Hadiah Untuk Namira - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 13 June 2021

Hadiah Untuk Namira

Penulis : Sherina Ana Tasya Kamila

Editor : Rafika

Sumber : crew ara aita


Hiruk pikuk Jalan Raya Lamongan - Mantup dan panasnya terik matahari yang semakin lama semakin membakar Indra peraba. Pun tak menyurutkan niat para jama'ah untuk berkunjung demi menuntaskan kewajiban dari Sang Pencipta.


Masjid Namira, sebuah masjid besar yang terletak di Jalan Raya Lamongan - Mantup. Masjid ini merupakan masjid pribadi yang dibangun oleh H. Muhammad Helmi Riza dan istrinya, Hj. Eny Yuli Arifa sebagai ungkapan syukurnya kepada Allah SWT. Ungkapan rasa syukur mereka atas tumbuh dewasanya putri mereka, Namira Mirza. 


Bagi Helmi dan Eny, Namira bak berlian yang menghiasi perhiasan emas. Helmi dan Eni bukan merupakan pasangan suami istri yang mustahil untuk memiliki buah hati. Mereka bahkan telah menimang lima putra. Namun kehadiran Namira sebagai pelengkap layaknya taman yang membutuhkan bunga.


Pada tahun 2012, tepatnya ketika Namira akan lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dimulailah pembangunan masjid ini. Hingga akhirnya bulan Juli 2013 Masjid Namira resmi dapat beroperasi.


Saat berkunjung atau hanya berlalu-lalang di depan Masjid Namira mungkin akan sedikit kebingungan. Masjid ini memiliki desain aneh untuk masjid di Indonesia. Pada umumnya masjid di Indonesia memiliki menara atau kubah sebagai bentuk akulturasi budaya Islam dengan Hindu-Budha.


“Masjid Namira dibangun menggunakan arsitektur Arab Saudi dengan model minimalis tanpa menara”, ujar ta’mir Masjid Namira pada (11/06).


Masjid yang dilengkapi dengan AC, parfum ruangan layaknya Masjidil Haram, Kiswah, dan karpet tebal menambah kesan nyaman bagi jama'ah. Kiswah yang terpajang di tempat imam Shalat didapatkan dari teman Helmi yang kebetulan merupakan imam Masjidil Haram.


Waras, selaku ta'mir Masjid Namira menjelaskan bahwa kiswah yang diletakkan di tempat imam merupakan pemberian dari teman Helmi selaku imam Masjidil Haram. Helmi melaksanakan haji dan umrah setiap tahun sehingga bukan hal mustahil untuk berteman dengan imam Masjidil Haram. Namun terkait mahar yang diberikan masih menjadi rahasia. 


Sering perkembangannya, masjid ini memiliki banyak jama’ah. Sehingga pada tahun 2014 dilakukan perluasan tanah. Pada Oktober 2016 terjadilah peralihan tempat ibadah dari masjid berbentuk kotak yang menyerupai arsitektur arab kepada bangunan masjid yang lebih menyerupai arsitektur masjid Indonesia dengan kubah dan menara.


“Masjid ini bukan wisata religi yang dilengkapi dengan makam Para Masyayikh. Namun alhamdulillah banyak yang berkunjung disini”, pungkas pria berjaket hitam.

 

No comments:

Post a Comment