Penyimpangan Seksual Bertentangan dengan HAM - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 19 July 2020

Penyimpangan Seksual Bertentangan dengan HAM

Penulis: Maria Ulfa
Editor: Arfan


Sumber: health.kompas.com

Setiap kali mengakses media sosial, seseorang mungkin pernah dihadapkan oleh istilah penyimpangan seksual atau kaum bendera pelangi. Perilaku penyimpangan seksual masih merupakan hal  tabu bagi masyarakat Indonesia yang berbudaya ketimuran, yakni masyarakatnya masih kental dan memegang teguh apa yang dinamakan dengan ajaran moral, etika, dan agama, sehingga perilaku pemyimpangan seksual tentu bukanlah fenomena yang dapat diterima begitu saja. Empat golongan terbesar dari penyimpangan seksual tersebut di antaranya adalah Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang mulai dikenal sejak tahun 1990-an. 

Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan. Istilah ini juga merujuk kepada perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional, atau secara spiritual. Sedangkan Gay adalah sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk merujuk orang homoseksual. Sedikit berbeda dengan biseksual, biseksual memiliki makna ketertarikan seksual pada individu yang ditujukan pada pria maupun wanita sekaligus. Sementara transgender merupakan individu yang mengidentifikasi dirinya menyerupai jenis kelamin yang berlawanan, seperti seorang pria mengidentifikasi dirinya sebagai wanita, dan sebaliknya. 

Di dunia internasional, sudah ada gerakan yang mengatasnamakan dan menyuarakan kebebasan (penyimpangan) orientasi seksual, yakni LGBT. Orientasi seksual adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan rasa ketertarikan, romantisme, emosional, dan seksualnya kepada pria, wanita, atau kombinasi keduanya (Douglas, Markus, 2015). Dan gerakan LGBT ini sedang giat-giatnya melancarkan aksi untuk menghalalkan penyimpangan seksual ke seluruh penjuru bumi, termasuk Indonesia, dengan menayangkan drama percintaan sesama laki-laki atau sesama perempuan, menggembar-gemborkan bahwa kaum bendera pelangi itu takdir dan tak bersalah apabila diiringi suka sama suka, dan masih banyak aksi-aksi lainnya. LGBT ini terus menyuarakan pergerakan mereka lewat dunia maya maupun didunia nyata. 

Mungkin, dibenak pembaca selalu bertanya-tanya “mengapa ada yang suka sesama jenis?” beberapa asosiasi ilmuwan, seperti Academy of Pediatric (AAP) dan American Psychological Association (APA) berpendapat bahwa, orientasi seksual   merupakan kombinasi kompleks yang melibatkan banyak faktor. Seperti faktor  biologis, psikologis dan lingkungan. Bagaimana pengaruh LGBT dikalangan masyarakat, khususnya remaja? Adapun pengaruhnya, seperti pergaulan anak remaja menjadi lebih tidak terkontrol, masyarakat lebih trauma apabila LGBT ada di lingkungannya, dan bagi anak di bawah umur bisa meniru apabila tidak dijaga. 

Indonesia adalah negara yang memegang teguh ajaran agama, sehingga perilaku seksual menyimpang tentu tidak dapat diterima begitu saja. Di sisi lain, Indonesia merupakan negara yang mengakui Hak Asasi Manusia (HAM), di mana kaum LGBT merasa mengalami diskriminasi dan pelanggaran HAM karena orientasi seksual mereka yang menyimpang. Pandangan dari agama-agama terbesar di Indonesia menyatakan bahwa, orientasi seksual kaum LGBT merupakan bentuk perlawanan kodrat manusia. Sehingga, kelompok tersebut tidak dapat dilegalkan. Dan pada akhirnya, hasil sidang Komisi Nasional (Komnas) HAM pada awal Juli 2013 silam menolak keabsahan LGBT di Indonesia. 

Walaupun demikian, kaum LGBT akan terus ada dengan aksi-aksi yang dilakukannya. Jadi, sebagai negara hukum dan negara yang mengakui eksistensi agama, dalam menghadapi fenomena globalisasi LGBT, Indonesia harus bersikap tegas untuk menolak legalisasi praktek perilaku seksual yang menyimpang (perbuatan-perbuatan yang mengindikasikan orientasi seksual pada sesama jenis).  Di samping itu, diperlukan langkah-langkah konkrit sebagai upaya untuk penyembuhan dan pemulihan kaum LGBT. Meskipun pada akhirnya secara psikologis kita mengakui dan memahami keberadaan mereka dengan kondisi yang berbeda, bukan berarti kita juga akan menerima dan membiarkannya melakukan propaganda kepada anak-anak generasi penerus bangsa. 

No comments:

Post a comment