Dema FDK Disemprot Influencer, Mahasiswa Mediocre Speak up - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 16 September 2021

Dema FDK Disemprot Influencer, Mahasiswa Mediocre Speak up

An Open Statement


(Tangkap layar insta story akun @andreaslucivan)

Salam kenal, Saya Naufal Yahya. Mahasiswa biasa-biasa saja di FDK-UINSA, tidak mengikuti organisasi HMP apalagi DEMA, jadi intinya saya merupakan mahasiswa mediocre yang ingin menyampaikan pendapat saja. Semoga yang saya sampaikan dapat menjadi kritik konstruktif yang membangun dan tidak dianggap menyerang membabi buta.

Saya menggunakan system thinking untuk menganalisa kasus ini. Intinya dari case ini kurang lebih ada tiga hal. Hal ini juga saya kutip dari pernyataan teman satu jurusan saya, tiga hal tersebut adalah:

a. Liaison Officel (LO) yang cara berkomunikasinya kurang tepat, intinya kompetensi SDM Panitia kurang.

b. Budgeting dan Komunikasi Internal Panitia, dalam kasus ini dapat kita ketahui bersama.

c. Apes. Iya apes, bertemu dengan talent yang hobi “curhat” di media, tenang saja, ini hal yang wajar.


Poin pertama, ini paling penting. Betul ungkapan Mas Andreas, kita adalah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, tetapi cara berkomunikasinya kok masih acakadul? Berarti perlu dipertanyakan kompetensi panitia tersebut, terlebih panitia LO nya. Dan setelah saya telisik lebih lanjut, dalam case ini terdapat tiga pihak yang “dighosting” oleh panitia termasuk Mas Andreasnya sendiri.


Apakah perlu diaudit atau bahkan direstrukturisasi? Atau ada problem dalam departemen human resourcenya? Komunikasi adalah hal paling mendasar, jika dirasa basic skill seperti itu, bagaimana dengan managing atau soft skill yang lain? Belum lagi panitia tidak sepenuhnya faham terkait ToR (Terms of Reference) atau MoU (Momerandum of Understanding), MoU itu sangat penting apalagi untuk persoalan pembayaran (termasuk  dapat dicicil atau tidak, dan hal lain). 


Budaya kita memang budaya yang hobinya “ngikutin” saja, jika mendapati ToR tahun lalu, digunakan dan direvisi sedikit tanpa ditelaah kembali.  Hal tersebut  menjadi pertanyaan besar bagi saya, termasuk beberapa mahasiswa FDK lainnya. Jadi saya selaku mahasiswa mediocre, menyarankan untuk kedepannya pihak panitia yang bersangkutan atau lembaga organisasinya untuk melakukan pelatihan atau whatever it takes untuk menaikkan kompetensi SDM-nya.


Kedua, masalah budgeting dan (lagi-lagi) komunikasi. Tetapi komunikasinya intra organisasi. Singkatnya—jikalau memang  tidak memiliki banyak dana, kenapa harus mengundang narasumber pihak luar yang  pastinya memperlukan banyak biaya? Oh iya ini saran dan sekaligus pertanyaan dari saya. Pernah atau tidak pihak panitia, siapa pun, baik itu Prodi, DEMA, bahkan Universitas sekalipun, menggandeng pihak lain baik individu ataupun kelompok untuk dijadikan semacam Badan Kuratorial menentukan siapa pengisi acara tersebut? Sebagai analogi saja, seumpama ada acara gigs di kampus, Diesnatnya prodi X ingin mengundang musisi, pernah atau tidak menggandeng Radio Kampus yang secara kapabilitas lebih mengerti statistik soal musik apa yang lagi naik daun saat itu?


Dalam kasus ini, kenapa tidak mencoba menggandeng komunitas videografer kampus/DakwahTV sekalipun untuk mencari tau kiranya siapa videografer yang kompeten & kredibel yang dapat dijadikan narasumber, tentunya mereka akan mengerti “Oh ini videografer X followers sekian tapi orangnya ga pelit ilmu, otomatis dari feenya tidak begitu besar karena trafficnya dan valuenya masih kecil”_ kan bisa seperti itu? Kembali lagi, soal komunikasi intra organisasi, ini kembali ke poin pertama soal kualitas SDM. Jadi kembali lagi, silahkan panitia Dema dan seluruh anggotanya ditingkatkan kualitas dan kompetensinya. Saya harap panitia serta anggotanya tidak sekedar mencari kursi, ya. Iya tau kampus adalah  miniatur negara, tapi politiknya jangan, ya.


Poin ketiga, jujur saja, saya rasa tidak cuma  panitia Dema FDK saja yang  pernah membuat kesalahan pemutusan sepihak seperti kasus ini. Saya yakin temen-temen panitia lain dari prodi atau apapun itu juga pernah mengalami hal yang sama, beruntungnya tidak ke blow-up saja, tidak mendapat INFLUENCER GARIS MIRING SELEB GARIS MIRING KREATOR yang hobi curhat. 


Buat panitia DEMA, tenang saja, dunia perkuliahan adalah wadah untuk belajar, wajar saja membuat suatu kesalahan atau kepleset. Statement dari pihak seleb/videografer juga tidak dewasa dan  profesional, terlihat dari dia yang nyerang instansi pendidikan (UINSA dalam case ini), padahal yang bermasalah cuma pihak panitia penyelenggara aja (panitia di atas), yang harusnya dapat dimediasi dengan lebih dewasa, tanpa perlu blow-up (balik lagi perlu adanya MoU tadi agar jika terjadi masalah tidak perlu sampai dipublikasi). Tentu ini  berdampak kepada  pihak penyelenggara lain apalagi FDK yang akan ngundang pihak luar. 


Saran saya, next time jika ingin mengadakan acara dan mengundang narasumber dari luar dapat kiranya membuat riset kecil-kecilan untuk menentukan narasumber, selain itu MoU juga harus dipahami agar jika mendapati masalah dapat mediasi langsung, dan terakhir sabar saja, kebetulan kalian bertemu narasumber yang lumayan sumbu pendek.


Semoga tulisan saya dapat dipahami dan  jika berkenan pihak panitia yang bersangkutan dapat menjadikan bahan evaluasi serta refleksi. Dan mohon maaf jika saya mahasiswa yang biasa-biasa saja ini banyak cakap dan mohon maaf jika tidak berkenan dengan tulisan ini. Hakikatnya saya adalah mahasiswa UIN, mahasiswa FDK, tentunya saya juga ingin nama baik kita kembali dan dapat berkontribusi kembali. Wassalam.


Foto diri penulis

Penulis: Naufal Yahya

Editor: Yoga


No comments:

Post a Comment