Seretnya Kompetisi Akibat Corona - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 20 January 2021

Seretnya Kompetisi Akibat Corona

Penulis: Tedy Firmansyah Susanto


Kompetisi olahraga di Indonesia kini terancam mengalami kemunduran dan harus terhenti dikarenakan wabah COVID-19 yang kini menyerang hampir seluruh belahan dunia.


Selama ini kita menganggap olahraga sebagai bidang yang paling dekat dengan masyarakat luas. Mulai dari olahraga kecil-kecilan seperti lari pagi ataupun senam sampai pada olahraga yang memakai sistem kompetisi dan juga memiliki banyak tingkatan. Baik dari tingkat yang paling rendah seperti tarkam (turnamen antar kampung) sampai pada kompetisi professional baik nasional maupun internasional.


Di sisi lain, olahraga juga berperan penting dalam perkembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Berbagai lapisan masyarakat bahkan sangat menggantungkan hidup mereka dari adanya pertandingan ataupun kompetisi. Seperti atlet, pelatih, staf, wasit, klub, sampai pada masyarakat kecil yang ikut mencari pendapatan dari menjual jasa atau aksesoris yang berkaitan dengan sebuah klub maupun kompetisi.


Namun kini semua menjadi semrawut setelah hampir semua kegiatan terhenti akibat pandemi global COVID-19. Sejak Maret 2020 seluruh kompetisi di Indonesia praktis harus terhenti sebagai upaya pencegahan virus Corona, mulai dari Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 di cabang olahraga sepak bola, Indonesian Basketball League (IBL) di cabang bola basket, hingga Pro liga di bola voli. Semua harus menghentikan dan menyelesaikan kompetisi lebih awal. Tentunya ini membawa kerugian bagi semua kalangan. 


Imbas dari wabah ini juga terjadi pada masyarakat kecil yang juga hidup dari adanya kompetisi olahraga. Sebelumnya kita dapat menjumpai turnamen-turnamen di kampung yang dapat mengundang keramaian sehingga juga mendatangkan pundi-pundi bagi penjual makanan maupun atribut, kini mereka harus merugi karena segala bentuk kegiatan yang mengundang keramaian di masyarakat ditiadakan sesuai peraturan dari pemerintah. 


Di lain sisi, panitia penyelenggara pun otomatis juga harus menelan pil pahit karena kompetisi yang terpaksa terhenti dan harus dijadwal serta melewati beberapa persyaratan jika kompetisi ingin berlanjut (penerapan protokol kesehatan). Juga pada pihak team, mereka ada yang tetap harus menggaji pemainnya walaupun kompetisi mandek bahkan ada yang terpaksa memutus kontrak pemain karena tidak adanya pemasukan, pemain ada juga yang kini terpaksa beralih profesi karena ketidakjelasan kapan kompetisi akan berlanjut, pihak penggemar atau fans yang  tentunya juga merasa kecewa karena mandeknya kompetisi. 


Selain itu ada lagi seperti penyelenggaraan liga, acara, usaha perjalanan, pariwisata, infrastruktur, katering, dan penyiaran media. Beberapa nilai ekonomi dari industri olahraga yang sangat fantastis pastinya terancam mengalami penurunan akibat bisnis dalam industri olahraga tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.


Kini ditengah kompetisi yang belum jelas kapan akan dijalankan kembali, ada beberapa klub olahraga yang terpaksa melepas pemainnya untuk hengkang ke klub luar negeri. Beberapa pemain bola voli dan sepakbola yang kini mencoba merantau ke klub Jepang, Bahrain, dan negara-negara lain yang liganya masih bisa berlangsung. Banyak kalangan masyarakat yang menilai bahwa keputusan yang mereka ambil adalah hal yang tepat karena kompetisi di luar Indonesia masih bisa dijalankan namun kompetisi di negeri sendiri harus terhenti. Ada juga yang membenarkan keputusan tersebut karena kompetisi di luar lebih baik ketimbang kompetisi di Indonesia. Banyak juga masyarakat yang merasa kecewa dengan keputusan pemerintah akhir-akhir ini yang dinilai lebih mementingkan kepentingan politik dibanding keberlangsungan hidup kebanyakan masyarakat yang berkecimpung di bidang olahraga.


Bila kita ambil contoh salah satu cabang olahraga yang sangat digemari dan mendapat perhatian lebih dari masyarakat, yaitu sepak bola. Sepak bola dianggap menjadi cabang olahraga yang paling terpukul karena terhentinya kompetisi.  Timnas Indonesia  contohnya, mereka harus menjadwal kembali jadwal dan sistem latihan mereka yang sudah tersusun karena kompetisi yang mereka akan ikuti terpaksa harus ditunda. Di timnas senior sebenarnya ada 3 laga sisa kualifikasi piala dunia 2022 dan piala AFF kini terpaksa harus menganggur karena tidak memiliki agenda pertandingan apapun hingga akhir tahun. Sementara di kelompok umur seperti U19 dan U16, harusnya tahun ini mereka mengikuti rangkaian pertandingan seperti Piala Asia dan Piala Dunia kini harus merescedule jadwal karena urung dihelat dan di geser di tahun berikutnya. 


Molornya jadwal latihan serta tidak adanya kompetisi otomatis juga membuat performa para atlet menjadi menurun. Demi untuk menjaga kebugaran dan performa, pemerintah meminta para atlet untuk tetap melakukan latihan mandiri dan virtual karena adanya physical distancing.


Di tengah kondisi ketidakpastian kelanjutan kompetisi akibat pandemi Covid-19, seluruh pihak yang ikut andil dalam industri olahraga harus bersatu dengan saling mendukung dalam diskusi-diskusi untuk mencari jalan keluar terbaik. Melalui hal tersebut mereka dapat berbagi ide, masalah, dan tantangan yang mereka hadapi. Selain itu, mereka juga berusaha menemukan solusi inovatif untuk masalah sosial yang lebih besar.


Tentu kita semua tidak menginginkan semua ini terjadi, apalagi berkaca pada dampak yang sangat besar pada industri olahraga nasional. Namun inilah yang saat ini terjadi, saat ini sangat dibutuhkan ide dan keputusan serta terobosan yang  diharapkan bisa menjadi jalan keluar supaya kompetisi olahraga nasional tetap dapat beraktifitas karena menyangkut kepentingan masyarakat luas. 


No comments:

Post a Comment