Kronologi 6 ORMAWA Walk Out saat Kongres ke-XIX KBMFDK - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 24 January 2021

Kronologi 6 ORMAWA Walk Out saat Kongres ke-XIX KBMFDK

 Reporter: Mirza Alhasany

Editor: Dede Ramdani


Pimpinan sidang tetap Kongres ke-XIX KBMFDK, dari kiri Arsy, Han, Toni. (Dok. Araaita/Sachi)

Araaita.net - (23/01) Seluruh perwakilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Red Band, UKM Qosfada, dan UKM Teater Sua, serta perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Ilmu Komunikasi (Ilkom), HMP Manajemen Dakwah (MD) dan HMP Bimbingan Konseling Islam (BKI) bersama-sama melakukan Walkout atau aksi meninggalkan ruang rapat Kongres ke-XIX Keluarga Besar Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (KBMFDK) di Graha Universitas Sunan Giri (UNSURI).


Walkout ini bermula ketika membahas tentang Rancangan Undang-undang Komisi Pemilihan Umum Raya Mahasiswa Distrik (Kopurwadi) FDK, BAB I: Ketentuan Umum pasal 1 poin 5 yang berbunyi 'KOPURWADI dilaksanakan dengan menggunakan sistem proporsional berdasarkan dengan mekanisme daftar.'


Lalu Fatah, Perwakilan dari HMP Ilkom memberikan opsi untuk mengganti redaksi poin tersebut menjadi 'KOPURWADI dilaksanakan dengan menggunakan sistem demokrasi dengan melibatkan seluruh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) FDK'. Sementara itu, Lailatul Badriah, Pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) yang juga sebagai peserta sidang menginginkan draft tersebut tidak perlu diubah sebagai opsi tandingan. Hasilnya kedua opsi itu mendapat afirmasi seimbang masing-masing tiga dari peserta.


Kemudian masuk ke tahap berikutnya yaitu lobbying, namun selama sekitar lima menit berdiskusi bersama Pimpinan Sidang (Pindang) kedua pemberi opsi tersebut tetap tidak menemui titik terang, hingga akhirnya dilaksanakan sistem voting dari seluruh peserta.


Perseteruanpun terjadi pada tahap ini, Fatah mempertanyakan status peserta yang berhak memberikan suara, terutama Pengurus DEMA dan Senat Mahasiswa (SEMA) yang hadir di forum. Ia mengatakan bahwa di dalam draft tidak ada keterangan sama sekali terkait status DEMA dan SEMA ini, di dalam draft 'Tata Tertib Kongres BAB III tentang Peserta' hanya menyebutkan status dari Peserta Perwakilan HMP dan UKM, masing-masing satu peserta penuh dan satu peserta peninjau (tidak berhak memberikan suara).


Jadi, Ketua HMP Ilkom tersebut menyimpulkan bahwa yang berhak memberikan suara yaitu hanya peserta penuh perwakilan dari sembilan organisasi yang hadir, tanpa Pengurus DEMA dan SEMA. Meskipun harus ikut serta dalam voting, SEMA dan DEMA hanya boleh diwakilkan oleh satu orang agar berimbang dengan organisasi yang lain.


Namun, argumentasi tersebut dibantah oleh Sukma, Pengurus SEMA, Lailatul Badriah, dan beberapa Pengurus SEMA yang lain dengan mengacu pada draft Tata Tertib Kongres BAB IV: Hak dan Kewajiban Peserta pasal 4 poin pertama yang menyatakan 'Peserta berhak berpendapat dan bersuara atas izin pimpinan sidang'. Dengan itu, mereka menegaskan bahwa seluruh pengurus DEMA dan SEMA yang hadir merupakan peserta yang berhak memberikan suara.


Setelah perdebatan panjang tanpa membuahkan hasil, serta forum yang semakin tidak terkendali karena cek-cok satu sama lain, akhirnya Pimpinan Sidang (Pindang) mengetuk palu sidangnya dengan keras dan mengintruksikan semua peserta untuk diam, terutama Fatah, Ketua HMP Ilkom.

6 ORMAWA saat walkout setelah lewat tepat di depan Pimpinan Sidang (Dok. Araaita/Sachi)


Setelah itu, Farhan dari UKM Red Band menyayangkan sikap Pindang yang lebih condong ke salah satu pihak. Ia mengatakan kalau diteruskanpun tidak akan ada gunanya jika pimpinan sidang tidak melihat dari sisi HMP dan UKM. Karena sudah pasti kalah jumlah jika semua Pengurus DEMA dan SEMA berhak memberikan suara. Lalu Ia mengajukan izin kepada pimpinan sidang untuk meninggalkan forum bersama dengan HMP Ilkom, MD, BKI, dan UKM Qosfada karena dirasa percuma ikut meneruskan sidang.


Pernyataan tersebut disetujui oleh Pindang yang bertugas dan persidangan dilanjutkan sampai selesai tanpa ada perubahan draft.

No comments:

Post a comment