bangunan yang pertama kali berdiri itu awalnya merupakan katedral milik Kekaisaran Kristen, Bizantium. Bahkan kubah yang menjadi atap masjid tersebut dianggap salah satu ciri arsitektur Bizantium.

Hagia Sophia (Ayasophia dalam Bahasa Turki) dilansir dari History.com, awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, sejak berabad-abad fungsi bangunan itu berubah-ubah. Bangunan megah yang memiliki atap lengkung besar itu sempat tiga kali mengalami perubahan.

Kaisar Bizantium Constantitus memerintahkan pembangunan Hagia Sophia untuk pertama kali pada tahun 360 M sebagai gereja. Pada saat itu, Istanbul dikenal sebagai Konstatinopel yang diambil dari nama ayahnya Konstantius, Constantine I, penguasa pertama kekaisaran Bizantium.

Hagia Sophia pertama kali dibangun menampilkan atap kayu. Struktur bangunan itu dibakar pada tahun 404 M selama kerusuhan yang terjadi di Konstatinopel akibat konflik keluarga dari Kaisar Arkadios, yang rezim pemerintahannya kacau pada tahun 395 hingga 408 SM. Kekuasaan Kaisar Arkadios diteruskan oleh Kaisar Theodosios II yang membangun kembali Hagia Sophia. Dan bangunan baru itu selesai pada tahun 415 M.

Tampak dalam Masjid Hagia Sophia (Dok. Tribunnewswiki.com)

Namun, bangunan itu kembali dibakar untuk kedua kalinya setelah satu abad kemudian. Selama pemberontakan Nika terhadap Kaisar Justinian I yang memerintah dari 527 hingga 565 M, kerusakan terjadi dimana-mana termasuk Hagia Sophia. Justinian tidak dapat memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran. Akhirnya, Justinia memerintahkan pembongkaran Hagia Sophia pada tahun 532 dan akan dilakukan pembangunan ulang. Dia memberikan tugas kepada arsitek terkenal Isidiros (Milet) dan Anthemios (Tralles) untuk membangun basilika baru.

Selanjutnya, Hagia Sophia ketiga selesai pada 537 M hingga berdiri sampai hari ini. Lengkungan pendukung kubah yang besar ditutupi mosaik enam malaikat bersayap yang disebut hexapterygon.

Ketika kekaisaran Ottoman menduduki Konstaninopel pada 1453, Hagia Sophia berubah menjadi masjid. Namun, simbol-simbol Kristen masih terdapat di beberapa bagian masjid. Termasuk mosaik Yesus dan Bunda Maria.

Keputusan yang muncul dari Dewan Negara Turki tersebut membatalkan keputusan kabinet pada 1934 yang mengubah peruntukan Hagia Sophia menjadi museum. Bangunan itu bahkan sudah resmi didaftarkan sebagai masjid di dalam daftar properti kota Istanbul.

Setelah keputusan tersebut dikeluarkan, presiden Erdogan langsung menekan dekrit yang menyatakan bahwa Masjid Hagia Sophia diserahkan kepada Diyanet, direktorat yang mengurusi keagamaan Turki. Tentu, keputusan tersebut memicu kontroversi dari berbagai kalangan. Banyak yang pro dan ada yang kontra. Terutama dari eksternal negara Turki, termasuk pihak UNESCO yang menyesalkan keputusan ini.

Dikutip dari laman tribunternate.com (11/7), Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay kecewa karena Erdogan tidak melakukan diskusi terlebih dahulu dengan UNESCO. Ia menghawatirkan perubahan situs tersebut akan memengaruhi nilai universal yang melekat.

"Hagia Sophia adalah mahakarya arsitektur dan kesaksian unik untuk interaksi antara Eropa dan Asia selama berabad-abad. Statusnya sebagai museum mencerminkan sifat universal warisannya, dan menjadikannya simbol yang kuat untuk dialog," ujar Audrey Azoulay.

No comments:

Post a comment