Secarik Kertas di Kota Metropolitan - Araaita.net

Breaking News

Friday, 15 January 2021

Secarik Kertas di Kota Metropolitan

 Penulis: Merlynda AS


Foto oleh Merlynda


“Curhat dong mah, iya dong. Begini mah ….” terdengar secuplik kalimat dari acara televisi yang ada di ruangan lelaki paruh baya itu. 


Memang sedikit berisik, namun acara ini menjadi tontonan wajibnya setiap pagi. Ava yang mendengar suara itu pun merasa terganggu karena volumenya, sehingga  membuat ia  bangkit dari tempat tidur sambil mengacak rambut panjangnya dan menuju kamar mandi. Lagi-lagi kegiatan Ava hanya monoton begini saja, tanpa ada perubahan ekstrim dalam hidupnya. 


“Argh … Astaghfirullah!” ucap Ava dalam lamunnya. 


Akhir-akhir ini ia memang merasakan kegelisahan dalam hari-harinya karena ia sedang dilanda banyak ujian dari kampus. Bagi Ava demi menyelesaikan deadline, begadang sudah menjadi rutinitasnya setiap malam, sehingga ia mampu menggarap atau menyicil semua homework list-nya. Ava pikir hal ini juga sangat menyenangkan, meskipun ia tahu kalau begadang tiap hari itu tidak baik untuk kesehatan. Setiap harinya pun ia hanya bisa memejamkan matanya sekitar empat jam. Membosankan. 


“Ku harap aku bisa lebih bersyukur hari ini.” 


Setelah keluar dari kamar mandi, Ava bersiap untuk olahraga di depan rumahnya, tak lupa ia memakai kerudung bergo favoritnya, masker, serta kaos kaki tidurnya. Jika digambarkan, Ava merupakan sosok wanita remaja yang selalu optimis. Meskipun di usia yang terbilang masih muda, pastinya ia pernah mengalami hal yang memuakkan. Ava adalah anak yang ceria, ia bahkan memiliki rasa empati yang melampaui batas. Namun, tidak tahu hal apa yang membuat perasaannya menjadi anak yang sensitif sekarang.


“Pagi-pagi harus kuat, hiye. Mn, hari ini mau ngapain ya?” gumamnya saat meregangkan kedua lengannya. 


“Hei Ava! Olahraga, ya?” sapa seorang tetangga Ava yang usianya sebaya dengannya.


“Matanya kaga liat apa? Wkwk ….” batin Ava sambil menyeringai, namun tertutupi oleh maskernya. 


“Iya nih, harus sehat pagi-pagi hehe.”


“Semangat ya Ava, jangan lupa nonton drama!” timpal anak sebaya itu sambil membuang sampah di depan rumah.


“Mn.” Tanpa banyak bicara, ia melanjutkan ritual paginya. 


Semenjak semua kegiatan Ava di rumah saja, ia merasakan perubahan drastis dalam dirinya. Ia merasa kurang nyaman saat di  rumah, sehingga hal itu membuatnya takut bahkan tidak percaya diri. Namun tak dapat dipungkiri Ava mencoba tetap produktif, ia juga melakukan kegiatan sehari-harinya, bahkan ia juga mulai aktif dalam komunitas online miliknya. 


Kota tempat tinggal Ava merupakan kota metropolitan yang padat penduduk, sehingga saat ini Ava tidak berani keluar jauh-jauh dari rumahnya, meski hanya menonjolkan batang hidungnya Ava pun enggan. Ia hanya ingin mendekam di rumah, dan melakukan semua kegiatannya dari rumah. Namun Ava janji akan tetap berpikir sehat, dan optimis seperti biasanya, dia harus kembali menjadi anak yang menyenangkan karena untuk saat ini bumi sedang tidak baik-baik saja. 


“Tetap produktif dan jiwa sehat adalah aku! Jia-you!” Kata Ava sambil mengepalkan tangannya. 


Disaat Ava terhanyut dalam suasana hati yang baik, tiba-tiba ia mendengar suara dehaman yang memilukan, siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutannya saat di rumah.


 “Ck, Apa sih!” decaknya. 


Entah hal apa yang membuat Ava merasakan sikap tidak sopan ini saat di rumah saja. Ava sekarang mulai mengerti bagaimana sikap dan sifat asli keluarganya, bahkan kebiasaan apa yang tidak hilang dari keluarganya ia pun paham, memang sudah sewajarnya ia memahami hal itu. 


Ava yang tengah menulis di layar notebook-nya seketika berhenti karena terganggu dengan bisingan suara dari luar kamarnya. Saat Ava hendak membuka pintu kamar, terdengar lelaki paruh baya itu mengomel tidak jelas bahkan ngelantur. Ava pun sempat berpikir kalau laki-laki tua yang ada di depan matanya ini mengalami gangguan jiwa, namun Ava berusaha menepis pikiran buruk itu. 


“Apa lagi sekarang?” gumam Ava dengan nada sebal. 


“Kamu tuh jangan di kamar terus, kenapa? Jadi orang males banget! Apa gunanya kamu nulis-nulis itu?” Oceh lelaki itu dengan suara yang membuat Ava jengkel bahkan ingin menerkam wajahnya. 


Namun hal itu hanya terbesit dalam otaknya, Ava tidak ingin ada keributan yang membuat suasana hatinya menjadi tidak stabil. Kemudian tanpa pikir panjang, ia hanya bisa menghela napas dan menjawab, “Ayah, aku lagi ngerjakan tugas. Kalau ayah mau berangkat kerja. Jangan lupa pakai masker, ya?”


Kata-kata Ava tidak lagi digubris oleh ayahnya yang bergegas keluar rumah. Ava hanya bisa tetap sabar, karena ia yakin mengubah mindset seseorang itu tidak mudah, apalagi kalau tidak ada yang mendukung di masa-masa ini, hal itu malah membuat Ava ingin membenturkan kepalanya saja. 


“Mn, Toxic!” omelnya terlihat geram. 


Tanpa pikir panjang lagi, Ava kembali ke ruang belajarnya dan melanjutkan tugasnya. Selain sebagai seorang mahasiswa, Ava merupakan Founder di komunitas onlinenya. Dalam komunitas ini ia ingin menjadi seorang insan yang lebih bermanfaat, ia juga bersyukur dengan keadaan apapun yang dialaminya saat ini, ia hanya mau melakukan hal yang membuatnnya berkembang, salah satunya menjadi penulis dan pemateri. 



“Sudahlah, jika memang dianggap luka, malah nanti akan membuatku overthinking mulu! Mending aku mengikuti seminar.” Ujar Ava sambil membuka ponselnya.


“O-Oh iya! Harus share ke temen grup nih!” 


---


Beberapa jam telah berlalu, tidak terasa azan ashar sudah berkumandang, Ava pun bergegas untuk menunaikan kewajibannya, serta tugas rumah yang hampir berserakan. Menurut Ava, melakukan hal yang menyenangkan dan menyehatkan akan menghindarkan kita dari pikiran-pikiran buruk. Sehingga kegiatan itu bisa membuat jiwa dan tubuh sehat. 


“Yah, beginilah hidup dengan single parent, harus ekstra sabar.” Eluh Ava dengan menghela napas berkali-kali. 


Setelah merampungkan tugas rumahnya, Ava melanjutkan tugas lainnya lagi. Sebagai Founder, Ava ingin membuat anggota serta teman-temannya nyaman dengannya, nyaman untuk berkeluh kesah, nyaman juga untuk menyampaikan pendapat. Ava juga ingin menjadikan lingkup sekitarnya menjadi sehat, meskipun hanya berjumpa melalui ponselnya.


“Hai Assalamualaikum, apa kabar?” sapa Ava dengan anggota grupnya melalui aplikasi rapat.


“Hai, waalaikumussalam, kabar baik, Va, semoga disana baik-baik juga ya!” Jawab salah satu rekan Ava.


“Aamiin ….”


“Gimana nih, Va? Apa kamu sudah melakukan tips and trick dari seminar online tadi?” celetuk anggota lainnya. 


“Haha … Sudah, dong. Btw, apa nih yang didapat dari seminar tadi, teman-teman?” Tanya Ava senang. 


“Banyak dong sob! Hihi, bener-bener harus diterapkan ini ‘mah.”


“Bener banget! Ava, kamu nggak kenapa-kenapa ‘kan?” Tanya seorang teman terlihat penasaran. 

“Oh-Ha? Nggak kenapa-kenapa kok, Ren! Hehe.”


“Ava, kalau ada kegelisahan silahkan disampaikan aja, ya! Jangan dipendam sendiri, inget ‘kan kata pemateri tadi, kita harus bisa mengungkapkan rasa apapun itu? Dengan menulis pun kita bisa mengungkapkan masalah-masalah itu. Ok?” Tegas seorang senior Ava.


“Ok, siap, Senior!” jawab Ava lantang sambil tersenyum. 


Di dunia ini jika tiada drama maka hidup semua insan akan terasa sepi mampring. Tanpa perjuangan, keluh kesah serta perdamaian. Menulislah selagi bisa untuk mengungkapkan rasa, maka rasakan beban itu lepas satu-persatu. Meskipun ayah Ava ataupun seorang yang memandangnya aneh seperti itu, namun Ava mencoba berpikir positif, dan pikiran itu ia tuangkan dalam cerita-ceritanya. 

No comments:

Post a comment