Seminar KOPRI: Enam Pola Pikir Kartini yang Menginspirasi - Araaita.net

Breaking News

Tuesday, 20 April 2021

Seminar KOPRI: Enam Pola Pikir Kartini yang Menginspirasi

Reporter: Rafika Wahyuni Melina

Editor: Fauziyah Ikrimah

Tangkap Layar: Nur Syam saat menjelaskan materi dalam Seminar Nasional via zoom (20/4)

Pada hari kedua (20/4) pelaksanaan Seminar Nasional bertajuk “Semarak Kebangkitan Kartini Muda”, yang diselenggarakan oleh Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indoenesia Puteri (KOPRI) Komisariat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya via zoom, mengundang guru besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Nur Syam, yang membahas enam poin “Bagaimana Kartini Bisa Menginspirasi” di masa modern saat ini.

Pertama, Kartini menginspirasi kesetaraan gender (lelaki dan perempuan setara). Kartini merupakan tokoh dalam emansipasi wanita yang menyerukan seorang wanita berhak mendapatkan pendidikan. Dimana kala itu, bangku pendidikan hanya dienyam oleh laki-laki saja. Menurut Nur Syam, makna dari kesetaraan gender ini bukan berarti wanita dan laki-laki sama, melainkan adalah saling memenuhi kebutuhan. Karena, ada konteks nature yang merupakan pemberian dari Pencipta, seperti dari segi fisik.

“Menurut saya kesetaraan bukan seperti bahasa Blitar loko-loko, tapi kesetaraan adalah konteks yang saling memenuhi diantara kita bersama,” ujar pendiri Nur Syam center ini.

Kedua, kemandirian (tidak bergantung). Seorang wanita tidak selalu harus bergantung kepada laki-laki, karena ia bisa melakukan apapun sendiri termasuk mandiri dalam menentukan nasibnya.

Ketiga, kemerdekaan (bebas menentukan pilihan). Seorang wanita memiliki hak untuk menentukan pilihannya, ia memiliki kebebasan terkait hal tersebut. Namun, perlu digaris bawahi menentukan pilihan ini harus sesuai dengan agama. Karena dalam menentukan pilihan ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yakni pilihan rasional dan pilihan religi.

Lebih lanjut, Nur Syam menjelaskan pilihan rasional merujuk pada untung dan rugi, sedangkan pilihan religi tidak hanya berfokus pada untung dan rugi saja, melainkan ada yang namanya dimensi berkah.

“Pilihan rasional hanya untung rugi, tapi kalau pilihan religi ada dimensi berkah, hidup tidak hanya sekarang,” jelasnya lelaki yang menggunakan kaos berkerah tersebut.

Keempat, keberdikarian (mampu hidup sendiri). Seperti hal nya mandiri, seorang wanita harus mampu hidup sendiri untuk menentukan pilihannya. Ia dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri dan keluarga.

Kelima, berpikir substantif (tidak terlena dengan penampilan). Dosen Pengembangan Masyarakat Islam tersebut menjelaskan bahwa meskipun Kartini memiliki pemikiran yang modern, ia tetap berpenampilan seperti wanita Jawa pada umumnya, dengan menggunakan kebaya, jarik, dan rambut yang tersanggul rapi. Gaya hidupnya pun juga mengikuti orang Jawa pada masa itu.

“Dia berpikiran modern, tapi ekspresi dan lifestyle dalam kehidupan sehari hari tetap orang Jawa,” ucapnya.

Keenam, menjadi manusia seutuhnya. Dalam poin terakhir, Kartini mengajarkan serta menginspirasi setiap perempuan untuk menjadi manusia seutuhnya dengan memiliki hak dan kewajiban sebagai makhluk yang hidup di dunia.

Selain enam poin tersebut, Nur Syam juga berpesan kepada peserta yang hadir untuk tidak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Meskipun memiliki jabatan dan pengaruh di masyarakat, seorang perempuan harus tetap pada kodratnya dan kembali pada keluarga.

“Apapun jabatannya tetap mementingkan keluarga,” pungkasnya.

 

No comments:

Post a Comment