Sepeda Tua Yang Usang - Araaita.net

Breaking News

Friday, 18 December 2020

Sepeda Tua Yang Usang

Penulis : Maria Ulfa

Editor : Clarita S.D.S

Sumber : Pinterest


Namaku Lia, anak rantau dari desa yang sedang kuliah di kota besar. Aku memutuskan tinggal di kos terdekat dari kampus bersama teman masa kecilku, Sarah. Hari ini aku pulang lebih awal karena Sarah sibuk mengurus organisasi. Di kamar nomor sembilan di pojok belakang, aku menatap layar laptop yang menyala, sembari mengunyah beberapa cemilan di samping meja. Hening, hanya suara detik jam di dinding dan ketikan keyboard laptop.


“Lia!” Sarah membuka pintu yang tertutup separuh. Aku mendongak, menatap aneh Sarah yang sedang tersenyum lebih aneh. Dia menyuruhku keluar kamar, lantas menggandeng tanganku menuju tempat parkir yang kebetulan berada di depan kamar.


“Lihat ini,” ucap Sarah antusias.


“Sepeda siapa? Jangan bilang ini kamu memungut?” aku menunjuk sepeda tua usang yang ada di depanku. 


“Aku lihat sepeda ini di gang 12, sepertinya sudah dibuang. Cantik kok sepedanya,” aku menghela napas panjang, cantik dari mana? Aku lantas menggerakkan kaki masuk kedalam kamar lagi, tak menghiraukan Sarah yang masih setia mengelus sepedanya. 


Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Akhirnya, tugas kuliah sudah selesai. Aku membaringkan diri di kasur, di samping Sarah yang sudah terlelap. Ketika mataku mulai terpejam, samar-samar telingaku mendengar bunyi sepeda yang (seperti) dikayuh. Aku tak menggubris, dan terus memejamkan mata. Tapi, ketika alam mimpi akan menyambut, mataku dipaksa terbuka. Karena, aku mendengar suara anak kecil yang sedang tertawa. Pikiranku menyuruh untuk bangun dan melihatnya. Namun urung, tersadar bahwa besok ada kuliah kelas pagi. Kucoba menutup mata kembali, mungkin aku hanya kelelahan. 


Keesokan harinya, kutanyakan hal yang mengganjal di pikiranku sejak kemarin kepada sahabat kecilku itu. Namun dia menyangkal bahwa tidak pernah mendengar apapun. 


Seminggu setelah kejadian itu, memang tidak ada peristiwa aneh lagi. Aku menyimpulkan bahwa mungkin memang benar, sedikit kelelahan membuat diriku berhalusinasi. Tapi disatu sisi, ada yang aneh dengan sifat Sarah. Dia seperti selalu marah kalau ada yang menyinggung soal sepedanya.


Malam ini, aku mengajak teman sekelasku ke kos untuk mengerjakan tugas bersama. Hingga pada saat tangan ingin membuka kamar, temanku berteriak. Aku menoleh ke arahnya yang sedang menutupi wajahnya. Bahunya bergetar. Teriakan temanku membangunkan seisi kos. Maklum, hari sudah mulai malam.


“Aku melihatnya,” temanku memelukku erat. Tetesan air hangat menyentuh pundakku, dia menangis. Aku menepuk punggungnya pelan, walau aku juga bingung apa yang terjadi. 


“Pasti sepeda itu. Aku merasa janggal dengannya,” Mbak kos kamar sebelah ikut andil dalam pembicaraan, dan hal itu disetujui oleh penghuni se-kos yang juga kerap kali diganggu oleh makhluk tak kasat mata dari sepeda tua itu. Tepat saat itu, Sarah pulang dengan wajah kusut. Aku menatapnya yang berjalan santai menuju kamar, dan jangan lupakan kalau Sarah mengelus sepedanya dulu sebelum membuka pintu. 


“Buang saja!” Aku menatap Indah, penghuni kamar nomor empat. Hal itu menyita perhatian Sarah. Dia menatap tajam kepada Indah, lantas menutup kamar dengan keras. 


Di kamar, suasana hening. Temanku tadi memutuskan untuk pulang walau malam sudah larut. Handphoneku bergetar, pesan grup di whatsapp terpampang di layar. Rencana membuang sepeda? Aku memiringkan kepala dan mengetik beberapa kata di kolom pesan. 


Hari ini, tepat pukul lima sore, teman kos sedang sibuk membuang sepeda dan aku bersama Sarah pergi keluar untuk mencari buku. Ini hanya alasanku saja, karena ini adalah bagian dari rencana. Menurut mereka, sepeda itu sangat berat. Walau waktu itu, Sarah dengan gampangnya mengangkat sepeda tua yang usang tersebut ke dalam kos layaknya orang normal. Dengan sekuat tenaga, enam teman se-kos-an itu mendorong sepedamenuju mobil yang terparkir, lantas membuangnya ke tempat yang jarang terjangkau manusia. 


Malam harinya, setelah menikmati suasana sore hari, sekarang aku harus dibuat berpikir untuk alasan apa yang cocok agar sarah tidak marah. Sebenarnya tak masalah jika Sarah membenciku, karena yang terpenting adalah kenyamanan para penghuni kos. 


“Oh? Sudah dibuang?” Tak ada raut amarah yang menyulut di wajah Sarah. Aku yang menatap bingung lantas mengikutinya masuk kamar. Sikap Sarah juga sedikit berubah seperti dulu sebelum menemukan sepeda tua itu. 


Dulu, aku hanya menertawakan mitos “Jangan mengambil apa yang bukan milikmu. Entah itu milik yang kelihatan maupun yang tak kasat mata”. Bukan seperti tidak percaya, namun hanya saja hal itu terasa geli di telingaku. Namun, aku mengalaminya sendiri, dan akan kujadikan pelajaran ketika peristiwa yang sama terjadi kembali.

No comments:

Post a comment