94 Tahun Persebaya: Merawat Tambaksari dalam Ingatan - Araaita.net

Breaking News

Friday, 18 June 2021

94 Tahun Persebaya: Merawat Tambaksari dalam Ingatan

Penulis: M. I'anur Rofi'

Editor: Arfan Eka Wijaya


Gelora 10 November dari depan (sumber: Bola.com)

Tepat hari ini, 18 Juni 2021 anthem “Song For Pride” menggema di 10 traffic light di Surabaya. Euforia Bonek Mania (sebutan fans Persebaya Surabaya) lewat anthem magis tersebut sukses membangkitkan semangat Arek Suroboyo di hari jadi Persebaya yang ke 94.

Kata Bonek sebenarnya adalah akronim dari “bondho nekat” yang berarti “modal nekat”. Istilah ini menjadi gambaran bagaimana totalitas dan militansi fans persebaya dalam mendukung tim kebanggaannya.

Konon, istilah Bonek dicetuskan oleh pimpinan surat kabar terkemuka di Jawa Timur, Dahlan Iskan yang geleng-geleng melihat banyaknya pendukung Persebaya di luar Senayan. Sumber literasi lain juga menyebutkan, istilah Bonek dicetuskan oleh wakil ketua DPRD Jawa Timur, Purnomo Kasidi yang melihat banyaknya supporter Persebaya berhamburan di halaman hotel tempat ia menginap.

Persebaya dalam sejarahnya tak lepas dari nenek moyangnya, Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB) dan Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) dua klub sepakola yang lebih dulu hadir di Surabaya.

SVB berdiri pada 5 Agustus 1909, klub ini mendominasi pemain Eropa orang-orang Belanda karena pada saat itu Surabaya masih ada dalam masa kolonial. Berawal dari situlah muncul gagasan untuk mendirikan klub sepakbola yang didominasi orang-orang pribumi yang digagas oleh R. Pramoedji dan Paidjo. Akhirnya pada tanggal 18 Juni 1927 lahirlah klub sepakbola yang menjadi cikal bakal Persebaya dengan nama Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB).

Pada saat itu SVB dan SIVB sering menggelar pertandingan persahabatan, namun pada saat itu juga karakter perlawanan dari para punggawa yang khas tercermin dalam Arek Suroboyo, bukan perlawanan fisik melawan kolonialisme namun perlawanan antar permainan (fair-play).


Lapangan Tambaksari tempo dulu (sumber: historia.id) 

Lapangan Tambaksari, Cikal Bakal G 10 N

Salah satu ikon legendaris dari Persebaya adalah stadion Gelora 10 November atau G 10 N. Penggunaan nama tersebut tak hanya sekedar nama, namun memiliki arti dan sejarah yang mendalam dari perjuangan Arek Suroboyo itu sendiri. Terletak di Jl. Tambaksari, Kec. Tambaksari, Kota Surabaya, Jawa Timur, lapangan Tambaksari inilah awal sejarah dari Gelora 10 November.

Pada mulanya, Pembangunan lapangan ini adalah bagian dari komplek olahraga pembangunan kota Surabaya pada tahun 1907-1923 pada masa pemerintah Hindia Belanda. Awal abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda menggunakan lapangan Tambaksari sebagai markas klub Soerabaiasche Voetbal bond (SVB).

Beberapa bulan pascareformasi, lapangan Tambaksari dijadikan sebagai rapat samudera (Rapat Besar) untuk show of force pemerintah Jepang dalam mempertahankan status quo menjelang kedatangan sekutu di Indonesia. Setelah penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949, lapangan Tambaksari dialihkan ke Persebaya lima tahun setelah direnovasi dan dijadikan stadion.

Menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) ke VII pada tahun 1969, lapangan Tambaksari dipercantik dan direnovasi tribunnya menjadi bertingkat. Uniknya, renovasi lapangan Tambaksari tak menghilangkan pohon angsana, ini dikarenakan pohon tersebut difungsikan sebagai peneduh dari panas terik kota Surabaya. Dosen Universitas Negeri Surabaya, Rojil Nugroho Bayu Aji mengatakan mungkin ini satu-satunya di dunia konsep stadion yang terdapat pohon di tribunnya. Setelah direnovasi, namanya diganti menjadi Stadion Gelora 10 November, nama yang diambil dari spirit perjuangan Arek Suroboyo.

Persebaya, Bonek, dan Tambaksari adalah satu kesatuan utuh yang disegani kala itu. Tak sedikit tim lain yang merasakan “keangkeran” dari Tambaksari kala laga kandang Persebaya. Jika persebaya adalah raga, maka Tambaksari adalah jiwa itu sendiri. Tambaksari melahirkan pemain-pemain berkualitas untuk Persebaya, nama nama seperti Gomes de Oliveira (pelatih kepala), Danilo Fernando (asisten pelatih), dan Hendro Kartiko (pelatih kiper) yang dahulu menjadi bagian dari Persebaya, terkenang di Stadion ini.

Maka dari itu, sejatinya setiap Bonek Mania tak hanya menikmati permainan tim Persebaya, baik Bonek maupun Persebaya tak lupa untuk ikut merawat sejarah Tambaksari dalam ingatan masing-masing.

 

 


No comments:

Post a Comment