Jalan Hijrah - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 13 January 2021

Jalan Hijrah

 Oleh: Rafika Wahyuni Melina

 


 Sumber: Pinterest

 

Kehidupan bagiku hanyalah sebuah kesenangan dimana aku bisa melakukan segalanya tanpa ada yang bisa melarangku. Aku bisa hang out bersama temanku, clubbing, menghabiskan uang milik orang tuaku and everything I can do it. But,  akhir-akhir ini aku merasa hidupku biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik lagi bagiku.

 

Pernah suatu kali aku seorang bapak tua lagi kepayahan menyapu jalan. Dengan mengusap keringatnya, ia terlihat lesu, lelah, dan pucat. Entah kenapa, aku merasa iba dengan bapak tersebut. Tak pernah aku merasakan perasaan iba seperti ini sebelumnya.

 

Dengan perlahan aku mendekati bepak itu. Ku sapa bapak itu “Selamat siang pak”. Bapak itu menoleh dan tersenyum lembut sembari menganggukkan kepalanya padaku. Aku tersenyum membalasnya, “Bapak lagi capek? kalo lagi capek, bapak istirahat saja. Biar saya yang melanjutkan pekerjaan bapak”. Perkataan itu tiba-tiba saja terucap dari mulutku. Aku tak  tahu kenapa aku bisa bicara seperti itu. 

 

“Tidak usah nak, biar bapak saja, bapak tidak apa-apa”. Bapak itu tidak mauku gantikan tugasnya. “Saya juga tidak masalah pak, bapak terlihat lelah sekali, tidak bolehkah saya menggantikan bapak?” aku tetap kekeuh untuk menggantikannya, karena aku tidak tega melihatnya seperti itu. 

 

“Mbak memang bermaksud baik, tapi ini pekerjaan saya dan menjadi tanggung jawab saya. Jikalau ingin menggantikan saya sebenarnya tidak masalah. Tapi saya tidak mau, nanti di akhirat saya bakal dimintai pertanggung jawaban saya karena lalai terhadap pekerjaan saya” 

 

Mendengar jawaban dari bapak itu, membuat hatiku terenyuh. Aku tidak pernah tahu tentang arti tanggung jawab, akhirat? apa itu aku juga tidak mengetahuinya, yang kutahu hanya sebuah kesenangan.

 

“Jikalau begitu, bisakah saya membantu bapak?”. Tanyaku

 

“Bisa sihtapi apa mbak mau memegang sapu yang kotor ini?”. 

 

“Tidak apa-apa pak”. 

 

Aku membantu bapak itu, tapi aku tak tahu bagaimana cara menggunakan sapu jalan itu. Aku membantu bapak itu,  namun aku tak tahu cara menggunakan sapu jalan tersebut, ku awali dengan mengamati bapak tua itu menyapu jalan. Begitu ringan dan terlihat mudah,  mungkin bagi siapapun yang melihatnya. Maklum, selama ini yang menyapu adalah pembantuku, bukan aku.  Setelah itu aku mulai mencoba untuk mengikuti pekerjaan tersebut. Benar saja,  ternayata hal ini sangat mudah untuk dilakukan.  Aku membatin “Maklum selama ini rumah selalu disapu oleh pembantu,  dan aku tak pernah menyapu.

 

Suara adzan terdengar dari kejauhan sana. Ku lihat bapak itu datang menghampiriku dengan membawa sapu oranye nya. “Nak, sudahi saja menyapunya. Ayo sekarang kita sholat di musholla dekat sini” bapak itu mengajak ku. 

 

“Sholat pak? Apa itu sholat?” tanyaku kebingungan.

 

“Oh mbak bukan orang muslim toh, maaf ya mbak bapak tidak tau” raut muka bapak itu terlihat bersalah.

 

“Saya muslim pak, tapi saya tidak tau sholat itu apa? Orang tua saya juga tidak pernah sholat” ujarku jujur. 

 

“Kalau begitu, mbak ikut bapak saja ke musholla. Mbak nanti bisa melihat sholat itu seperti apa dan nanti bapak kenalkan mbak ke ustadzah yang mengajar mengaji di sana. Bagaimana mbak?” 

 

Ajakan dari bapak itu membuatku bimbang. Apakah aku harus mengikutinya ataukah aku pulang saja?. Tapi bapak itu terlihat sangat berharap aku mengikutinya.

 

“Boleh pak, mari” akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti bapak itu.

 

Kami berjalan menuju sebuah gang yang berada di dekat jalan raya tempat kami menyapu tadi. Setelah melewati beberapa gang, akhirnya kami sampai ke sebuah tempat yang bisa dibilang cukup besar dengan kubah berwarna hijau sebagai atapnya. 

 

“Mbak duduk sini ya, bapak mau ambil wudhu dan sholat berjamaah di dalam” pamit bapak itu.

 

“Iya pak”

 

Setelah bapak itu pergi, aku bingung mau ngapain di sini. Aku hanya memperhatikan sekitar dan mengamati orang-orang yang berlalu lalang di depanku. Tiba-tiba suara adzan yang tadi ku dengar, berkumandang lagi dan anehnya kalimatnya berbeda dari adzan sebelumnya.

 

Saat mendengar suara adzan itu, semua orang segera masuk ke dalam dan baris berjajar rapih. Ada skat yang membedaka pria da wanita,  sehingga dalam barisan itu terlihat indah. Mereka terlihat khidmat ketika mendengar satu suara orang yg berada paling depan mengucapkan “Allahu Akbar”. 

 

Sungguh aku takjub melihat itu semua. Bagiku itu adalah hal yang luar biasa dan belum pernah kulihat. Sejenak aku berpikir, apakah itu cara ibadah agamaku?. Jika iyakemana saja aku selama ini. Ibadah yang begitu indah itu aku tinggalkan bahkan aku tak tahu sama sekali tentangnya. 

 

Sekilas aku terbayang-bayang dengan perilaku selama ini. Banyak sekali yang tak kutahu dan membuatku menyadari kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan. Dan tiba-tiba aku teringat Tuhan yang selalu teman kristianiku ucapkan. Aku sungguh malu dan menyesal.

 

Disaat aku merenungi kehidupanku, sholat sudah selesai dan orang-orang keluar untuk kembali ke aktifitas mereka. 

 

Bapak tadi menepuk bahuku membuatku menoleh. Kulihat seorang wanita di belakangnya. Wanita itu tersenyum kepadaku.

 

“Nak, ini ustadzah yang tadi bapak bilang, perkenalkan namanya ustadzah Zahroh”. 

 

“Assalamualaikum, saya Zahroh”.  Wanita yang disebut ustadzah itu menyapaku lembut.

 

“Waalaikumussalamustadzah”. Balasku dengan senang hati. 

 

“Nak, kalau mau belajar tentang sholat dan yang lainnya, bisa belajar ke ustadzah Zahroh”. 

 

Aku hanya menganggukkan kepalaku, dan ustadzah Zahroh mengajakku ke dalam dan semenjak itu aku memulai lembaran hidup yang baru dengan Ridho dari Nya.

No comments:

Post a comment