Jadi Pemateri Webinar Nasional, Kalis Mardiasih Beberkan Kekerasan Berbasis Gender Online - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 21 April 2021

Jadi Pemateri Webinar Nasional, Kalis Mardiasih Beberkan Kekerasan Berbasis Gender Online

Penulis : Fika Khoirotun Nisak

Editor : Rafika Wahyuni Melina


Screenshot Kalis Mardiasah ketika mendapatkan materi pada Rabu (21/4) via Zoom Meeting


Araaita.net – Menjadi kegiatan puncak Webinar Nasional dengan tema “Semarak Kebangkitan Kartini Muda” pada Rabu, (21/4) melalui aplikasi Zoom Meeting, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) Komisariat UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai penyelenggara mengahadirkan beberapa pemateri salah satunya, penulis ‘Buku Muslimah yang Diperdebatkan’ Kalis Mardiasih. 


Pada kesempatan ini, Kalis menjelaskan mengenai kasus kekerasan berbasis gender online yang dihadapi perempuan dalam teknologi digital yang berupa harrasment, yaitu pelecehan menggunakan kata-kata seksual. Selain harrasment juga ada yang namanya grooming, modus kekerasan seksual yang menimpa pada anak. Adapun bentuk pelecehan lain, hacking yakni menyusup ke dalam jaringan komputer atau ponsel, dan terakhir ada outing, tindakan menyingkap orientasi seksual atau identitas gender seorang tanpa persetujuan.


“Kita juga mengenal kekerasan berbasis gender cyber seperti harrasment, grooming, hacking, outing,” ucapnya.


Wanita berkacamata ini juga menjelaskan bahwa antara perempuan dengan laki-laki terdapat perbedaan dalam mengakses digital. Kalis menyebutkan bahwa akses perempuan terhadap teknologi dan gawai 12% lebih rendah dibanding laki-laki. Meski begitu dirinya menekankan, feminisme di internet saat ini mudah ditemukan di berbagai media sosial.


“Secara global 250 juta perempuan ini tidak terakses kepada teknologi dibanding laki-laki. Tapi saat ini feminis is everywhere, beda kalo kita bahas 20 tahun lalu,” tegas wanita berhijab biru tersebut. 


Meskipun banyak tersebar tentang feminisme di berbagai media sosal seperti twitter, instagram, dan tiktok menurut Kalis masih terdapat gerakan anti feminisme yang ternyata justru adalah perempuan sebagai inisiator gagasan tersebut. 


Kalis mengatakan adanya pemikiran gerakan anti feminisme seperti gerakan Indonesia tanpa feminsime terjadi karena adanya kesalahpahaman dalam mendefiniskan feminisme. 


Dalam hal ini kelompok perempuan ini biologisnya perempuan tetapi isi kepalanya adalah internalisasi patriarki sehingga gagasan yang disampaikan perpanjangan dari isi kepala laki-laki. 


“Dan ada gerakan anti feminis yang ternyata justru akhirnya adalah perempuan vs perempuan,” ungkapnya.


Khalis juga menambahkan jika saat ini banyak perempuan diobjektivikasi. Diobjektivikasi berarti perempuan sebagai objek maka perempuan itu dibicarakan, dikomentari, perempuan sebagai pihak yang dikontrol, dan perempuan yang diatur.


“Perempuan sebagai objek, beda kalo kita jadi subjek berarti kita yang berbicara atau punya suara kemudian perempuan menjadi subjek yang memiliki komentar artinya punya suara,” tambah Khalis.

No comments:

Post a Comment