Dampak Buruk Illegal Logging Terhadap Kawasan Hutan di Indonesia - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 14 July 2021

Dampak Buruk Illegal Logging Terhadap Kawasan Hutan di Indonesia

Penulis: M. I'anur Rofi'

Editor: Riza Evi Mahendri

Sumber: Pixabay

Penebangan hutan ilegal atau biasa disebut illegal logging merupakan kegiatan penebangan pohon, pengangkutan dan penjualan kayu dihutan yang dilakukan tanpa izin khusus dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 


Kasus penebangan hutan di Indonesia sendiri sering terjadi dan menimbulkan kerusakan hutan secara signifikan. Bank Dunia mencatat sejak tahun 1985 hingga 1997, Indonesia kehilangan lebih dari 1,5 juta hektare dan diperkirakan masih ada 20 juta hutan produksi yang masih tersisa di Indonesia akibat pembalakan liar. 


Hutan produksi sendiri merupakan hutan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik dalam sektor industri, pembangunan, maupun ekspor. Sementara itu, lembaga penelitian Greenpeace mencatat pada tahun 2004 sebanyak 3,8 juta hektare hutan di Indonesia mengalami kerusakan yang sebagian besar dilakukan oleh aktivitas pembalakan hutan liar.


Menurut Badan Penanggulangan Hukum Nasional (BPHN), pembalakan hutan liar memberikan dampak negatif terhadap kelestarian dan kehancuran ekosistem di Indonesia.


Dampak nya ialah, lokasi yang dijadikan pembalakan hutan liar akan rawan dilanda banjir dan tanah longsor. Selain itu, kualitas air akan menurun bahkan sejumlah mata air akan hilang, karena pohon yang menjadi tempat penyimpanan air akan habis dan mengakibatkan masyarakat kekurangan air bersih.


Kesuburan lapisan tanah pun akan berkurang, hal ini dikarenakan lapisan tanah yang subur akan terbawa arus banjir. musnahnya ekosistem flora dan fauna pun menjadi salah satu dampak yang sangat disayangkan karena habitat mereka habis di babat.


Aktivitas pembalakan hutan liar juga memberikan kerugian baik dari segi materil maupun dari segi immateriil dalam berbagai sektor, diantaranya seperti: erosi, timbulnya konflik masyarakat, devaluasi harga kayu, berkurangnya pendapatan negara dari sektor kehutanan.


Selain itu, dampak paling kompleks yang bisa kita rasakan adalah global warming yang bisa mengancam dunia. Seperti dikutip dari situs berita lingkungan Mongabay, kasus illegal logging justru meningkat di masa pandemi covid-19. Sepanjang tahun 2020, ada 9 kasus pembalakan hutan liar yang menimbulkan kerusakan hutan, telah di proses secara hukum. 


Para pelaku pembalakan hutan liar biasanya berafiliasi dengan para jaringan pelaku lain, mereka memanfaatkan momentum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena situasi dinilai relatif aman.


Modusnya, pelaku beraksi dengan cara menggunakan chain saw atau gergaji mesin dan menggunakan motor roda dua yang telah dimodifikasi sedemikian rupa, mereka melancarkan aksinya tersebut pada malam hari. Batang kayu yang ditebang kemudian dikumpulkan ke tempat tertentu atau langsung dikirim ke tempat pengolahan dan pengrajin kayu.


Pembalakan liar di hutan menimbulkan anomali atau penyimpangan ekosistem pada sektor kehutanan, situasi terburuknya adalah ancaman proses deindustrialisasi di sektor kehutanan. 


Hal ini berarti sektor kehutanan yang memiliki konsep ekologi atau hubungan timbal balik antar makhluk hidup yang berkelanjutan dan memiliki sumber daya alam yang bersifat terbarukan, menjadi terbatas karena adanya pembalakan liar tersebut. 


Berdasarkan dampak dan kasus pembalakan hutan liar yang marak terjadi, justru peran penegak hukum semakin senyap dan luput dari pantauan media. Publik pun tidak mengetahui bagaimana akhir dari proses hukum yang terjadi, karena media hanya ramai memberitakan kasus pembalakan liar pada tahap awal saja.


Sebagai contoh ketika media memberitakan Petugas Balai Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi yang menangkap pelaku, kemudian memproses dan menyerahkan lagi ke kepolisian. Proses hukum berjalan senyap tanpa adanya transparansi, sehingga masyarakat hanya mengetahui proses awalnya saja tanpa mengetahui keputusan akhir.


Hal inilah yang menimbulkan kecurigaan publik dan menilai bahwa proses hukum kasus pembalakan hutan liar dilakukan dengan tidak tegas dan tidak memberikan efek jera.

No comments:

Post a Comment