Hadiri Webinar, Fahrudin Faiz: Tasawuf dan Kejawaan Memiliki Fokus yang Sama - Araaita.net

Breaking News

Friday, 11 June 2021

Hadiri Webinar, Fahrudin Faiz: Tasawuf dan Kejawaan Memiliki Fokus yang Sama

Penulis : M. Rakha Asyamsyah, Ahmad Ziauddin Sardar

Editor : Fika Khoirun Nisak



Araaita.Net - Melalui aplikasi zoom meeting Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengadakan webinar pada Jumat, (11/6) dengan tema “Tasawuf Jawa: Ajaran dalam Seni dan Budaya”. Dengan meghadirkan narasumber pakar filsafat, Fakhruddin Faiz membahas tentang kompabilitas tasawuf dan kejawaan


Fahrudin Faiz yang sedang memberikan materi melalui zoom meeting


Dalam kesempatannya Fahrudin Faiz menjelaskan tasawuf dan budaya Jawa masing-masing memiliki fokus yang sama yaitu berfokus pada batin dan rasa. Sehingga Fahrudin Faiz menekankan jika tasawuf jawa beehubungan dengan kebatinan, seperti sikap selalu menerima segala sesuatu yang terjadi.


"Intisari kejawaan adalah kebatinan. Ideal kejawaan menekankan pada ketentraman batin, keselarasan, sikap narima terhadap segala peristiwa yang terjadi," ujar pemilik channel Youtube ngaji filsafat tersebut.


Pria yang akrab disapa dengan Pak Faiz ini juga menambahkan jika karakter kejawen seperti percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya kepada hal-hal supernatural, mengutamakan hakekat dari segi formal dan ritual, mengutamakan akhlak-adab, percaya dan terima takdir, dan rukun, sedikit berbeda dengan aliran-aliran lainnya. Karena aliran kejawen merupakan keselarasan seorang sufi yang sederhana dan tetap beribadah kepada Tuhan. 


"Karakter yang semacam inilah menurut saya ketika tasawuf masuk jadilah mudah" ujar lelaki kelahiran Mojokerto tersebut.

Narasumber kedua yakni Aguk Irawan

Sependapat dengan Faiz, narasumber kedua pengasuh Pondok Pesantren Baitul Hikmah Aguk Irawan mengatakan jika mayoritas orang yang menganut kejawen ibadahnya akan lebih khusyuk. Karena pemganut kejawen menerapkan tasawuf seperti halnya tirakat yang diyakini sebagai wadah dan penghubung agar sesuatu yang diinginkan tercapai.


"Karena, jawa itu manunggaling kawula Gusti. Puasa untuk apa yang diinginkan (dalam hal kebaikan), menghindari kemewahan dunia, dan fokus mendekatkan diri kepada Tuhan”, ungkap pengasuh Ponpes Baitul Kilmah tersebut.


Aguk juga menjelaskan tentang peran tasawuf di masa kini. Dimana problem yang dijumpai tentang kapitalisme, komunikasi yang canggih, serta tak ada filter yang dilakukan oleh masyarakat saat menerima informasi terbaru.


“Kita ini tak hanya punya jasad, tapi juga punya ruh. Batiin kita mempunyai ikatan dengan pengendalian diri atas segala ancaman yang terjadi kepada fisik kita. Hal itu kita gunakan untuk menghindarkan diri dari kapitalisme yang sedang terjadi," pungkasnya.

No comments:

Post a Comment