Kontroversi KBMU Bernuansa Kepentingan - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 4 April 2021

Kontroversi KBMU Bernuansa Kepentingan

Penulis : Ida Rahma

Editor : Uma Ageng Pathu Prayoga


Ilustrasi KBMU


Kongres Keluarga Besar Mahasiswa (KBMU) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) merupakan forum perwakilan dan permusyawaratan tertinggi pada tingkat Universitas. Kongres ini digelar oleh Senat Mahasiswa Universitas (SEMA U). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Perwakilan SEMA (Senat Mahasiswa) dan DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas, Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan UKK (Unit Kegiatan Khusus) Fakultas dan Universitas. Kegiatan yang dilaksankan pada Kamis, 25 Maret 2021 tersebut bertujuan untuk menetapkan berbagai peraturan Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA), sebagai acuan pelaksaan program kerja selanjutnya. 


Kegiatan yang seharusnya selesai dalam jangka waktu satu hari, molor menjadi dua hari dikarenakan faktor keterlambatan peserta kongres sehingga memakan banyak waktu selain itu ada penambahan dari perwakilan peserta kongres untuk membahas tentang Rancangan Tata Tertib (RANTATIB) pemilihan Dema U dan Garis Besar Haluan Kerja (GBHK).  


Kemoloran dan keterlambatan peserta kongres seharusnya dapat diminimalisir dengan kita disiplin dan menghargai waktu serta jadwal yang sudah di buat oleh panitia, jika tidak memperhatikan dan mematuhi jadwal yang ada maka konsekuensinya kegiata juga akan molor, oleh karena itu perlunya disiplin waktu apalagi kita membawa gelar mahasisiwa yang seharusnya dapat memberikan contoh yang baik.


Dari hal tersebut, saya teringat oleh kata-kata seorang tokoh pendidikan yang bernama, Ki Hadjar Dewantara “Dimana ada kemerdekaan disitulah harus ada disiplin yang kuat.” Sangat malu sekali jika kita mengaku sebagai mahasiswa yang meneriakan kata merdeka- merdeka di sepanjang jalan serta mengatasnamakan suara rakyat tertindas, hal sekecil disiplin sering kita lupakan.


Jadi, seharusnya sifat disiplin itu sudah ditanamkan dalam diri setiap Mahasiswa. Karena dalam acara itu menjalin komitmen dengan orang lain, bukan hanya dengan diri sendiri.


Selain itu, dalam kongres yang digelar di hotel POP Surabaya tersebut diwarnai keributan karena masalah kedapatan ada rombongan liar yang masuk dalam kongres tersebut tanpa membawa undangan yang sebelumnya sudah menjadi syarat administrasi peserta yang mengikuti kongres. Selain itu, daftar peserta diabsensi dengan jumlah peserta yang hadir dalam kongres itu berbeda. Sehingga rombongan liar tersebut, ketahuan bahwa mereka bukanlah peserta penuh yang termasuk dalam undangan.


Adanya rombongan liar, seharusnya dapat dihindari dengan keketatan chek in peserta. Agar tidak terjadi konflik antara peserta penuh dan peserta peninjau. Dalam artian acara tesebut sudah kondusif sejak awal hingga akhir acara. Juga tidak membuat acara molor hanya dengan perdebatan sepele. 


Pada kongres tahap ke dua berlangsung, didapati beberapa konflik. Yang pertama tentang perbedaan pendapat antara ketua pelaksana kongres dengan ketua Sema U mengenai draft yang digunakan acuan kongres. Kemudian, pada pertengahan acara adanya konflik karena pimpinan sidang sering memilih peserta aktif yang berada didepan, sedangkan yang belakang tidak terlalu diperhatikan. 


Sebelum acara kongres berlangsung, seharusnya sudah ada briefing antara ketua sema U dengan panitia kongres. Mengenai seluruh rangkaian kegiatan, termasuk acuan draft yang digunakan untuk kongres. Supaya tidak terjadi miskomunikasi yang membuat konflik antar pembuat acara dan menghambat jalannya kongres. Selanjutnya, sebagai pimpinan sidang harus bersifat adil dan tidak memihak beberapa peserta saja. Meskipun tempat peserta tersebut jauh dari tempat pimpinan sidang. 


Pada akhir kongres, situasi mulai memanas. Salah satunya yaitu pada saat Peninjauan Kembali (PK). Kemudian diadakan voting oleh perwakilan Mahasiswa yang datang pada saat itu, dan voting terbanyak sepakat dilakukan PK. Namun, setelah itu terjadilah perdebatan yang sudah tidak bisa terkendali. Dengan argumen dan kepentingan masing-masing, yang tidak bisa diterima oleh beberapa pihak yang menyebabakan acara semakin tidak kondisif. Banyak peserta yang berdiri saling dorong, hingga ketua panitia membanting kursi. Sehingga sidang ditutup paksa dan Kongres dinyatakan selesai tanpa kejelasan. 


Dari kejadian tersebut, menunjukan bahwa KBMU ini kurang persiapan yang matang selain itu cenderung membawa kepentingan golongan, sehingga arogansi dan emosi yang diperlihatkan bukan intelektual yang seharusnya menjadi budaya mahasiswa. Saran penulis lebih baik mengadakan kegiatan dengan persiapan yang matang. Sehingga tidak terkesan kegiatan ini diadakan atas dasar terkepaksaan dari golongan-golongan tertentu atau kepentingan belaka.

No comments:

Post a Comment