AKUNG - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 30 January 2021

AKUNG

 Penulis : Silky

 Editor : Luluk Assalam

Doc. Silky


Pertengahan Desember tahun lalu tepatnya 2020. Salah satu anggota keluarga tercinta kami dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan. Kakek dari pihak ibu meninggal akibat kecelakaan. Sungguh sangat tiba-tiba dan mengejutkan. Sebab, Akung -panggilan akrabnya- masih mengunjungi kediaman ku tepat sehari sebelum kecelakaan itu terjadi.


Sekitar pukul 6 pagi, beliau pergi dengan mengayuh sepeda ontelnya. Keluarga kami tak ada yang tahu pasti arah tujuan Akung. Kami kira, Akung hanya berniat mengunjungi cucunya di desa lain.


Pagi itu, ibuku sedang memasak untuk mempersiapkan pesanan. Ya, ibuku seorang tukang catering. Aku turut membantunya, mengupas bawang, membelah cabai, menata kotak makan, dan lain sebagainya. 


Saat ibuku memeriksa pesan dari handphone, tiba-tiba saja panggilan masuk dari Budheku. 


"Wik, Akung kecelakaan" Budheku memberitahu ibuku. 


Namun, pesan yang ditangkap ibuku dari mulut Budhe ku bukan Akung, melainkan Aku


‘Wik, Aku kecelakaan.’


 Tak berselang lama, ibuku mendapat pesan dari Pamanku, 


"Dik. Akung kecelakaan ndek Sobango.(Dik, Akung kecelakaan di Susuhbango.)”


Seketika itu, ayahku segera menuju lokasi kejadian. Tidak jauh. Hanya menempuh perjalanan sekitar 10 menit. 


Kami yang ada di rumah harap-harap cemas. Sebab, ayahku, kakakku, dan pamanku tidak ada yang menjawab telepon ibuku. 


Namun aku tetap mensugesti pikiranku bahwa Akung hanya luka ringan dan tidak berbahaya. Maka ku lanjutkan saja aktivitas memotong bawang merah. 


 Aku sedang berada di ruang tamu  sedangkan ibuku di halaman belakang. 


Tiba-tiba, ibuku menangis dan berlari ke arahku. Menunjukkan isi pesan yang dikirim oleh kakakku yang saat itu sedang di tempat kejadian bersama ayah dan pamanku. 


"Meninggal". 


Hanya satu kata. Namun mengubah hidupku dan keluarga ku di hari itu. 


Ibuku menangis, aku menangis, adik laki-laki ku menangis, adik perempuanku tertawa bermain bersama temannya. 


Keluarga ku adalah tipe keluarga yang bisa dibilang irit air mata. Menangis hanya saat lebaran tiba, ataupun marah lalu diredakan oleh nasihat-nasihat bijak oleh kedua orang tua. 


Ibuku duduk di luar rumah dan ditenangkan oleh salah seorang tetanggaku. Sedangkan aku masih berkutat dengan bawang merah di dapur, dengan tangan sigap memotong, namun mata basah dan nafas sesenggukan. Tidak ada suara. Hanya air mata. 


Aku tak tau saat itu jam berapa, namun yang pasti suara motor ayahku terdengar kembali. Ayahku turun dari motor, lalu segera memeluk ibuku. Dengan mengucap beberapa kata penenang untuknya. Lalu memelukku, dan mengucap kata yang sama.

 

Kulihat mata ayahku. Merah. 


Ayahku juga memeluk adik laki-lakiku. Namun tidak dengan adik perempuanku, karena dia sedang tidak di rumah. 


Setelah ayah datang, aku dan ibuku segera pergi ke kediaman nenekku. 


Dalam perjalanan, aku berbicara pada ibuku. 


"Buk, ngko lek Mbah Uti pingsan pie? Ngenteni Budhe sek ae lak ngomongi Mbah Uti. (Bu, nanti kalau Mbah Uti pingsan bagaimana? Nunggu Budhe aja dulu kalau mau ngasih tahu Mbah Uti)”


Ibuku diam saja.


Tidak perlu waktu lama untuk menuju rumah nenekku.  


Di rumah nenekku, hanya ditinggali dua orang saja. Akung dan Mbah Uti -panggilan akrab nenek-.


Saat aku tiba, tetangga dan saudaraku terlihat merapikan rumah dan membersihkannya. Mbah Uti yang saat itu duduk di sofa ruang keluarga tampak bingung. Ia bertanya


"Nyapo kok rame? Loh, kursine kok dipindah i? (Kok ramai ini ada apa? Kenapa kursinya dipindah?)”


Tidak ada yang menjawab. Semua sibuk menahan air mata, dan isaknya. Lalu kuberanikan diri memegang lengannya lalu berkata


"Omah e reget, diresiki. (Rumahnya kotor, sedang dibersihkan)"


Lalu, adik dari nenekku datang. Ia memberitahu Mbah Uti bahwa Akung kecelakaan. Hanya itu. Tidak lebih.


Mbah Uti merespon dengan singkat


"Yoong! Akung kecelakaan? Maeng ga pamit aku. (Yoong !Akung kecelakaan? Tadi tidak pamit aku.)"


Mbah Uti berpikir, bahwa Akung hanya luka biasa. Setidaknya saat ini keluarga kami sedikit bisa bernafas lega, sebab Mbah Uti tidak berbuat yang seperti kami kira. Akan pingsan, menangis, histeris ataupun lain sebagainya. (slk) 

No comments:

Post a Comment