Tindakan Kriminalisasi Saat Aksi Bukti Turunnya Nilai Demokarasi - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 3 July 2021

Tindakan Kriminalisasi Saat Aksi Bukti Turunnya Nilai Demokarasi

Penulis : Ida Rahma

Editor : Uma Ageng Pathu Prayoga


Sumber : Instagram


Araaita.net- (2/7) Asfinawati mengungkapkan bahwa keadaan demokrasi di Negara ini telah menurun. Hal itu dibuktikan dengan adanya fakta di lapangan bahwa diberbagai peristiwa aksi diwarnai tindakan kriminalisasi, penangkapan secara keji, dan intimidasi.


"Berbagai indek demokrasi di Indonesia turun terus menerus. Jika kita lihat data akhir-akhir ini mulai dari tahun 2015 adanya aksi PP pengupahan oleh serikat buruh yang di kriminalisasi, kemudian aksi May day 2019 sekelompok orang ditangkapi secara keji dan mengalami kekerasan,” tambah perempuan berkacamata tersebut.


Asfin juga menegaskan bahwa dari satu indikator tersebut menandakan aksi demonstrasi sudah berubah menjadi sesuatu yang dilarang.


“Artinya terjadinya larangan demonstrasi menandakan bahwa kondisi demokrasi saat ini sudah seperi orde baru,” ujar ketua YLBHI tersebut.


Selaras dengan Asfinawati, Wahyu mengatakan jika hari ini telah terjadi banyak kriminalisasi di ruang publik seperti yang terjadi pada mahasiswa dan masyarakat sipil. Selain itu lembaga bantuan hukum juga tak luput dari sasaran kriminalisasi.


Selain itu Wahyu Juga menilai bahwa sikap pemerintah saat ini menunjukan bahwa ketika elemen masyarakat melakuka sebuah perlawananan seperti aksi demonstrasi, kriminalisasi, dan pembungkaman akan menemui mereka.


"Pihak pemerintah Joko Widodo sendiri sudah menyatakan sikap terus terang, bahwasannya hari ini mahasiswa, buruh, pemuda, masyarakat sipil tidak usah macam-macam karena kalau kalian mecam-macam, pembungkaman sudah nyata" ungkap Koordinator pusat BEM SI tersebut.

Potret narasumber saat diskusi dalam acara Kampus Merdeka : "Kritis kok gak boleh?" Pada Kamis (1/7)

Membahas tentang keadaan kampus saat ini Herlambang mengungkapkan bahwa organ-organ kekuasan termasuk organ represi kerap kali ditemui dalam dunia kampus, penyebabnya yaitu adanya relasi kekuasaan yang bekerja. 


"Dunia kampus memang tidak pernah steril dari kendali kekuasaan, karena berelasi dengan produksi pengetahuan," tambahnya.


Lelaki tersebut juga menegaskan bahwa seharusnya kampus akan tetap menjaga integeritas kebebasan akademik agar tidak terlibat dalam konflik kepentingan yang terjadi dengan kekuasaan.


Sebelunya ketiga orang tersebut menyampaikan hal tersebut diacara diskusi yang digelar oleh digelar Non Government Organitation (NGO) Nalar dan Bersihkan Indonesia yang bertajuk "Kampus Merdeka : Kritis Kok Gak Boleh?" via zoom pada Kamis (1/7).


Dalam diskusi kali ini menghadirkan Herlambang Wiratraman sebagai Akademisi Universitas Airlangga (UNAIR), Asfinawati sebagai ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Wahyu Suryono Pratama sebagai Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia (SI) sebagai pembicara dan Roy Murtadho sebagai moderator. 

No comments:

Post a Comment