Prof. Nur Syam: Politisasi adalah Magi Baru di Era Modern - Araaita.net

Breaking News

Tuesday, 14 July 2020

Prof. Nur Syam: Politisasi adalah Magi Baru di Era Modern

Reporter: Dede Rizqi Ramdani
Editor: Arfan Eka Wijaya

Tangkapan layar Prof. Nur Syam saat menjawab pertanyaan salah satu peserta tentang kemungkinan politisasi (Dok. Ara Aita/Dede)

Araaita.net - Saat menjawab pertanyaan dari salah satu peserta seminar online tentang ada tidaknya politisasi di masa pandemi ini, Dr. H. Nur Syam, M. Si. mengawalinya dengan sebuah kalimat dan disambut tawa kecil.

"Kata ini (politisasi) sering menjadi wacana saat reformasi," kata Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) tersebut.

Pria kelahiran Tuban itu sedang menjadi pembicara seminar online kerjasama antara Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dengan Ikatan Sarjana Nadhlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur (Jatim), pada Senin (13/7). Ia lalu menceritakan sejarah singkat tentang orang zaman dulu. Ia mengatakan bahwa mereka akan mengaitkannya dengan magis jika berhadapan dengan permasalahan yang tidak dapat mereka pecahkan atau tidak masuk akal bagi mereka. Ia menyebutnya dengan istilah magi.

Arti kata Magi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V (KBBI V) merupakan sesuatu atau cara tertentu yang diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib dan dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia.

Pamflet acara

Namun di zaman sekarang, kebanyakan orang jika melihat sesuatu yang berbeda dengan pikirannya, kata yang sering digunakan adalah politisasi.

"Politisasi adalah magi baru di era modern. Sedikit-sedikit politisasi, sedikit-sedikit politisasi, itu yang kita lihat," tegasnya.

Meski demikian, Prof. Nur Syam tetap memaklumi jika ada pendapat seperti itu. Realita dan pemberitaan di tengah merebaknya media sosial menjadikan hal tersebut wajar jika ada varian dan perbedaan pandangan dalam melihat sesuatu.

Ditambah lagi di zaman sekarang informasi semakin mudah didapat karena semua orang berusaha menjadi jurnalis baru meskipun dengan berita-berita yang belum pasti kebenarannya.

Tangkapan layar saat Prof. Nur Syam memulai menjelaskan materi (Dok. Ara Aita/Dede)

Lalu, dengan menyebutkan beberapa sumber data, peserta yang sama menyatakan bahwa di pasar 80% tidak memakai masker tetapi tidak ditertibkan. Disisi lain, masjid dan pondok pesantren ditutup. Menurutnya, banyak pihak yang dirugikan khususnya umat muslim dan menganggap hal tersebut merupakan salah satu bentuk politisasi.

Pemilik lembaga Nur Syam Centre (NSC) tersebut menyanggah pernyataan peserta itu, Ia mengatakan bahwa tidak ada hubungannya dengan politisasi, hal itu bentuk domistifikasi agama. Umat muslim bukan tidak diperbolehkan beribadah, hanya saja memindahkan tempat beribadahnya ke area domestik, bukan lagi di ruang publik atau kerumunan.

"Bukan dilarang beribadah, tetapi (dilarang) datang ke tempat-tempat ibadah," jelasnya

Di akhir penjelasannya, Ia menegaskan pendapatnya bahwa dalam persoalan pandemi Covid-19 ini tidak termasuk dalam politisasi.

"Kita bebas mengemukakan pendapat, namun tidak masuk akal jika harus menggunakan istilah politisasi, entah itu politisasi ekonomi maupun politisasi agama," pungkasnya.

No comments:

Post a comment