Plastik Jaman Now - Araaita.net

Breaking News

Tuesday, 12 January 2021

Plastik Jaman Now

 Oleh: Rafika Wahyuni Melina

 

Dewasa ini, kita sering melihat sampah plastik yang berserakan dimana-mana. Baik di jalan, selokan, bahkan laut pun menjadi tempat bersemayam para plastik. Bukanlah hal yang  tabu ketika melihat sampah plastik tersebut, karena sekarang sampah plastik sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat.

 

Plastik sendiri sudah ada sejak abad 19. Dimana pada kala itu, bola biliar terbuat dari gading dan menjadi alasan untuk pembantaian hewan pemilik gading tersebut. Untuk mengurangi konsumsi gading, pada tahun 1869 John Wesley Hyatt memperkenalkan polimer sintetis yang kita kenal sebagai bahan baku plastik.

 

Produk dari polimer sintetis ada beragam. Seperti kantong plastik, botol minuman plastik, perabotan rumah tangga, hingga mainan untuk anak – anak. Dan karena jenisnya beragam membuat plastik memiliki peran penting bagi masyarakat dunia khususnya di Indonesia. 

 

Alasan dari penggunaan plastik sendiri adalah dari bahannya yang ringat dan mudah untuk dibawa kemana saja, tidak membebani, dan mudah ditemui dimana saja. Selain itu kelebihan plastik yang tahan lama dan mudah ditemukan, masyarakat menggunakannya sebagai pembugkus makanan dan minuman.Tidak hanya makanan, bahkan perabotan rumah tangga, mainan dan barang – barang lainnya pun juga banyak yang diproduksi menggunakan bahan plastik.

 

Namun, yang jadi permasalahan sekarang ini adalah polimer sintetis (plastik) sendiri sangat sukar untuk diuraikan. Membutuhkan waktu 20-1000 tahun untuk penguraiannya. Sebab, tidak ada organisme yang berperan khusus untuk penguraian plastik. 

 

Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua setelah Tiongkok, dan berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun, yang setiap tahunnya jumlah kantong plastik yang dibuang mencapai 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. 

 

Terlebih lagi di Indonesia sendiri belum memiliki kelebihan dalam mengolah limbah plastik yang semakin lama semakin menumpuk. Adanya sampah plastik yang berlebihan baru lah menjadi pemicu masyarakat Indonesia untuk memutar otak, mengolah sampah plastik tersebut agar menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai tinggi. Fenomena sampah plastik juga membuat masyarakat Indonesia mencari – cari pengganti plastik untuk mengurangi penumpukan sampah plastik yang menggenangi sungai dan laut.

 

Akibat dari penumpukan dari sampah plastik ini, membuat sungai dan selokan menjadi tersumbat dan sering kali ketika hujan turun akan terjadi banjir. Dan juga dampak dari sampah plastik ini juga sampai mencemari pantai seperti yang terjadi di pantai Kuta, Bali.

 

Sampah plastik berserakan di sepanjang pesisir pantai. Bahkan laut pun tak luput dari sampah plastik. Dan hal tersebut sangat mengganggu bagi wisatawan, sebab ketika mereka sedang berselancar, gundukan sampah plastik ikut bersamanya bahkan mengelilinginya. Ironi bukan? Bali yang dikenal dengan wisata pantainya yang indah harus tercemari karena sampah plastik. 

 

Selain pantai, ada pula objek wisata pegunungan yang berserakan sampah plastik bungkus makanan dan minuman yang ditinggalkan begitu saja. Gunung sebagai tempat wisata untuk menghilangkan penat harus dipenuhi dengan sampah  terutama sampah plastik dari pendaki yang sengaja meninggalkannya. Pupus sudah harapan para pendaki lain yang cinta lingkungan, melihat keadaan yang semakin lama semakin buruk ini. Di sini seakan – akan objek wisata seperti peribahasa “habis manis sepah dibuang”. Mereka hanya butuh menikmati pemandangannya saja, tanpa menyadari pentingnya kebersihan terutama di alam. Jika terus-menerus seperti itu, alam akan menjadi tercemar dan manusia pun tidak bisa menikmati keindahannya lagi.

 

Sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, harusnya menjaga lingkungan yang mereka tempati bukan malah merusaknya. Karena jika hal ini terus berlanjut bumi tidak lagi menjadi “Planet hijau” melainkan menjadi “Planet Plastik”.

 

Untuk mengatasinya, masyarakat harus memiliki kesadaran diri untuk merawat lingkugan sekitar, juga turut serta membantu pemerintah khususnya Pemerintah Kota Surabaya untuk menerapkan Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan di Kota Surabaya. 

 

Menjaga bumi tidak perlu memulai dengan hal besar. Cukup dengan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya sudah cukup membantu bumi agar tetap asri. Mencintai dan melindungi alam sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia. Bumi diserahkan kepada manusia untuk dilindungi, bukan untuk dirusak.

No comments:

Post a Comment