Sedihku Tawaku - Araaita.net

Breaking News

Tuesday, 22 June 2021

Sedihku Tawaku

Penulis : Nabila Aprillia Zahra

Editor : Rafika


Sumber : Pinterest


Saat Pagi hari selepas bangun tidur, seperti biasa, Sherina langsung bergegas mandi dan makan lalu bersiap untuk berangkat ke Kampus. Papa Sherina yang seorang anggota dewan dan Mamanya yang bekerja sebagai seorang presenter berita, selalu bangun lebih awal darinya karena harus segera berangkat untuk bekerja.


Sherina, sosok wanita yang dikenal ramah, baik dan pintar. Memiliki orang tua yang cukup berpengaruh dan kuliah di salah satu universitas bergengsi membuat banyak orang mengidamkan kehidupannya. Tapi dibalik itu semua, terdapat rahasia yang begitu mengejutkan bila terungkap.


“Sherina, Mama Papa berangkat dulu” Ucap sang Mama sembari meraih kunci mobil dan berjalan ke pintu keluar.


“iya Ma. Hati-hati di Jalan” Teriak Sherina kepada Mamanya sambil cepat-cepat menghabiskan sarapannya.


Setelah habis, Sherina mengambil tas lalu bergegas untuk pergi ke Kampus. Di Kampus, Sherina memiliki 2 orang sahabat bernama Agatha dan Briella. Orang tua mereka saling mengenal satu sama lain dan juga sering mengadakan perjamuan makan untuk membahas perkembangan nilai mereka.


Sampainya di Kampus ia bertemu dengan Agatha dan Briella. 


“Hay Sherina” Ucap Briella dengan senyuman dan mendatangi Sherina yang tengah membawa buku di tangannya.


Agatha yang membawa Americano favoritnya berlari mendatangi Sherina. Karena terlalu bersemangat, ia tidak sengaja tersandung kakinya sendiri dan terjatuh. Kopi yang harusnya ia minum, tumpah ke baju sherina dan juga membuat buku catatan Sherina basah kuyup.


“Astaga Agatha, apa yang kau lakukan? Ceroboh sekali!” Ucap Briella dengan tatapan marah ke Agatha.


“Maafkan aku Sherina, aku tidak sengaja menumpahkan kopi ini” Ucap Agatha sembari mengelap tumpahan kopi yang ada di baju Sherina.


“Lihatlah, karena perbuatanmu baju dan buku Sherina basah semua!” Ucap Briella kepada Agatha dengan nada yang meninggi.


“Sudahlah kalian berdua, tenang aku tidak apa apa. Lagi pula Agatha tidak sengaja menumpahkannya” Kata Sherina sambil menatap Agatha dan tersenyum manis kepadanya.


Seperti yang sudah diduga, Sherina selalu tersenyum ramah meskipun hal tidak menyenangkan terjadi kepadanya. Begitulah Sherina yang dikenal banyak orang.


“Aku ganti baju dulu di Kamar Mandi lalu pergi ke Kelas. Kalian duluan aja, nanti aku nyusul” Ucap sherina.


Saat berada di Kamar Mandi setelah ganti baju, Sherina mendapat telfon dari seseorang.


“Sherina, hari ini nilai ujianmu akan diumumkan. Kenapa kau tidak memberitahu Papa? Apa kau tahu bahwa kau akan dikalahkan lagi oleh Aghata? Awas saja sampai kau mempermalukan Papa lagi! Papa tidak akan mengampunimu!” Ucap Papa dalam telfon tersebut.


Sherina langsung menutup telfon itu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Orang tua Sherina dikenal sebagai sosok yang perfeksionis. Merasa menjadi orang yang berpengaruh, kedua orang tua Sherina mendidik keras anaknya agar menjadi sosok yang sempurna demi menjaga nama baik keluarga tersebut. Tanpa disadari, hal itu perlahan merusak mental Sherina.


Setelah mematikan telfon itu, Sherina menyeringai lalu merobek-robek pakaian yang terkena kopi tadi. Ia berteriak dan melampiaskan kekesalannya kepada Papanya dengan menginjak-nginjak bajunya lalu membuangnya ke Tempat Sampah. Usai melampiaskan amarahnya, ia pun berjalan keluar.


Saat keluar dari Kamar Mandi, Sherina melihat Ayah Agatha duduk bersama Agatha sambil memberikan paper bag berisi makanan. Ayah Agatha mengusap rambut anaknya sembari berkata,


“Agatha, apapun hasil ujianmu nanti ayah berharap kamu tidak akan berkecil hati. Kamu sudah berusaha semampumu dan Ayah akan selalu bangga kepadamu” Ucap Ayah Agatha dengan lembut.


Sherina yang mendengar ucapan tersebut terdiam sejenak dengan mata yang berkaca-kaca dan mulut yang tersenyum. 


“Selamat pagi Om” Sapa Sherina kepada Ayah Agatha.


“Selamat pagi juga Sherina. Bagaimana, apa sudah siap dengan pengumuman ujian nanti?” Ucap Ayah Agatha sambil memandang Sherina dengan semangat.


“Tentu saja siap Om” Sherina membalas perkataan Ayah Agatha dengan ramah.


“Kenapa Ayah menanyakan hal itu? Tentu saja nilai Sherina akan baik. Dia selalu mendapat urutan kedua di Kampus selama 3 tahun berturut-turut” Ucap Agatha kepada ayahnya.


Mendengar hal itu Sherina merasa sangat kesal. Ucapan Agatha terdengar seperti ledekan bagi Sherina karena ia tidak pernah mendapatkan urutan pertama di Kampus. Meski rasa amarah bergejolak Sherina tetap terlihat tersenyum ramah dihadapan mereka berdua.


“Baiklah kalian berdua segera masuk. Ayah akan kembali ke Kantor. Semoga hari kalian menyenangkan” Ucap Ayah Agatha sembari melambaikan tangan dan meninggalkan mereka berdua. 


 “Ayo sherina kita masuk ke kelas. Aku sudah tidak sabar mendengar hasil ujian kita” Ucap Agatha sambil menggandeng Sherina untuk masuk ke Dalam Kelas.


“Okee, ayo kita masuk. Aku juga sudah tidak sabar” Ucap Sherina dengan senyum lebar ke Agatha walau sebenarnya ia sangat jengkel melihat Agatha. 


Tidak lama setelah mereka masuk ke dalam kelas, Profesor Richard pun datang dan berkata,


“Baiklah anak-anak seperti yang sudah kalian nantikan, hasil ujian semester ini sudah saya upload di Website kampus. Silahkan kalian cek” Ucap Profesor Richard kepada seluruh mahasiswa di Kelas.


“Wah Agatha hebat sekali kau. Kau berada di urutan nomer 1 lagi selamat Agatha” Ucap Briella kepada Agatha.


“Terima kasih Briella. Kau juga hebat bisa masuk dalam 10 besar. Wow lihatlah Sherina, dia hebat sekali bisa mempertahankan posisinya di urutan kedua aku sangat bangga padamu” Ucap Agatha sambil menepuk pundak Sherina.


Marah? Tentu saja Sherina sangat marah dan kesal dengan ucapan Aghata. Seolah Aghata ingin berkata pada Sherina bahwa dirinya tak sehebat dia. Namun seperti biasa, Sherina hanya bisa tersenyum menanggapi itu semua. 


Ring..Ringg.. Ring.. Telfon Sherina berbuyi. Ternyata Papa Sherina yang menelfon,


“Ada apa pa menelfonku jam segini?” Ucap Sherina.


“Ke Lobi Kampus sekarang! Mama Papa menunggumu, cepat!” Ucap Papa Sherina dengan ketus.


“Baik pa” Ucap Sherina sembari menghembuskan nafas dan bergegas pergi ke Lobi Kampus.


“Kau mau kemana Sherina” Tanya Briella kepada Sherina.


“Menemui orang tuaku di Lobi” Jawab Sherina sembari berjalan ke Pintu.


Belum sempat menyapa kedua orang tuanya, Sherina langsung dimarahi oleh Mama dan Papanya begitu sampai di Lobi.


“Kau ini Sherina, selalu mempermalukan Papa. Lihatlah, kau selalu menjadi yang nomer dua. Bagaimana bisa kau begitu bodoh!” Ucap Papa Sherina dengan tatapan tajam ke Sherina.


“Mama selalu memberikan apa yang kau minta, fasilitas selalu mama penuhi lantas inikah balasanmu atas semuanya?” Bentak Mama kepada Sherina.


“Ada apa denganmu? Mengapa kau sangat mudah sekali dikalahkan? Lihatlah Mama dan Papa! Saat kuliah dulu kami selalu menduduki peringkat pertama dan tidak pernah sekalipun tergeser. Apa kau terlalu malas belajar? Atau Sibuk bermain dengan temanmu? Jawab anak bodoh jangan hanya diam saja!” Amarah Papa semakin meningkat melihat Sherina yang hanya diam dengan tatapan kosong.


Mendengar keributan yang terjadi akhirnya banyak mahasiswa melihat cekcok yang tengah terjadi. 


“Mengapa Sherina lama sekali? Bagaimana kalau kita jemput dia di Lobi? Sekalian aku ingin menyapa Papa dan Mamanya Sherina” Ucap Briella.


Akhirnya Briella dan Agatha menyusul Sherina ke Lobi. Saat sampai, mereka terheran melihat banyak anak yang berkumpul dan mendengar suara keributan terjadi. Dan betapa terkejutnya Briella dan Agatha melihat apa yang dilakukan oleh Mama Sherina


“Plakkkkk” Suara tamparan yang melayang ke wajah Sherina. Sontak Briella dan Agatha berlari mendatangi Sherina.


“Sherina apa kau tidak apa-apa?” Ucap Agatha.


Tiba-tiba Sherina menunjukan ekspresi yang seharusnya tidak ia tunjukkan. Sherina tertawa terbahak-bahak sambil memegangi pipinya yang merah akibat tampatan dari mamanya.


“Ahahahah anakmu ini memang bodoh dan memalukan Ma. Mengapa tidak kau bunuh saja aku?” Ucap Sherina sambil tertawa melihat orang tuanya. 


“Apa yang kau katakan Sherina? Mengapa kau mejadi seperti ini?” Ucap Papa Sherina.


Tekejut dengan sikap anaknya, Papa Sherina pun terjatuh lemas sambil memegang dadanya. Mama Sherina yang mengetahui penyakit jantung sang suami kambuh, sontak memeluk suaminya yang hendak terjatuh. Mereka berdua pun terduduk di Lantai Lobi. Melihat hal itu Sherina malah semakin menggila. Tawanya semakin keras dan tak terkendali.


“Ahahahah. Kenapa kalian berlagak seperti dalam drama?” Ucap Sherina dengan tawanya sembari bertepuk tangan melihat kehebohan yang papa dan mamanya lakukan.


“Hentikan Sherina hentikan! Kenapa kau menjadi seperti orang gila?” Ucap Mama sambil menangis tersedu-sedu.


“Kenapa? Terkejut? Aku memang selalu seperti ini, aku selalu tertawa meskipun perasaanku hancur. Aku tidak bisa lagi mengutarakan betapa sakitnya perasaanku ketika Mama dan Papa selalu menuntutku untuk menjadi sempurna. Papa dan Mama selalu membandingkan aku dengan Agatha, kalian juga tidak pernah menghargai semua usaha yang telah aku lakukan demi mendapat nilai yang baik” ucap Sherina dengan nada tawaan yang sinis.


Kedua orang tua Sherina hanya bisa menangis mendengar perkataan Sherina. Mama Sherina berusaha menenangkan emosi Sherina yang meledak-ledak sama sekali tidak dihiraukan olehnya.


“Tenanglah Nak, dengarkan penjelasan mama terlebih dahul…” Belum selesai bicara, perkataan Mama Sherina pun langsung dipotong.


“Dan Mama, Mama selalu memaksaku untuk tersenyum meskipun aku sedang bersedih karena Mama fikir menunjukan kesedihan adalah sebuah aib yang merusak citra keluarga. Aku lelah ma, aku ingin diperlakukan layaknya manusia normal. Aku selalu kesal dan marah ketika ada orang tua yang begitu pengertian dengan anaknya. Aku selalu bertanya-tanya mengapa orang tuaku berbeda? Selalu mengatur hidupku dan membuatku sangat tertekan sampai aku tidak tau bagaimana harus mengekspresikan rasa sakit yang aku rasakan” Ucap Sherina yang tetap tertawa sinis meski air matanya terus jatuh.


Akhirya Mama dan Papa sherina meminta maaf atas semua perlakuan yang tak pantas terhadap Sherina. Tangis pecah di tempat itu pun terjadi. Teman-teman Sherina yang melihat hal itu turut sedih mengetahui bahwa tenyata Sherina selalu memendam kesedihan dibalik senyum ramahnya itu. Akhirnya setelah kejadian itu, Sherina dibawa ke Dokter Psikologi untuk mengobati penyakit mentalnya. Saat masa pemulihan, Papa dan Mamanya selalu memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup pada Sherina. Sherina pun merasa sangat lega dan bersyukur. 

No comments:

Post a Comment