Balada Pengamen Bus Gang Empat - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 28 January 2021

Balada Pengamen Bus Gang Empat

 Oleh: Maria Ulfa

Editor: Nur Farida


Doc. Google


Gemercik hujan menemani pagiku di terminal bus tujuan arah pulang gubuk dambaanku. Sambil kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul delapan, bus warna merah berhenti tepat di hadapanku. Plang bertuliskan tujuan Kota Semarang membuatku tersenyum sipu tidak sabar untuk segera sampai, ya meskipun aku bersusah payah menaiki bus yang sangat ramai ini. Maklum, hari ini adalah akhir pekan, bus penuh dengan lalu-lalang orang. Entah pulang dari kantor, sekolah, ataupun kuliah. Seperti diriku saat ini, mahasiswa semester tiga yang hendak pulang kampung mengunjungi keluarga.


Setelah berdesakan mencari tempat duduk, aku duduk tepatnya nomor lima di sebelah kiri samping jendela. Lantas kubuka handphone berwarna biru untuk mengecek sesuatu. Benar saja, gambar kotak kecil di pojok kiri bawah ternyata ada notifikasi panggilan. Tulisan “Emak”, begitu aku membuka aplikasi itu. Aku menyentuh tanda telepon untuk menghubungkan ulang. 


“Le, sudah sampai mana? Mak masak banyak. Jadi pulangkan? Tadi sempet sarapan ndak? Nanti disusul mas-mu.” Suara wanita paruh baya di handphone-ku itu membuatku tersenyum. Selalu saja seperti itu. 


“Baru naik bus mak, jadi pulang lho ini. Tadi juga sampun sarapan kok,” aku membalas dengan kekehan. 


Beberapa menit berlalu, panggilan dimatikan dan bus mulai berjalan. Sempat kupejamkan mata, tapi tak kuasa mataku terang kembali ketika ada suara anak kecil yang menurutku cukup mengganggu. 


“Ya, selamat pagi para penumpang, pak supir dan pak kondektur yang ada di bus ini semoga sehat selalu dan dalam lindungan Tuhan,” gadis itu masih berbicara, membuat mataku yang bermula ngantuk, jadi hilang. Gadis itu berusia sekitar 8 tahun. Apa dia tidak sekolah? tanya ku dalam hati. Lihatlah bajunya yang compang-camping dan sedikit kebesaran itu. Apa orang tuanya tidak bekerja?


Tiba-tiba saja gadis kecil itu pun mulai berdendang.


Kalau sudah tiada baru terasa

Bahwa kehadirannya sungguh berharga

Sungguh berat aku rasa kehilangan dia

Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia


Aku memandanginya dengan lekat. Bukan karena suaranya, tapi ekspresi dari wajah kecil nan polos itu. Apakah itu emosi?


“Sekian dan terimakasih dari saya. Seribu duaribu tidak apa asal ikhlas. Karena ini buat kebutuhan saya dan keluarga, ” setelah menyanyikan tiga buah lagu, gadis itu menyusuri bus dengan menyodorkan plastik bekas bungkus permen. Meminta uang dari penumpang satu ke penumpang lain. Terkadang tubuhnya yang kecil itu terhuyung ke kiri dan ke kanan karena bus yang kecepatannya tidak stabil.


“Misi mas,” gadis itu menatapku sambil menyodorkan bekas bungkus permennya. Aku merogoh saku, mengeluarkan uang seribu untuk ku masukkan tepat lubang bungkus permen itu. Gadis itu berterimakasih sambil tersenyum.


Aku memang membenci orang yang meminta-minta, termasuk pengamen. Bagiku, mereka itu pemalas. Tak jarang juga, ada yang meminta dengan cara menipu, seperti berpura-pura tak bisa jalan, tak bisa bicara dan berbagai alibi lainnya. Mereka melakukannya untuk menambah rasa belas kasihan orang terhadapnya. Namun, entah berbeda dengan gadis berbaju biru laut itu. Ada rasa tersendiri yang entah mengapa tak dapat diungkapkan oleh hati kecilku. 


Aku turun di pertigaan jalan setelah satu setengah jam duduk di bangku bus yang terbilang sempit. Aku duduk di bangku pinggir pertigaan sambil menunggu jemputan dari mas-ku, karena jarak pertigaan dan rumah berjarak 10 kilo. Tiba-tiba aku melihat gadis kecil itu juga turun melalui pintu belakang bus. Dia memasuki gang kecil di samping pertigaan gang. Aku hanya bisa melihat punggungnya mulai tenggelam di tikungan jalan. Sampai ada mas-ku yang memanggil namaku dengan menaiki sepeda motornya. 


Tiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan untuk pulang ke rumah. Tiap itu juga aku selalu bertemu dengan gadis yang sama dan membawakan lagu yang sama pula. Jujur, aku mulai bosan dengannya, kalau bukan tampangnya yang polos, mungkin aku tak akan pulang menaiki bus ini. Namun, hari ini dia tak mengamen, padahal tiap pekan aku hafal suaranya di luar kepala. Apa gadis itu juga seorang penipu, yang sebenarnya dari keluarga berkecukupan? Mungkin merasa malas bekerja, jadi dia memutuskan untuk mengamen. Aku semakin berpikiran negatif. 


Aku terlanjur penasaran. Setelah turun dari bus, Sengaja tak mengabari mas dan mak-ku di rumah, aku memberanikan diri untuk memasuki gang sempit yang dilalui gadis kecil itu. Tulisan “Gang 4” membuatku mendongak untuk membacanya. Gang ini ternyata tempat pemukiman yang kumuh dan lembab, cahaya matahari pun seperti enggan untuk memasukinya. Aku menutup hidung, lantaran bau dari selokan yang berisikan berbagai sampah plastik. 


Aku tak tau harus berjalan kemana lagi. Pun, rumah-rumah di sekitar sini tidak ada yang membuka pintu rumahnya. Sampai aku melihat gadis itu berlari menyalipku dari belakang. Aku yakin itu adalah gadis yang sering mengamen di bus, aku mengikutinya hingga depan rumahnya yang terbuat dari kayu yang reyot dan sudah hampir roboh. Gadis di depan pintu itu menoleh ke arahku. Lantas melambaikan tangannya. Bak magic, aku manut saja dan berjalan masuk ke rumah yang tak layak di huni itu. 


“Om kesini mau apa?” tanyanya sesudah aku duduk di tanah beralaskan tikar tipis.

 

“Panggil mas Azam saja, dek,” ucapku sambil tersenyum. Dia mengangguk. 


“Mas penasaran saja, sepertinya kamu ndak ngamen ya, tadi?” Dia menunduk. Apa aku salah ucap? 


“Ibuku sakit mas, udah ngga bisa bergerak. Cuma berbaring tok. Makan juga, Laras yang menyuapi,” jadi nama gadis ini Laras. 


“Jadi, kamu ngamen buat ibu kamu?” Dia mengangguk, kemudian menunduk. Mengusap matanya yang basah. 


“Laras ngga punya uang, tetangga juga gak ada yang peduli. Laras ngga bisa bekerja selain ngamen karena laras ngga sekolah,” tangisnya pecah. Aku mencoba menenangkannya dengan mengusap tanganku ke punggung gadis kecil itu. Tanpa sadar, aku ikut terbawa suasana, satu persatu bulir-bulir air mata mulai berkejaran. 


Aku merogoh saku celana yang aku kenakan. Kemudian mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru kepada gadis itu. Gadis itu hendak menolaknya, namun segera kuyakinkan untuk tak apa jika menerimanya. Dan tak lupa juga aku memberi tau teman-temanku untuk menyumbang berapapun kepada gadis kecil dan ibunya yang sedang terbaring sakit.


Kini Aku tersadar, tak seharusnya aku membenci orang yang meminta-minta, pun itu seorang pengamen. Karena, tak semua pengamen itu buruk, Karena kita tidak tahu-menahu keadaan yang sebenarnya dari mereka. 


Janganlah menilai orang dari satu sudut pandang yang kita lihat. Karena, kita tidak tau sisi lain dari sudut pandang tersebut. Apa masih utuh, sudah retak, atau malah sudah hancur berlubang. 

No comments:

Post a Comment