Menjadi Perempuan Menjadi Manusia Seutuhnya - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 9 June 2021

Menjadi Perempuan Menjadi Manusia Seutuhnya

Penulis : Andhani Kholisotul Muklisoh

Editor : Rafika


Perempuan sering disebut sebagai manusia kedua, manusia yang tak diperhitungkan, bukan pula dijadikan standar penentu kehidupan. Kondisi ini membawa kita perlu bercermin atas perbedaan biologis perempuan yang dianugerahkan Tuhan kepada makhluknya. Kenyataan yang yang tak pernah dirasakan dan dijamah oleh jenis manusia lainnya menjadi sangat penting untuk disampaikan, agar tak menjadi api di kemudian hari.


Kenyataanya, perempuan dan laki-laki memiliki pengalaman biologis yang berbeda. Masa dan dampaknya sangat penting untuk diperhitungkan. Misalnya, perempuan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui yang masanya tidak menitan. Namun bulanan, mingguan, hingga tahunan, bahkan pada ayat AlQuran Surat AL-Luqman kita temui kalimat وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ yang menjelaskan betapa beratnya seorang perempuan dengan maksud lemah yang bertambah-tambah saat mengandung. perbedaan ini seharusnya tidak menjadikan subordinasi pada perempuan. Cara pandang pada lawan jenis sebatas makhluk seksual menjadikan interaksi sebatas pejantan dan betina. Pada Nalar Kritis Muslimah, cara pandang seperti ini hanya akan menghadirkan sebuah pikiran sebagai objek sosial. Pakaian apapun yang menjadikan ciri lawan jenis justru ditangkap oleh otak sebagai tanda keberadaan objek seksual.

 

Tidak berhenti pada subordinasi, perempuan sering pula mengalami marjinalisasi yang diakibatkan oleh berbagai keadaan. Pemaksaaan nikah pada anak perempuan masih marak terjadi. Jika mengaca pada kejadian beberapa hari lalu, dimana salah satu sinetron sempat ramai akibat salah satu artis yang masih berusia 15 tahun memerankan istri ketiga. Hal ini dapat menunjukkan bahwa masih kuatnya budaya perkawinan anak yang sehrusnya segera disadari. Dalam sinetron tersebut, kita juga mengetahui dimana perempuan mengalami berbagai kekerasan, baik secara psikis juga pemaksaan dalam hubungan seksual. 


Kesadaran kemanusian perempuan harus selalu dikaji ulang agar mencapai derajat kesadaran tertinggi. Dimana perempuan dan laki-laki adalah manusia. Standar kemanusiaan mereka sama sambil memberikan perhatian khusus pada pengalaman perempuan. Perempuan tak lagi menjadi obyek, namun subyek penuh pada sistem kehidupan. 


Kesadaran seperti ini harus dipahami baik laki-laki maupun perempuan. Karena pada praktiknya, perempuan masih sering menganggap hal tersebut wajar dan tak memberikan penolakan. Perempuan dengan kesadaran tinggi akan memahami sebuah keadaan sehingga tidak mudah diperbudak. Karena segala sesuatu akan disebut maslahat, hanya jika maslahat juga bagi perempuan. 


Baik laki-laki maupun perempuan, pasti mengalami pengalaman yang berbeda. Dan sebagai manusia di dunia ini, Rumi mengatakan bahwa dunia adalah penjara, dan kita semua adalah tahanan. Lalu mengapa kau tetap di dalam penjara, sedangkan pintu terbuka lebar.

1 comment: