Teman Semanis Donat - Araaita.net

Breaking News

Friday, 11 June 2021

Teman Semanis Donat

Penulis : Ervina Putri Dwi Magfiroh
Editor : Rafika

Sumber: pinterest


Ting... Ting...Ting... Ting

Suara nyaring berasal dari jam weker membuatku terbangun. Dengan mata yang masih setengah terpejam tanganku bergerak mencari keberadaan jam weker milikku. Segera aku beranjak dari tempat tidur untuk mencuci wajahku.

Setelah itu, aku mulai menyalakan kompor gas dan ku letakkan penggorengan diatasnya kemudian menuangkan minyak goreng secukupnya. Kumasukan adonan yang sudah ku bentuk bulat-bulat dengan lubang di tengahnya kedalam minyak yang sudah panas dan menunggu hingga berwarna kuning kecoklatan.

Namaku Arini biasa dipanggil Rini, aku seorang mahasiswa disalah satu universitas Jawa Timur. Setiap hari aku datang ke kampus walau tidak ada kelas sekalipun. Aku bekuliah sambil menjajakan donat buatanku pada mahasiswa lainnya. Selama 3 tahun bekuliah aku kurang percaya diri untuk berteman, aku pikir mereka akan malu jika berteman denganku. 

Waktu menunjukan pukul 08.00, aku bergegas berangkat ke kampus setelah semua donat buatanku sudah dikemas rapi. Jarak kampus dengan kost an ku hanya 10 menit jika di tempuh dengan bersepedah.

"Rin, donat kejunya tiga yah" ucap seorang mahasiswi yang berjalan menghampiriku.
"Iya, tunggu sebentar"

Tanganku dengan cekatan memasukkan donat kedalam plastik bening.

"Rin, kelas hari ini cuma sampai jam 10. Ikut yuk kumpul bareng kita karaoke, aku bayarin deh" tawarnya.

"Maaf Tya, aku harus menjual donat jadi tidak bisa ikut" tolakku halus.

"Nanti aku bantu jualin deh sampai habis tapi ikut yah, kita juga pengen akrab sama kamu Rin" paksa Tya.

"Maaf, tidak bisa Tya"

"Ya udah deh, lain kali ikut yah"

"Aku tidak janji" ucapku sungkan.

Lalu kuberikan bungkusan berisi donat itu pada Tya dan mengambil uang darinya, tak lupa juga ucapan terimakasihku padanya.
Setelah Tya pergi, kupandangi anak-anak lain yang sedang tertawa riang, berbagi cerita bersama teman mereka masing-masing. Aku hanya bisa tersenyum miris, sampai saat ini yang bisa ku ajak jalan-jalan dikampus hanya kotak plastik berisi donat ini.

Saat matakuliah hari ini telah selesai, seperti biasa aku duduk di sebuah kursi panjang yang biasa aku tempati untuk berdagang. Cukup banyak yang membeli donat ku hari ini hingga aku bingung dan kualahan.

"Sini biar aku bantu Rin" ucap Tya yang sudah mengambil alih capitan yang mulanya berada ditanganku.

"Tidak usah Tya, aku bisa sendiri"

"Tidak apa-apa kok, hari ini gak boleh nolak okay!" ucapnya.

Aku hanya pasrah karena banyak pelanggan yang sudah antri meminta donatnya. Akhirnya donat danganganku habis, hari ini aku cukup banyak membawa donat dari biasanya. Aku berniat untuk dijajakan di luar kampus juga agar dapat lebih banyak Pemasukan, namun syukurlah sudah habis jadi aku tak perlu lelah berkeliling.

"Terimakasih banyak Tya"

"Tidak apa-apa kalau mau bawalah lebih banyak donat nanti kami bantu menjualnya" ucapnya tulus.

"Tidak, aku kita ingin merepotkanmu. Lagi pula hari ini kamu bukanya mau karaoke?" tanya ku penasaran.

"Tidak, kami tidak akan pergi tanpa mu Rin" ucap segerombolan teman kelas ku yang datang menghampiriku.

"Terimakasih kepada mereka juga yah, mereka sudah bantu promosiin donat kamu bahkan sampai ke dosen-dosen juga" ucap Tya dengan senyum lebarnya.

Aku tak menyangka mereka berbuat seperti itu untuk membantuku. Apa aku terlihat sangat menyedihkan?

"Terimakasih karena membantuku. Tapi lain kali tak perlu repo-"

"Tidak repot Rin, kita berteman. Kita semua ingin seneng-seneng bareng sama kamu Rin, tapi kelihatannya kamu menutup diri. Jika kami salah tolong maafkan kami Rin" ucap Putri yang ikut duduk disebelahku.

Aku terdiam dan menundukkan kepalaku. Aku sangat malu dengan diriku sendiri, mereka sampai merasa bersalah karena aku. Aku terlalu bodoh berpikir mereka akan malu jika memiliki teman seperti ku. Kenyataannya selama ini aku salah mengira bukan mereka yang malu memiliki teman sepertiku, tapi aku sendiri yang kurang percaya diri dengan pekerjaannku. 

"Iya, Rin maafkan kami" ucap Sigit.

"Tidak, aku lah yang harusnya minta maaf. Aku telah berpikir buruk tentang kalian, aku pikir kalian akan malu berteman dengan pedagang donat sepertiku" ucapku sambil menangis.

"Sekalipun kami tak pernah merasa begitu Rin. Kita semua berteman jangan ragu untuk meminta bantuan dan jangan pernah berpikir bahwa kami malu. Kami justru sangat salut padamu Rin, kamu bisa cari uang sendiri sedangkan beberapa dari kami termasuk aku masih mengadakan tangan mengharapkan uang hasil kerja keras orangtua kami" ucap Tya memelukku yang sesenggukan.

"Iya Rin kamu harus lebih percaya diri saat ini, kamu itu hebat" ucap Dewi yang mendekat menepuk punggungku pelan.
Kejadian ini tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku. Aku sangat bersyukur mengetahui teman-temanku sangatlah baik.
Keesokan harinya, seperti biasa aku kembali datang bersama tiga kotak plastik besar berisi donat. Namun, hari ini aku lebih bersemangat datang kekampus. Dengan sumeringah aku duduk di tempat biasa aku berjualan karena kelas akan di mulai pukul 12 nanti.

"Rin!!" sapa Tya yang datang dengan anak-anak lain.

"Kalian kenapa sudah datang?" tanya ku terkejut melihat kedatangan mereka.

"Kita mau bantu kamu lagi Rin hehehe" ucap Ruddy.

"Tolong jangan repot-repot seperti ini, aku jadi tidak enak" ucap ku sungkan.

"Tidak repot Rin, lihat aku sudah buat brosur untuk donat buatanmu. Rasanya sangat enak, kadang banyak yang sampai tidak kebagian " ucap Sigit.

"Jadi, kami pikir akan lebih baik jika kamu memperbolehkan pembelian donat mu ini melalui pesanan. Jika ada yang pesan hari ini besok kamu bisa mengantar ke kelas mereka tau mengambilnya sendiri disini, bagaimana?" lanjut Ruddy.

"Nanti kita bantu kok tenang saja" ucap Tya.

"Terimakasih banyak semuanya" ucapku senang.

Berkat mereka aku semakin percaya diri berteman dengan siapapun. Ternyata pikiran burukku selama ini hanya akan menghambat diriku untuk dapat berkembang. Aku harap semua orang juga dapat memiliki teman sebaik mereka.
By. Ervina Putri Dwi Magfiroh 

No comments:

Post a Comment