Pohon Dunia Paralel - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 8 July 2021

Pohon Dunia Paralel

Penulis = Mareta Dewani Ramadhanty

Editor : Fika

Sumber : Pinterest

Jika saja semua manusia bisa membuka pikirannya lebih liar dan bebas, maka besar kemungkinan bagi mereka menemukan keajaiban tersembunyi dari dunia. Bukannya merusak dan menghancurkan seluruh kekayaan alam dan keindahannya hanya untuk kesenangan sementara. Inilah kisahku, seorang gadis kecil yang hidup dari keluarga penuh imajinasi. Namaku Carla, ayahku seorang penulis dan ibuku seorang pelukis. Kami sering berpindah tempat, hidup nomaden kalau membutuhkan suasana baru. Awalnya menyenangkan, bisa mengenal tempat baru, bertemu orang baru, dan merasakan alam baru. Tetapi, semakin bertumbuhnya aku, menjadi sangat membosankan dan menjengkelkan. Aku ingin seperti remaja lainnya yang memiliki seorang sahabat, berpesta atau keluar malam hari untuk sekedar berkendara malam sambil mendengarkan musik. Namun rasanya hal itu tidak berlaku dengan kepribadian dan pikiranku.


Aku bukanlah orang yang terlalu suka bergaul, atau lebih dikenal dengan introvert. Bukan berarti aku tidak memiliki teman sama sekali, hanya saja aku selalu berpindah tempat dalam jangka waktu singkat. Aneh rasanya kalau aku punya teman yang kenal lama, jadi setiap pindah sekolah aku berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan seseorang agar saat pindah lagi aku tidak terlalu berat meninggalkan teman dan merindukan mereka. Tetapi, untuk kali ini ayah dan mama berkata lain, mereka bilang kita akan menetap di tempat baru ini dalam jangka waktu yang cukup lama. Kata mereka kurang lebih selama 3 tahun, itu berarti aku akan menghabiskan masa smp di satu sekolah. 


Akhirnya kami sampai di rumah baru, tempat yang hampir sama dengan sebelumnya. Letaknya di pedalaman, dekat hutan dan danau, penuh pepohonan rindang serta bau tanah yang begitu melekat. Tempat yang cocok untuk berkhayal dan menciptakan sebuah cerita lewat gambar dan tulisan. Entah kenapa, aku memiliki firasat kalau tempat ini akan berbeda dari yang sebelumnya. Bukan karena aku akan bersekolah dengan waktu cukup lama, melainkan sebuah perasaan yang mengisyaratkan adanya keajaiban disini. Setelah turun dari mobil, aku tidak langsung masuk ke rumah dan beres-beres, aku ingin melihat sekitar rumah. 


“Yah,ma... aku ingin berlari mengelilingi lorong kerajaan boleh?” tanyaku pada mama dan ayah.


“Tentu saja, putri. Temukan keajaiban dalam kerajaanmu ini,” jawab ayah.


Aku dan orangtuaku berbicara menggunakan bahasa kami sendiri, ayahku seorang raja, mamaku seorang ratu, dan tentunya aku seorang putri kerajaan. Rumah kami isyaratkan seperti kerajaan, sedangkan aku ingin berlari mengelilingi lorong kerajaan itu artinya aku ingin berkeliling sekitar rumah. Aku berjalan melalui jalan setapak yang dikelilingi pohon rindang dan tinggi, semakin jauh ku melangkah, aku semakin merasa ada sesuatu yang memanggilku. Perasaanku tidak pernah salah, aku mempercayai ikatan batinku dengan alam, aku mengikutinya. Sudah jauh aku pergi memasuki hutan ini dan berhenti di depan pohon yang lebih besar dari lainnya. Lebih rindang dan tinggi dari pohon di sekitar, aku melihat ke atas, tingginya melebihi awan. 


Pohon ini dililit oleh akar yang seolah menjadi panjatan untuk naik keatas. Aku merasa kalau pohon inilah yang memanggilku dari tadi, lalu aku memegangnya. *boom... ledakan aneh yang tidak bisa dijelaskan melalui matematika, fisika, atau kata, muncul dalam pikiranku. Seperti sebuah kilatan memori yang aku sendiri tidak mengerti, banyak cahaya dan energi yang aku lihat dalam ledakan itu. Aku melepas tanganku dari pohon, memang aku suka mengkhayal saat sendiri, tapi kali ini begitu nyata dan aku tau itu. Aku menghela napas, mencoba tenang, dan kembali memegangnya. Kedua kalinya, aku tidak merasakan ledakan, hanya seperti perasaan melayang dan terbang bebas. Aku memanjat pohon itu melalu akar-akarnya, hingga tidak terasa aku sudah sampai pada cabang batang pertama yang tingginya sudah 5 meter dari tanah.


Aku kelelahan, lalu tertidur di atas cabang batang itu. Rasanya nyaman sekali, pikiranku seperti kosong dan terbuka tak terbatas. Saat tidur, aku merasakan jiwaku menghilang perlahan, berenang di ruang hampa penuh warna seperti aurora, melayang bebas sampai aku terjatuh di atas padang rumput yang luas. “Aw, sshhh... aduh kepalaku,” sambil memegang kepala mengecek apa ada luka atau darah yang keluar. Aku melihat sekitar, bertanya-tanya sedang dimana,”Wow... luar biasa, dimana aku? Kenapa aku bisa terjatuh di tempat yang tidak aku kenal namun seperti rumah yang begitu nyaman?”


Aku melangkah mencari tau tempat ini, saat di ujung jalan, aku melihat lautan luas dan sebuah istana perak berdiri di pinggiran laut. Dari belakang tiba-tiba ada yang menggandeng tanganku dan membawaku lari menuju istana itu,“Hei... kamu siapa? Kamu mau membawaku kemana?” tanyaku padanya. Kemudian aku melepaskan tanganku dan dia berhenti berlari, aku hanya menatapnya dari belakang dan dia berbalik,”Kamu... seekor kelinci? Kenapa kamu sangat besar? Oh... apa kamu datang dari dunia film Rise of the Guardian, yang seorang kelinci paskah?” tanyaku seperti orang bodoh. 


“Kelinci paskah? Kamu kira disini akan ada santa claus? Yang benar saja, ini masih abad pertengahan, jadi belum mengenal santa atau hari natal,” dia berbicara seperti seorang manusia, dia juga berdiri tegak dengan kakinya. Aku hanya terdiam keheranan saat mendengarnya berbicara. “Halo... kenapa hanya diam? Belum pernah bertemu dengan kelinci?” tanya Mino kepadaku. Nama kelinci itu Mino, dia adalah mesin waktu yang hidup, atau lebih mudah disebut dengan penjelajah waktu. Mino yang membawaku kesini melalui pohon itu, katanya aku adalah orang yang terpilih. Aku tidak paham dengan ucapannya, setelah kami berkenalan cukup lama disana, dia membawaku lagi menuju ke istana. Kembali aku terdiam dibuat takjub dengan kemegahan istana itu, warna penah yang mengkilat berkilauan saat terkena cahaya, air di bawah jembatan masuk yang begitu jernih hingga ikan yang berenang seperti melayang di udara.


Mino menarikku masuk kesana, aku sedikit heran,”Hei Mino, kenapa kamu membawaku kesini? Aku bukan seorang raja atau ratu, bahkan aku hanya gadis kecil,” tanyaku lagi pada Mino sambil kami berlari. “Sshhttt... diam saja, nanti kamu juga tau jawabannya,” kata Mino. Aku diam dan hanya mengikutinya, lorong yang berbelok-belok membuatku pusing karena begitu banyaknya. Tidak lama, kami berhenti di depan pigura besar, disana ternyata ada gambar ayah, mama dan aku yang memakai baju kerajaan. Aku bertanya pada Mino,”Mino... kenapa ada keluargaku? Apa maksudnya?”. Mino hanya tersenyum, kemudian ia menjawab,”Kamulah keturunan dari raja dan ratu yang sebenarnya, kamulah yang akan membebaskan kami”.


“Membebaskan? kamu salah orang Mino, aku hanya gadis kecil biasa yang tidak memiliki kekuatan super atau semacamnya. Bahkan aku tidak ada istimewanya sama sekali,” bantahku masih tak percaya.


“Kamu hanya belum mengetahui dan memahaminya Carla... percaya denganku, aku sudah melihatnya di masa depan, kamu orang yang tepat,” jawab Mino dengan mencoba membuatku percaya.


Aku semakin tidak percaya dengan semuanya, aku merasa ini hanyalah mimpi dari imajinasiku sendiri. Aku berlari keluar istana, di belakangku ada Mino yang mengejar. “Carla tunggu... biarkan aku menjelaskannya,” teriak Mino. Kemudian aku berhenti, tepat di depan jembatan setelah aku melewatinya. Mino terengah-engah napasnya setelah mengejarku, lalu aku bertanya,”Mino, aku disini sudah berapa lama?”.


Mino melihat jam di tangannya, ia menjawab,“Sepertinya sudah 6 jam tepat saat kamu terjatuh tadi”. 


“Astaga... aku sudah terlambat jam makan malam, pasti mereka mencariku saat ini, aku harus kembali pulang, aku harus kembali ke tempat awal tadi,” ucapku tergesa-gesa.


“Tunggu, kamu tidak usah khawatir. Perbedaan jam disini jauh lebih cepat dari dunia nyata, atau duniamu,” kata Mino.


“Maksudnya?” aku bertanya keheranan, tidak paham dengan ucapan Mino.


“Jika kamu berada disini selama 1 jam, maka waktu didunia nyata atau duniamu hanya menghabiskan waktu 1 jam,” jawab Mino.


Aku menanggapinya sebagai khayalan saja, kemudian aku menghiraukan ucapan Mino dan kembali berlari. Mino masih mengejarku, ia pun berteriak kepadaku,”Carla, tunggu... jangan kembali dulu... kamu hanya pergi selama 6 menit dalam duniamu, aku ingin...” sebelum Mino menyelesaikan kalimatnya, aku terjatuh dan seketika kembali ke duniaku, aku terbangun dari tidurku di atas pohon itu. Aku terdiam sebentar dan mencoba memahami apa yang telah terjadi, kuperhatikan cuaca masih cerah, namun rasanya aku sudah tidur cukup lama. Aku segera turun dan berlari pulang, terlihat kedua orang tuaku masih menurunkan barang dari mobil. Aku berjalan ke arah mereka dengan wajah kebingungan.


“Wahai putri, lorong mana yang kamu kelilingi? Kenapa begitu cepat?” tanya ayahku.


“Ayah... bukannya ini sudah waktu makan malam? Kenapa masih menurunkan barang dari mobil?” aku bertanya keheranan.


“Nak... kita baru saja sampai... kamu juga pergi baru sekitar 5 menit, tumben sekali. Apa apa?” ibuku bertanya kebingungan.


Wajahku terbelalak, aku terdiam layaknya orang linglung,”ayah, mama, aku tadi mengalami kejadian yang luar biasa. Aku seperti terbawa ke dimensi lain, bahkan ke dunia lain”. 


“Apa yang terjadi? Kamu tadi dari mana? Coba ceritakan,”ayahku menjawab tenang.


“Tadi aku melihat pohon besar, sangat besar hingga menembus awan, aku memanjatnya lalu tidur diatasnya. Tiba-tiba jiwaku melayang ke alam imajinasiku, aku mimpi namun seperti nyata. Aku pergi ke instana bersama Mino, seekor kelinci yang bisa berbicara...” sebelum aku menyelesaikan cerita, mama menyelaku,”Tunggu.. keliinci bernama Mino? Apa ia memakai topi dan kacamata?”


“Mama kok tau... dari mama bisa mengetahuinya?” jawabku penuh tanya.


“Kamu lanjutkan dulu ceritamu, mama ingin tahu.”


“Oke, aku ke istana bersama mino, lalu ada pigura dengan foto keluarga kita berpakaian bangsawan, dan Mino bilang aku penerusnya,” lanjutku bercerita.


Mama dan ayah saling menatap, lalu mereka tersenyum, dan berkata,”Nak... kamu sudah menemukannya”. 


“Menemukan apa? Ada apa sih ma?” Aku begitu penasaran, semuanya penuh tanda tanya. Kemudian, mama menarik tanganku, ia membawaku ke ruang bawah tanah. Dan sekali lagi, aku kembali dibuat terdiam heran dan takjub dengan apa yang mama tunjukkan kepadaku. Disanalah, keajaiban benar-benar terjadi, dan petualangan baru akan segera dimulai. 

No comments:

Post a Comment